Perbaikan Jalan Menunggu Hingga Viral

Minggu 14.MEI 2023

Oleh: Martinah S.Pd

Viral rusaknya jalan di Lampung ‘berakhir’ dengan kunjungan Presiden Republik Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Provinsi Lampung pada Jumat (5/5) untuk mengecek langsung jalanan rusak yang viral tersebut.

Kunjungan kali ini turut menyedot perhatian publik dan menunjukkan banyak hal, mulai dari abainya pemerintah daerah, lemahnya pengawasan pusat, hingga viral menjadi metode mendapatkan solusi.

Karena jalan yang rusak tentu berbahaya, pengendara bisa terjatuh, bahkan kehilangan nyawa Itulah sebabnya, jalan yang rusak butuh perbaikan segera. Namun, siapa nyana, kondisi ini dimanfaatkan oleh para oknum untuk memperoleh cuan (keuntungan) pribadi.

Tidak tanggung-tanggung, keuntungan dari perbaikan jalan mencapai triliunan rupiah. CNN Indonesia memberitakan, diduga telah terjadi praktik culas pada proyek perbaikan dan pemeliharaan jalan oleh pihak penyelenggara jalan (pemerintah) dengan vendor kontraktor pemenang tender.

Investigasi CNN Indonesia juga memaparkan bahwa diduga ada tiga skenario kecurangan dalam proyek jalan, yaitu pertama, pemerintah open tender untuk memenangkan kontraktornya.

Kedua, kontraktor punya koneksi dengan “orang dalam” pemerintah. Ketiga, kontraktor melakukan suap pada “orang dalam” agar bisa menang.

Biasanya, kedua belah pihak melakukan kesepakatan di tempat yang tidak terekspose, seperti di bar, karaoke, bahkan tempat pijat.

Kesepakatan itu mencakup upaya agar pihak pemerintah dan kontraktor sinkron dan tidak mencederai satu sama lain saat ada audit.Akibat kecurangan antara pemerintah dengan kontraktor, kualitas aspal di bawah standar sehingga mudah terkelupas.

Jalan pun cepat rusak dan berlubang. Kualitas jalan yang harusnya bisa bertahan hingga empat tahun, jadi bertahan dua tahun saja. Ini merupakan sebuah kezaliman. Akibat keculasan oknum aparat dan kontraktor, masyarakat yang menjadi korban.

Jalan raya seolah rimba raya, banyak pengguna jalan yang mengalami kecelakaan, mulai dari jatuh, terluka hingga meninggal dunia.Bisa dibayangkan, korban harus mengeluarkan biaya untuk berobat dan memperbaiki kendaraan.

Apalagi jika ada pejuang nafkah yang jatuh hingga meninggal dunia, keluarganya akan kehilangan sumber nafkah. Efek domino ini nyata adanya. Praktik ini merupakan akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler yang mencampakkan aturan agama.

Akibat sekularisme, ketakwaan dijauhkan dari pengaturan negara sehingga tidak ada rasa takut kepada Allah Swt. ketika berbuat rasuah. Ancaman dosa dan azab neraka yang termaktub jelas di Al-Qur’an tidak dipedulikan, kalah dengan nafsu mengumpulkan harta.

Sementara itu, sistem kapitalisme menjadikan kontraktor proyek “menuhankan materi," Mereka menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan besar dalam setiap proyek. Mereka berbohong, menipu, membuat laporan palsu, menyuap, dan lain-lain semata demi keuntungan bisnis.

Perilaku para aparat ini sering disebut sebagai perbuatan oknum, tetapi anehnya, praktiknya begitu merata.

Buktinya, kondisi jalan yang rusak dan berlubang juga merata di seluruh penjuru negeri. Lantas, benarkah ini ulah oknum, atau jangan-jangan keculasan ini terjadi secara umum dan bersifat sistemis?

Jika kita lihat korupsi secara umum di Indonesia yang demikian membudaya, tampak bahwa persoalan korupsi bukan semata karena ulah oknum aparat, tetapi bersifat sistemis. Aparat tidak takut berbuat rasuah, sedangkan para pemimpin juga tidak memberi teladan yang baik.

Makin tinggi jabatan justru makin besar nominal korupsinya. Di sisi lain, aturan yang ada tidak memberikan sanksi yang menjerakan. Bahkan terjadi perlakuan istimewa pada koruptor kelas kakap, mereka mendapatkan fasilitas mewah meskipun sudah berada di penjara.

Belum lagi pengurangan hukuman sehingga masa hukuman makin minim.Orang lain yang menyaksikan aksi para koruptor dan amannya mereka dari jerat hukum jadi terdorong untuk ikut berbuat korup juga.

Walhasil, problem korupsi terus terjadi tanpa solusi. Oleh karenanya, butuh solusi sistemik terhadap problem korupsi. Yaitu dengan mencampakkan sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan hari ini dan menggantinya dengan sistem Islam.

Praktik culas proyek perbaikan jalan merupakan bagian dari problem korupsi di negeri ini.

Untuk menyolusinya, butuh tiga instrumen sekaligus, yaitu ketakwaan individu, kontrol sosial berupa amar makruf nahi mungkar oleh masyarakat, dan penerapan aturan yang tegas oleh negara.