Senin 17 APRIL 2023
Oleh: Emirsa
GMNI, PMII, HMI dan gerakan masyarakat Kaltim menolak tambang ilegal. Puluhan massa aksi yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) se- Kota Samarinda melakukan unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kaltim.
Pergerakan mahasiswa Kaltim menuntut hukuman bagi penambang ilegal dan ditutupnya tambang ilegal. (akurasi.id, 11/4/2023) Aksi demo dari mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Masyarakat Kaltim Menggugat ini dilakukan terkait dengan peristiwa di Desa Rempanga, Kukar beberapa waktu lalu. Untuk diketahui, di lokasi dimaksud terjadi intimidasi dan adanya tindakan premanisme yang diduga dilakukan dalam melindungi kegiatan tambang ilegal. (korankaltim.com, 11/4/2023)
Mahasiswa Penggerak
Mahasiswa sudah seharusnya menjadi agend of change, menjadi garda terdepan dalam menyuarakan persoalan umat, melakukan amar makruf nahi munkar kepada negara. Mahasiswa hendaknya tidak hanya menyuarakan tolak tambang ilegal tetapi sistem kapitalisme yg menjadi akar persoalan.
Sekularisme yang menjadi asas ideologi ini telah menghancurkan semua sendi kehidupan manusia. Terjadinya krisis multidimensi bidang ipoleksosbudhankam, runtuhnya struktur keluarga, bahkan rusaknya kepribadian generasi, menjadi konsekuensi logis. Bila berharap penguasa hadir memberikan solusi, hanyalah kesia-siaan.
Maka, kini masyarakat sangat mengharapkan kemunculan para pemuda dan mahasiswa penggerak perubahan untuk mengeluarkan dunia dari kapitalisme yang hanya menimbulkan masalah. Di titik krusial inilah, butuh revitalisasi peran pemuda dan mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change).
Pembungkaman
Memperpanjang usia kekuasaan sudah menjadi tabiat setiap rezim sekuler tanpa kecuali, meskipun kegagalan mengurusi berbagai kemaslahatan rakyat tecermin jelas dalam setiap kebijakan yang pasti berakhir tanpa hasil.
Rakyat tetap dalam kemiskinan, anak-anak terus dalam ancaman stunting, perempuan kerap menjadi korban berbagai bentuk kekerasan.
Pemberantasan korupsi menjadi paradoks kehidupan, polarisasi politik mengancam persatuan, ketidakadilan hukum juga terus dipertontonkan, seperti kasus tambang ilegal yang terjadi. Berbagai aksi protes, kritik kebijakan, ataupun kritik kebobrokan sistem, selalu dinarasikan sebagai hate speech, radikalisme, politik identitas, ancaman keberagaman, bahkan makar.
Tidak peduli siapa yang mengkritik, entah intelektual ataupun pakar, buruh, profesional, ulama, maupun mahasiswa, penguasa hanya bisa menanggapi semua kritik dan masukan dengan menerbitkan UU ITE dan upaya pengesahan RKUHP yang layak dibaca sebagai “pembungkaman."
Adapun terhadap kalangan aktivis pemuda dan mahasiswa, UU ITE dan RKUHP dianggap tidak cukup untuk membungkam mereka. Ini karena karakter “agen perubahan” telah eksis pada diri pemuda dan mahasiswa. Untuk itu, sepertinya pro status quo memandang perlu untuk membuat saluran baru peran strategis agen perubahan mengikuti arahan kekuasaan.
Kehilangan Kepekaan
Penting untuk memperhatikan pernyataan yang mengajak mahasiswa untuk tidak hanya sibuk di pergerakan. Generasi saat ini tentu harus sibuk mengisi peluang-peluang yang ada, yakni dengan pendidikan, profesionalisme, juga sebagai pengusaha baru Indonesia.
Pernyataan ini mengandung bahaya dan racun apabila kita telaah secara saksama. Sebagaimana tanggapan Masinton, politisi dan aktivis mahasiswa 1998, bahwa yang disampaikan tersebut berbahaya bagi pola pikir anak muda yang bisa membentuk menjadi “mental kuli” pada masa depan, yakni hanya berpikir kuliah dan kerja.
Masalahnya, tanggapan selintas saja tidak cukup. Bagaimanapun, upaya kanalisasi makna “agen perubahan” terlihat masif dilakukan. “Tafsir baru” ini terus disosialisasikan dalam berbagai kesempatan. Kanalisasi peran mahasiswa adalah dengan pemberian saluran baru yang bermuara bidang ekonomi.
Akibatnya, peran agen perubahan tidak lagi mampu mengeluarkan pemuda dari kondisi kejumudan sistemis. Pemuda dan mahasiswa diberikan harapan kosong perbaikan finansial yang sangat individual.
Mahasiswa akan kehilangan kepekaan dan terjadi pengabaian rasionalitas terhadap bobroknya sistem beserta berbagai kebijakan zalim yang abai terhadap rakyat. Ini semua terjadi akibat diterapkannya sistem kapitalisme sekuler yang tidak akan melahirkan peradaban yang luhur karena sistem ini telah jelas bertentangan dengan tuntunan Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta ini.
Di mana kehidupan tidak diasuh oleh agama (ideologi Islam), sehingga melahirkan banyak kerusakan. Tetapi, sistem yang lahir dari akal manusia dan telah meminggirkan pandangan agama ini, tidaklah sesuai dengan fitrah manusia.
Organisasi Pemuda dalam Satu Arahan
Pergerakan mahasiswa memiliki potensi sebagai martir perubahan. Sangat menggentarkan apabila mereka sudah bergerak serentak dan satu kata untuk menyuarakan tuntutan mereka terhadap penguasa.
