Minggu 17 Maret 2024
Oleh : Hadijah Ummu Haya
Aktivis Dakwah
Pemilihan umum ( pemilu) 2024 telah di selenggarakan pada tanggal 14 Februari kemarin, pemilu ini di selenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Di kutip dari laman komisi pemilihan umum yang merujuk pada undang undang nomor 7 tahun 2017, pada pemilu 2024 warga Indonesia akan menggunakan hak pilihnya untuk memilih posisi jabatan politik, yakni: Presiden dan wakil presiden, anggota DPR RI, anggota DPD, anggota DPRD provinsi dan anggota DPRD kabupaten kota Meskipun pemilu ini sudah berlalu, namun masih menyimpan duka bagi para caleg yang tidak berhasil lolos ke tahap selanjutnya, sehingga banyak diantara mereka yang depresi atau stress, karena realita yang terjadi, tidak sesuai yang mereka harapkan.
Jauh sebelum adanya pemilihan umum ini, pemerintah sudah mempersiapkan berbagai fasilitas untuk para caleg yang gagal, diantaranya menyiapkan rumah sakit, khusus untuk mereka yang gagal.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau bersama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, sudah menyiapkan ruang perawatan khusus bagi calon legislatif (Caleg) yang mengalami gangguan kejiwaan akibat gagal dalam pemilu 2024.
Sementara itu Kepala Seksi Asuhan Mutu dan Pelayanan Medis RSUD dr Abdul Rivai dr Eva Aggriana mengatakan, setiap pemilu di laksanakan menjadi prosedur RSUD harus menyiapkan ruang perawatan pasien gangguan jiwa.
"Sudah menjadi protokol kami untuk menyiapkan itu" Ujarnya. Dikatakan saat ini Ruang tulip tersedia 13 kamar rawat inap, satu instalasi gawat darurat. Dengan formasi 13 perawat, 1 dokter umum dan 1 dokter spesialis.
Tak hanya dengan RSUD dr Abdul Rivai saja, menurutnya Dinas Kesehatan Berau juga sudah melakukan koordinasi dan akan melibatkan seluruh pusat Kesehatan masyarakat (puskesmas) yang ada di setiap kecamatan di kabupaten Berau untuk jika ada caleg yang terkena gangguan kejiwaan tersebut. (https://beraupost.jawapos.com)
Banyaknya para caleg yang mengalami gangguan mental, bukan hanya terjadi sekali dua kali, seolah menjadi rutinitas setiap diadakan nya pesta Demokrasi atau pemilu, lalu menyapa itu terus terjadi?
Psikiater sekaligus direktur utama pusat kesehatan jiwa nasional Dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ, banyak pasien yang pernah gagal saat mencalonkan diri sebagai caleg, kemudian terlilit hutang atau kecewa berat hingga depresi dan mengakhiri hidupnya.
Menurutnya tidak sedikit caleg yang mencalonkan diri hanya untuk tujuan kekuasaan ataupun materi dan berujung kekalahan. Dengan tujuan yang baik itu atau benar benar ingin berjuang untuk negeri, menurut Nova, akan memperkecil masalah mental yang di alami.
(Muslimah media Center) Fenomena stress dan gangguan mental, membuktikan bahwa pemilu dalam sistem hari ini, rawan mengakibatkan gangguan mental, kerawanan ini setidaknya di sebabkan oleh dua hal, yakni sistem Demokrasi yang di jadikan sebagai sistem pemerintahan di negeri ini dan faktor individu yang memiliki kepribadian yang lemah.
Berkaitan dengan faktor yang pertama, seperti yang kita ketahui bersama bahwa sistem Demokrasi memiliki mekanisme pemilihan pemimpin yakni dengan cara pemilihan langsung oleh rakyat untuk memilih calon kepala negara dan anggota legislatif secara langsung.
Sebelum model pemilihan langsung pemilihan kepala negara di pilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), DPR sendiri di pilih oleh rakyat dengan mekanisme pemilihan umum, pemilu dalam sistem.
