Sekularisme Mengakibatkan Matinya Naluri Ibu

Sabtu 7 September 2024

Oleh: Hasriyana, S. Pd

(Pemerhati Sosial Asal Konawe)

Kasus pemerkosaan berkedok penyucian jiwa memang semakin edan terjadi di tengah masyarakat. Pasalnya kasus serupa sudah sering terjadi namun hanya sedikit yang tercium oleh media, seperti fenomena gunung es.

Hasriyana

Mirisnya mengapa sampai orang mudah percaya terhadap kedok penyucian diri dengan cara yang justru tidak masuk akal. Sebegitu jauhkah masyarakat dari tuntunan agamanya Islam dalam hal menyucikan diri, sehingga hal-hal yang menjurus kepada kemaksiatan juga dilakukan.

Hal ini sebagaimana yang dikutip dari Kumparan, 01-09-2024, nasib pilu dialami seorang remaja perempuan di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Dia dicabuli kepala sekolahnya berinisial J (41) yang juga seorang PNS.

Mirisnya, pencabulan ini disetujui dan diketahui ibu kandungnya yang juga seorang PNS berinisial E. Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, mengatakan kepala sekolah dan ibu korban telah diamankan polisi.

Kasus ini pertama kali dilaporkan ke polisi pada 26 Agustus lalu. AKP Widiarti mengatakan bahwa pelaku yang merupakan Kepala Sekolah Dasar, diamankan anggota Resmob Polres Sumenep pada hari Kamis tanggal 29 Agustus 2024 sekitar pukul 15.00 WIB, di Rumahnya, Desa Kalianget Timur.

Widiarti menuturkan, kasus ini terungkap saat ayah korban mendapat informasi bahwa anaknya diantarkan ibunya ke rumah kepala sekolah.

Di sana korban dicabuli kepala sekolah. Dia menambahkan, ibu korban menyetujui pencabulan itu dengan alasan untuk ritual penyucian diri. Tak dijelaskan ritual apa yang mereka jalani.

T disuruh melakukan hubungan badan dengan J oleh ibu kandungnya sendiri. Awalnya korban dijemput oleh ibu kandungnya inisial E, selanjutnya korban diantar ke rumah terlapor di Perum BSA Sumenep, dengan alasan akan melaksanakan ritual menyucikan. Kasus di atas sungguh sangat menyesakkan dada.

Bagaimana tidak, ibu yang merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya, ibu pula yang pertama kali mengajarkan anak minum, makan dan lainnya, bahkan mengajarkan anak untuk menutup auratnya.

Namun apa jadinya jika faktanya ibu justru menjadi orang yang pertama menjerumuskan anak pada kemaksiatan berkedok penyucian jiwa. Hal ini justru menggambarkan kepada kita semakin rusak dan matinya naluri ibu.

Pun hal ini karena minimnya pemahaman agama, sehingga keluarga jauh dari aturan agama. Maka tidak heran banyak keluarga muslim hari ini tidak memahami bagaimana sesungguhnya menyucikan diri dalam pandangan Islam dan mereka justru terjerumus pada penyucian jiwa yang sesat.

Di sisi lain, paham pemisahan agama dari kehidupan justru semakin menciptakan masyarakat yang sangat jauh dari aturan Islam. Bahkan dengan pendek akal dan iman yang minim, masyarakat akan mudah terpengaruh pada hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri, meskipun hal itu sudah bertentangan dengan aturan agama dan akal sehat.

Hal ini justru berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam negara wajib menjaga akidah masyarakatnya dengan menanamkan staqofah islam sehingga dengan akidah yang kuat maka masyarakat tidak akan mudah terjerumus dalam kemaksiatan apalagi dibalut dengan kedok penyucian jiwa.

Selain menanamkan staqofah islam kepada masyarakat, negara juga akan menanamkan bagaimana aturan Islam bisa membuat seseorang suci jiwanya.

Tentu hal itu, dapat dilakukan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Karenanya tidak mengherankan mengapa saat ini banyak orang yang jiwanya kotor? Karena aturan yang ditetapkan membuat orang jauh dari penciptanya.

Oleh karena itu, kita tidak bisa berharap banyak pada sistem hari ini yang justru menciptakan masyarakat yang jauh dari aturan pencipta, sehingga mereka jauh dari pemahaman yang benar sesuai aturan-Nya.

Dari itu, sudah selayaknya umat ini kembali pada aturan Allah, karena Dia yang menciptakan manusia, maka Dia pula yang lebih mengetahui mana aturan yang terbaik untuk hambanya. Wallahu a’lam.