Jumat 13 September 2024
Oleh: Ririn Indani
(Aktivis Muslimah Samarinda)
Sering terdengar individu yang baik, berasal dari keluarga yang baik. Tapi faktanya kondisi hari ini, baik saja tidak cukup untuk menjadikan individu tersebut berguna bagi masyarakat dan negara, karena buramnya standar baik dan buruk yang berlaku ditengah- tengah masyarakat.
Setiap individu menginginkan keluarga yang harmonis, tetapi maraknya kasus yang terjadi dalam sebuah keluarga justru semakin meresahkan.
Seorang ayah sebagai kepala rumah tangga, ibu sebagai pengatur rumah tangga dan anak yang seharusnya berbakti kepada orangtua, justru saling menyakiti satu sama lain bahkan sampai pada merenggut nyawa.
Rasa saling menyayangi, menjaga dan melindungi dalam satu keluarga telah hilang dalam tiap diri individu. Penerapan sistem sekuler kapitalisme membuat hubungan keluarga kalah dengan materi dan rasa emosi.
Seperti kasus yang terjadi di Jl Sepakat RT 46 Kelurahan Baru Tengah, Kecamatan Balikpapan Barat, Jumat (23/08/2024), dimana seorang ibu berinisial Hj RK meninggal secara tragis dibunuh oleh anak kandungannya berinisial AR.
Tidak hanya itu, seorang anak berinisial K (22) warga Desa Kasungengan Kidul Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon, dengan tega menghabisi nyawa ayah kandungnya, yaitu Jana (52) dan melukai K adik perempuannya.
Dari dua kasus yang terjadi diatas pelaku membunuh pada kondisi mental yang bermasalah dengan kondisi ekonomi keluarga yang buruk. Ini bukti gagalnya sistem yang diterapkan hari ini, baik dari sisi sistem pendidikan, sistem ekonomi serta sanksi kejahatan yang tidak tegas.
Berulang terjadi, mirisnya sebagai masyarakat tidak memahami persoalan secara mendasar dalam menyelesaikan permasalahan ini.
Akibatnya tidak memahami realita yang sedang terjadi dan hanya menyalahkan individu, masyarakat tidak paham bahwa negara seharusnya hadir sebagai raa’in.
Negara hari ini hanya fokus pada solusi sementara atas permasalahan masyarakat yang banyak, dan justru menutupi kondisi yang rusak. Inilah wajah buruk sistem sekuler kapitalisme yang telah menghilangkan peran dan fungsi negara.
Negara seharusnya berperan dalam menghilangkan penyebab yang merusakan hubungan antara anggota kelurga.
Tapi justru sibuk dengan penerapan undang- undangan yang semakin menyulitkan kondisi ekonomi keluarga, seperti UU Cipta Kerja. Yang mana ekonomi menjadi salah satu penyebab dari maraknya kasus yang terjadi dalam keluarga.
Ditambah dari sisi sistem pendidikan yang diterapkan hari ini tidak berasaskan pada keimanan dan hanya fokus menghasilkan individu siap kerja untuk memenuhi kebutuhan para korporat kapitalis.
Sehingga para pelajar dan pemuda teralihkan dengan tujuan pendidikannya yaitu berguna untuk menyelesaikan permasalah umat secara praktis dan menjadi anak yang sholih. Penerapan sistem sekuler kapitalisme telah membuat individu, keluarga, masyarakat jauh dari fitrahnya.
Karenanya, semua lapisan masyarakat haruslah bergerak melawan kedzaliman atau kesewenangan yang telah mengakibatkan kerusakan di segala bidang hingga rakyat menjadi korbannya.
Namun masyarakat haruslah bergerak dengan berlandaskan pada pemahaman yang benar atas akar masalah dan solusi yang diterapkan.
Melihat hari ini masih bersandar pada solusi praktis yang sejatinya menjadi penyebab kerusakan masyarakat terus tejadi. Keterlibatan masyarakat untuk membentuk keluarga yang baik dan terjaga sangat dibutuhkan.
Karenanya haruslah dibangun pemahaman akan perubahan secara shahih pada semua kalangan masyarakat yaitu dengan penerapan Islam secara kaffah.
Islam membina masyarakat agar berfikir cemerlang dan juga bersama- sama melakukan amar ma’ruf nahi munkar sebagai upaya untuk mencegah kejahatan yang terjadi dalam keluarga dan masyarakat agar tetap berada dijalan Allah.
Islam juga memiliki sistem pendidikan yang berkualitas, dengan berasaskan keimanan dan akidah akan menjadikan individu pelajar untuk memahami perannya dalam keluarga sehingga hubungan keluarga menjadi harmonis.
Dan dengan penerapan Islam secara kaffah akan mewujudkan maqashid syariah sehingga keluarga, masyarakat negara akan terjaga. Wallahu a’lam bishawab.