Miris, Demi Viral Bertindak Bengis

Minggu 14 MEI 2023

Oleh: Jelvina Rizka

(Mahasiswa USN Kolaka)

Menurut laporan Business of Apss, hingga tahun 2021 tercatat pengguna TikTok di seluruh dunia didominasi oleh kelompok usia 20-29 tahun dengan proporsi mencapai 35%.

Jelvina Riska

Kemudian pengguna dari kelompok usia 10-19 tahun berada diurutan kedua dengan proporsi 28% secara global.

Hingga Januari 2023 We Are Social And Hootsuite melaporkan aplikasi video pendek ini memiliki 1.05 miliar pengguna di seluruh dunia, dimana Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengguna TikTok terbesar kedua di dunia yakni sebesar 109.90 juta pengguna.

Meski sukses menarik simpatik pengguna, perjalanan TikTok sempat terhenti ditahun 2018. Kemenkominfo memutuskan untuk memblokir aplikasi TikTok secara resmi.

Hal tersebut disebabkan banyaknya jumlah laporan negatif yang diterima oleh Kemenkominfo diantaranya menimbulkan kecanduan, mengikis budaya malu, memunculkan stigma negatif hingga tsunami konten yang didominasi oleh konten negatif.

Seperti yang baru-baru terjadi demi viral di TikTok sekelompok pemuda membuat konten video pembusuran di Tugu Kelurahan Talia, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Hal tersebut terungkap setelah Kepolisian Sektor atau Polsek Abeli bergerak cepat menelusuri pelaku video viral pembusuran yang sempat menggegerkan warga.

Diketahui video viral yang beredar itu dari unggahan akun TikTok @tela********. Video tersebut berhasil masuk dalam deretan FYP di TikTok namun hanya sekedar konten demi viral. Dalam video viral yang diterima TribunnewsSultra.com, Jum’at (28/4/2023) Nampak detik-detik pelaku busur terekam kamera.

Sekularisme Menggerus Pemuda

Miris, begitulah adanya pemuda di zaman ini. Melakukan berbagai cara agar dikenal, tapi sayang bukan untuk sesuatu yang positif dan menginspirasi tentunya. Inilah bukti nyata bahwa pemuda kita saat ini mengalami kemunduran dalam berbagai aspek, namun yang paling menonjol adalah kemunduran dari segi berpikir.

Bagaimana tidak, konten-konten menginspirasi tertutupi oleh konten-konten yang tak bermutu, yang lucunya justru dipuja-puja bahkan ditiru oleh banyak netizen.

Media sosial yang seharusnya menjadi wadah untuk saling Sharing For Caring, berubah menjadi panggung untuk mencari nama. Potensi diri yang seharusnya diasah agar melahirkan sebuah kemampuan yang mumpuni, justru dirusak oleh budaya Fear of Missing Out.

Penyebab kemunduran saat ini ialah sistemnya. Melalui fenomena negatif yang saat ini banyak terjadi di kalangan pemuda terhadap transformasi digital, membuktikan betapa mirisnya peradaban ideologi yang diharapkan mampu menjadikan Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin melalui tangan-tangan pemudanya, justru dirusak sebab sistem yang diterapkan oleh penguasanya salah.

Sistem yang saat ini digaungi oleh para penguasa seolah-olah mengekang kaum pemuda sebagai harapan peradaban Islam untuk dijadikan sebagai budak kapitalis, liberalis hingga sekuler.

Berbanding terbalik dengan kondisi para pemuda ketika Sistem Islam masih berjaya, dimana pemudanya berjuang mati-matian membela dan mensyiarkan Islam sebagai sumber tatanan keberlangsungan kehidupan.

Usamah bin Zaid salah satunya, diusia 18 tahun telah memimpin pasukan Islam melawan Romawi Timur, sosok Al-Fatih yang tak diragukan lagi kegemilangannya dalam sejarah penaklukan Konstantinopel dan masih banyak lagi kisah hebat dari para pemuda sepanjang sejarah peradaban Islam.

Sangat disayangkan jika dibandingkan dengan kondisi pemuda kita saat ini. 68.82 juta jiwa pemuda di Indonesia hanya diarahkan untuk menjadi budak dunia dan minim visi akhirat yang terbalut dalam sistem sekuler kapitalisme.

Negara yang seharusnya menyiapkan pemuda agar menjadi garda pembawa peradaban bangsa, justru semakin menjauhkannya dari Islam dengan program moderasi beragamanya.

Islam Solusinya

Islam adalah satu-satunya solusi terbaik untuk menghentikan semua kejahiliyaan para pemuda saat ini, sebagai sistem yang sempurna yang memuliakan setiap individunya serta mengatur seluruh aspek tatanan kehidupan.

Tak terkecuali mengenai transformasi digital. Kehadiran media sosial melalui berbagai platformnya telah banyak berdampak pada perubahan sosial masyarakat, terlebih sistem yang dianut penguasa seolah mendukung agar kejahiliyaan ini terus berkembang di kalangan muda mudi.

Maka dari itu, Islam mengajak kita untuk lebih bijak dalam memanfaatkan potensi dan peluang dalam rangka kemaslahatan umat. Media sosial sebagai wadah untuk mewujudkan kreativitas, seharusnya menjadikan kita lebih kritis dalam penggunaanya.

Islam yang memberikan perhatian besar kepada pemuda agar tidak menuruti hawa nafsunya, mengajak untuk membiasakan diri melakukan hal-hal positif dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya Way of Life, bukan sekularisme dan kebebasan dalam berekspresi yang memuja hawa nafsu, mencari nama, berharap viral dan terkenal.

Dengan demikian, pemuda akan disibukkan dengan hadir dalam majelis ilmu, mengkaji ilmu agama, mensyiarkan Islam dengan sekreatif mungkin, dan tentunya lebih beradab dan bijak dalam berkonten.

Pemuda tangguh hanya dilahirkan dalam peradaban Islam, sebab negara menjalankan perannya untuk melindungi muda-mudinya, menutup segala akses yang tidak diperkenankan oleh syariat dan saling menjaga dengan selalu amar makruf nahi mungkar. Hanya dengan Khilafah-lah potensi para pemuda akan mewujudkan peradaban Islam yang sesungguhnya.