Mahasiswa sebagai pemimpin perubahan dengan daya kritis dan semangat mudanya harus berada di garda terdepan untuk menyuarakan penyelesaian berbagai macam problematik bangsa. Mahasiswa adalah bibit-bibit pejuang selanjutnya yang menjadi Agent of Change di segala bidang.
Mahasiswa juga berperan sebagai social control atas pemerintahan. Mahasiswa dituntut mampu untuk mengontrol keadaan negara. Selain kritik, mahasiswa juga harus memiliki kontribusi riil untuk perubahan yang lebih baik. Sebagai kaum intelektual, mahasiswa harus bersikap berani dan kritis, serta berani untuk mendobrak sesuatu yang salah ke arah yang benar.
Mahasiswa juga dituntut berani mengkritisi kebijakan, apabila kebijakan tersebut bersifat inkonsistensi, bertentangan dengan harapan rakyat dan justru melahirkan kezaliman dan kerusakan. Gerakan mahasiswa “down to earth” tidak lagi bermakna ‘mahasiswa terjun di tengah publik mengkritik berbagai kebijakan dan kritis memberikan berbagai gagasan perubahan.'
Akan tetapi, mahasiswa ditarik untuk terjun ke berbagai bidang terapan yang menyumbang benefit langsung terhadap perekonomian nasional. Seolah-olah dengan pemuda menjadi berdaya dan mandiri secara ekonomi, persoalan tambang ilegal contohnya, dengan sendirinya akan hilang?Ini adalah upaya “mengawinkan” peran agen perubahan dengan entrepreneurship. Hasilnya adalah sosok para “aktivis kuli” korporasi yang mandul dan kehilangan daya kritisnya.
Paham Politik dengan Ideologi Sahih
Tanpa ideologi yang sahih, akan terjerumus ke dalam jebakan negara-negara industri. Begitu pun para pemuda dan mahasiswa. Mahasiswa, termasuk para aktivis pergerakan kampus, tidak memiliki “kacamata” yang mumpuni untuk menilai bahwa mereka ada di posisi yang salah.
Tanpa menyadari dirinya ikut berkhianat terhadap amanat rakyat, mahasiswa tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat yang tertindas oleh berbagai kebijakan zalim, contohnya seperti tambang ilegal.
Mahasiswa justru mencari posisi aman dan menikmati kehidupan nyaman yang semu, buah berbagai kebijakan zalim. Bahkan, mahasiswa mungkin malah berterima kasih karena kehidupan finansial individualnya telah terangkat, lalu terkikislah idealisme mereka. Begitulah yang terjadi saat era reformasi.
Para aktivis yang dulu turut menggulingkan tirani Orde Baru, kini duduk nyaman di kursi kekuasaan; menjadi politisi, memiliki jabatan strategis, menjadi pengusaha sukses, lantas melupakan rakyat begitu saja.
Apakah mahasiswa yang saat ini aktif berunjuk rasa karena penambangan ilegal, pada waktu nanti mereka menjadi penguasa, mereka tidak mengulang sejarah pengkhianatan para pendahulunya? Selama ideologi sekuler kapitalisme diterapkan, akan selalu menghasilkan para agen perubahan semu yang pragmatis dalam berpikir dan berpolitik.
Maka itu, pemuda dan mahasiswa membutuhkan ideologi alternatif yang sahih untuk membersihkan jiwa mereka dari karakter pragmatisme politik yang mewarisi sifat pengkhianat. Hanya akidah Islam asas sebuah ideologi yang sahih.
Ideologi Islam yang telah melahirkan sosok-sosok ksatria seperti Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, dan para generasi penakluk lainnya. Mereka selalu di garis terdepan dalam perjuangan, bukan generasi yang bermental inlander (mentalitas kalah).
Ideologi Islam akan memberikan kualifikasi terbaik generasi penjaga umat yang tepercaya; generasi yang akan berkhidmat pada umat, taat pada syariat, memiliki wawasan politik internasional yang mumpuni, andal dalam strategi, berjiwa lemah lembut, dan kukuh dalam kebenaran.
Generasi seperti ini tidak peduli dengan celaan para pencela, juga tidak silau dengan pujian dan gelar kehormatan semu dari para penjajah. Generasi inilah yang siap melakukan perubahan total dan fundamental untuk mencabut akar-akar kezaliman. Merekalah the real agent of change.
Revitalisasi
Untuk mengoptimalkan peran tersebut, mahasiswa harus memiliki pemahaman politik yang sahih, yaitu politik Islam yang menekankan fungsi negara sebagai pelayan rakyat. Berupaya untuk memahami syariat Islam kafah, yang bersumber dari wahyu-Nya dan sunah Rasulullah saw. serta meneladani Rasulullah SAW
Dalam menerapkan politik Islam pada kehidupan bernegara. Mahasiswa semestinya sadar, revitalisasi yang bersifat pragmatis tidak akan pernah bisa mengubah kondisi umat ini menjadi lebih baik, sebelum tuntunan-Nya dijadikan pedoman bagi kehidupan secara kafah.
Setiap rezim berganti, tuntutan yang tidak bersifat fundamental akan berujung sia-sia. Setiap rezim berganti, kondisi negeri ini tidak akan berubah. Sebab, sistem rusak ini masih eksis, hanya berganti aktor saja.
Sesungguhnya, Allah SWT. telah mengamanahkan di pundak para mahasiswa, tentang pertanggungjawaban dan perannya dalam menjalankan identitasnya yang hakiki. Yaitu menjadi para penolong Allah Swt. dan agama-Nya. Oleh karena itu, mahasiswa haruslah melakukan revitalisasi dengan benar. Yakni melakukan perubahan yang sesuai dengan tuntutan Ilahi, sebagaimana amanah syariat. Wallahualam.