Jumat 13 September 2024
Oleh : Perwita Sari, S.Si
Wanita muda usia 20 tahun di Balikpapan mengaku telah mengalami pelecehan seksual oleh oknum dokter pada sabtu (31/8/2024).
Oknum dokter terus mengelak serta bersumpah atas nama tuhan, Sehingga mau tidak mau wanita itupun melaporkan dokter tersebut ke Polresta Balikpapan (Serambinews.com,5/9/2024).
Bukan hamya sekali peristiwa pelecehan terhadap perempuan ini terjadi atas nama kesehatan. Peristiwa pun beragam dan terjadi di seluruh daerah Indonesia. Baik di wilayah Tanggerang, Cipadu, maupun Palembang.
Membuktikan bahwa prilaku pahlawan kesehatan adalah bersifat amoral. Berkedok periksa kesehatan, kemudian diminta untuk membuka baju, hingga dilakukan perabaan yang tidak ada dalam prosuder pemeriksaan kesehatan.
Itulah sifat manusia kadang khilaf mengikuti hawa nafsunya.
Akibatnya akan terjadi kerusakan interaksi sosial yang merugikan salah satu pihak. Termasuk kaum perempuan. Rupanya hingga saat ini kaum perempuan menjadi objek pelecehan.
Bahkan semakin hari semakin tinggi, seperti fenomena gunung es yang terdata lebih sedikit dari yang tidak terdata lebih banyak. Jika kita menyikapi ini sebenarnya apa akar dari permasalahan sehingga kerap terjadi pelecehan terhadap kaum perempuan.
Ternyata jika kita melihat aturan yang mengatur kehidupan kita sehari-hari tidak lagi menggunakan aturan Allah Swt, namun menggunakan aturan buatan manusia.
Sistem Kapitalisme melahirkan tata aturan kehidupan sekuler yang memisahkan antara agama dan kehidupan. Ajaran agama hanya dilakukan di tempat peribadatan, namun aturan kehidupan lainnya baik ekonomi, interaksi sosial, hukum, maupun perpolitikan tidak lagi melibatkan agama sebagai aturan.
Wajar pelecehan kerap terjadi, karena banyak gempuran rangsangan seksual yang beredar di media sosial. Karena sistem demokrasi mempunyai cara pandang permissive serba boleh hingga terjadi pelanggaran terhadap norma-norma agama dalam interaksi sosial.
Ditambah lagi setiap hari kita menyaksikan permasalahan terus bermunculan ibarat rumah yang bocor yang tidak kunjung baik hanya bersifat tambal sulam. Sebab menggunakan bahan yang jelek untuk dijadikan alat menambal atap rumah tersebut.
Begitu pula jika umat Islam tidak menggunakan aturan Islam dalam kehidupannya maka permasalahan kehidupan tidak akan menemukan solusi yang tuntas. Karena solusi yang diberikan Demokrasi adalah solusi yang sementara tidak totalitas menimbulkan kerusakan baru.
Sehingga kita rasakan makin hari tidak semakin berkurang, namun pelecehan terhadap kaum perempuan semakin meningkat. Sehingga perlunya umat menggunakan aturan Islam dalam aturan kehidupan.
Pelecehan dapat dicegah jika umat paham bahwa Islam mengajarkan ketaqwaan kepada Allah Swt sang Khalik pencipta alam semesta, bumi , langit dan manusia.
Taqwa disini menggambarkan bahwa hal-hal yang merusak dan amoral itu tidak akan dilakukan karena dia paham bahwa itu perbuatan yang tidak Allah Swt sukai atau ridho. Jika dia lakukan maka ganjarannya adalah neraka.
Sehingga ketika aturan Islam ini digunakan, maka akan kuat menjaga akidah umat. Umat akan melaksanakan aturan Islam secara totalitas.
Baik ibadah yaitu hubungan manusia dengan Allah Swt, dan menjalankan aturan bernegara baik yang tertulis maupun tidak. Yang semata-mata ketaatan kepada pemimpin negara adalah dalam rangka tuduk dan taat hanya kepada Allah Swt.
Sehingga umat orientasinya tidak mengumbar hawa nafsunya. Rangsangan seksual akan ditutup, dengan mengajarkan agar manusia senantiasa menjaga pandangannya agar tidak mengikuti hawa nafsu syetan.
Islam menganjurkan agar para pemuda-pemudi yang sudah mampu, bertujuan untuk menjaga kesucian mereka diperintahkan untuk segera menikah.
Dengan demikian mereka mampu menjaga dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. Bagi yang sudah melakukan pelecehan seksual maka Islam akan memberikan sanksi sesuai ketentuan hukum sya’ra. Demikianlah Islam menjaga umat, sehingga pelecehan dap at dicegah jika Islam diterapkan dalam kehidupan bernegara. Wallahu’alam bishowab