Demokrasi membutuhkan biaya tinggi atau modal besar, pasalnya kontestasi pemilu wajib melakukan kampanye yang tentu membutuhkan biaya yang sangat tinggi, sehingga mereka pasti membutuhkan perjuangan dengan mengerahkan segala macam cara untuk meraih kemenangan.
Menurut bebas lembaga penelitian, modal menjadi caleg cukup variatif. Modal paling besar adalah untuk menjadi anggota DPR RI, berikut rincian biaya para caleg; Caleg DPR RI Rp 1 milliar, Caleg DPR provinsi Rp 500 juta- 1 milliar, Caleg DPRD kabupaten/ kota Rp 250 juta- Rp 300 juta.
Hal inilah yang menjadi pemicu stress bagi para caleg yang tidak berhasil lolos atau gagal dalam pemilu. Apalagi hari ini jabatan adalah sebuah impian bagi sebagian masyarakat karna dianggap dapat menaikkan harga diri, juga jalan untuk mendapatkan materi dan kemudahan atau fasilitas lainnya.
Faktor kedua mudahnya stress bagi para caleg adalah kekuatan mental para caleg yang lemah, padahal kekuatan mental seseorang akan mempengaruhi sikap seseorang terhadap hasil pemilihan, hal ini tentu di pengaruhi oleh sistem pendidikan yang di terapkan di negeri ini, faktanya sistem pendidikan sekularisme kapitalisme telah gagal membentuk kepribadian individu, berkepribadian kuat dan mulia Sistem pendidikan ini memisahkan agama dari kehidupan dalam penyusunan kurikulumnya, akibatnya masyarakat tidak memahami hakikat dirinya sebagai hamba Allah.
Bagaimana menyikapi setiap persoalan kehidupan sesuai dengan syariat islam. Sistem kapitalis sekuler telah gagal membentuk kepribadian dan banyak nya terjadi gangguan mental di tengah-tengah masyarakat.
Berbeda dengan islam, islam memandang kekuasaan dan jabatan adalah amanah dari Allah yang akan di pertanggung jawabkan di akhirat kelak, dan harus di jalankan sesuai ketentuan yang telah di tetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dan Islam adalah agama yang sempurna, mengatur segala lini kehidupan. Islam tidak hanya mengatur urusan sholat, puasa, zakat dan Haji, tapi islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam juga mengatur perekonomian, bernegara, bersosialisasi dan lain sebagainya.
Termasuk juga bagaimana islam mengatur dalam memilih pemimpin. Dan sebagai orang islam, khususnya di Indonesia yang mayoritas penduduk nya muslim, kita tahu bahwa kita wajib berhukum sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, sebagaimana Firman Allah SWT.
Yang artinya: " Wahai orang orang yang beriman, masuklah ke dalam islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah langkah setan, Sungguh iya musuh yang nyata bagimu. (TQS: Al Baqarah ayat 208)
Termasuk memilih pemimpin, wajib mengikuti apa apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Rasulullah juga telah mencontohkan kita, pada saat beliau mengutus salah satu sahabat untuk berdakwah ke Kota Madinah, yakni Mush'ab Bin Umair.
Ia mendapat respon yang luar biasa dari penduduk Madinah, terutama para pemimpin suku Aus dan Khosroj yang memberikan sambutan yang luar biasa terhadap dakwah Islam ini, maka terjadilah peristiwa bai'at Aqobah satu dan dua, yang kemudian berlanjut dengan di angkat nya baginda Rasulullah SAW.
Sebagai pemimpin di Madinah. Pada waktu itu Madinah dalam kondisi penduduk yang heterogen, jadi tidak semua muslim pada saat itu. Tetapi beliau di angkat menjadi pemimpin dan mulailah ketika beliau ada di Madinah terlaksana hukum syariat secara kaffah, mengatur seluruh aspek kehidupan dengan posisi Baginda Rasulullah SAW.
Yang di angkat sebagai pemimpin oleh penduduk Madinah bersama dengan kaum Muhajirin. Itulah gambaran kepemimpinan yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Wallahu a'lam bisshowab