Aborsi Marak Akibat Sistem Sekulerisme Kapitalisme

Jum'at 13 September 2024

Oleh : Siti Rukayah

Akhir-akhir ini ramai dikabarkan terkait sepasang kekasih ditangkap karena melakukan aborsi di Pegadungan di Kalideres. Sepasang kekasih tersebut berinisial DKZ (23) dan RR (28), dan diduga DKZ telah mengandung delapan bulan.

"Ttersangka DKZ sudah hamil sejak bulan Januari. Akhirnya sepakat dengan pacarnya untuk gugurkan kandungan," ujar Kapolsek Kalideres Kompol Abdul Jabar saat diwawancarai pada Jum’at (30/8/2024).

Jana menjabarkan bahwa DKZ dan RR tinggal bersama di sebuah rumah Kos di Pegadungan. Pelaku laki-laki melakukan perselingkuhan, karena diduga RR berhubungan gelap dengna DKZ disaat masih memiliki istri.

Di sisi lain bersamaan itu, kabar tidak mengenakkan yang menimpa Nikita Mirzani, sebab anak gadisnya Laura Meizani Nasseru Asry atau yang akrab disapa dengan nama Lolly dikabarkan telah hamil di luar nikah dan juga melakukan aborsi.

Selain itu didapati juga sebelumnya bahwa hubungan Nikita dengan Lolly disebut kurang baik sejak anaknya memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya di luar negeri dengan kabur dari asramanya. Kasus yang serupa pun terjadi di Palangka Raya.

Kasus aborsi tersebut terungkap oleh Satreskim Paolresta, Palangka Raya. Kasus tersebut dilakukan oleh mahasiswa berinisial MS (22) bersama dengan mahasiswa berinisial KAD (21) tahun di kota Palangka Raya.

Tersangka MS mengaku telah melakukan aborsi karena tidak ingin kehamilannya diketahui oleh orang lain. Aborsi yang marak dilakukan tak ayalnya merupakan dampak dari adanya pergaulan bebas.

Terdapat banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi, salah satu diantaranya adalah rusaknya tata pergaulan. Pergaulan yang dari hari ke hari yang semakin bebas hingga melampaui batas, sehingga hasilnya banyak dijumpai kasus hamil di luar nikah.

Dan hal tersebut terfasilitasi dengan kebijakan dari negara. Selain daripada itu, sistem Pendidikan saat ini seakan-akan gagal dalam mencetak generasi berakhlak mulia.

Sehingga pemuda saat ini lebih condong pada liberalisme budaya Barat yang dijadikan sebagai kiblat atau poros. Ditambah lagi dengan sistem sanksi yang tidak menjerakan serta maraknya tayangan yang menjerumuskan yang masih beredar bebas sehingga mudah diakses oleh siapapun.

Dan tentunya akar dari seluruh permasalahan tersebut adalah tidak lain disebabkan adanya penerapan sistem kapitalisme sekulerisme dalam kehidupan.

Sedangkan di dalam kehidupan yang menerapkan sistem Islam, maka pergaulan bebeas/zina dan aborsi merupakan tindakan yang diharamkan.

Negara tidak akan memberikan akses bahkan akan menutup segala celah dengan rapat-rapat melalui berbagai aspek.

Aspek yang dimaksud adalah diantaranya terkait penerapan sistem pergaulan Islam, kurikulum yang diterapkan berbasis akidah Islam, sanksi yang ditetapkan mampu memberikan efek jera, dan tentunya media yang disediakan oleh negara akan ditata sebagai sumber yang akan menginformasikan seputar kebaikan dan ketakwaan.

Selain itu, Islam memiliki tiga pilar (Iman, Islam, dan Ihsan) yang akan menjaga umat tetap dalam kebaikan dan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.

Tentunya kondisi ideal tersebut hanya bisa terealisasikan jika kembali kepada Islam yang dijadikan satu-satunya poros dan patokan dalam menjadi kehidupan, baik dalam beribadah hingga ke ranah bernegara. (Wallahu a’lam bisshowab)