Buruknya Kesehatan Mental Rakyat dalam Kapitalisme

Rabu 15 MARET 2023

Oleh: Hamsina Halik

 (Member Revowriter)

Seorang mahasiswi Universitas Indonesia (UI) berinisial MPD (21) ditemukan tewas di sebuah apartemen kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Korban diduga bunuh diri dengan melompat dari lantai 18 apartemen tersebut pada Rabu (8/3/2023) sekitar pukul 23.45 WIB. (kompas.com, 12/03/2023)

Hamsina Halik

Kasus serupa pun terjadi di Bantul, seorang lelaki berinisial NS berumur 38 tahun ditemukan gantung diri di dapur rumahnya. NS ditemukan gantung diri sekitar pukul 17.00 WIB. Dia ditemukan oleh ibunya, S (58) yang kebetulan mencari anaknya tersebut karena tidak kelihatan. (sindonews.com, 10/3/2023)

Sungguh miris melihat fakta ini. Ini hanyalah beberapa fakta yang terungkap ke permukaan. Belum yang terekspos, yang bisa jadi jumlahnya lebih banyak lagi. Bunuh diri seolah dianggap sebagai solusi untuk keluar dari permasalahan yang mendera.

Sebab, dengan kematian maka tak akan lagi menghadapi persoalan hidup. Namun, bagi seorang muslim sungguh tindakan seperti ini tidaklah pantas untuk dilakukan.

Kasus bunuh diri saat ini menyentuh angka yang mengkhawatirkan. Dilansir dari bbcnews.com, 25/01/2023, bahwa sebuah studi pada tahun 2022 menemukan bahwa angka bunuh diri di Indonesia mungkin empat kali lebih besar daripada data resmi.

Kurangnya data telah menyembunyikan skala sebenarnya dari persoalan bunuh diri di Indonesia, menurut sejumlah pakar.

Studi tahun 2022 itu, yang belum melalui proses telaah sejawat, membandingkan data kepolisian, yang merupakan data resmi untuk bunuh diri, dengan Sample Registry System (SRS) di Kementerian Kesehatan.

Merujuk data SRS pada tahun 2018, yang sudah disesuaikan dengan estimasi kelengkapan survei 55%, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebesar 1,12 per 100.000 penduduk. Menurut Bank Dunia, jumlah penduduk Indonesia pada 2018 adalah 267,1 juta jiwa. Ini berarti ada 2.992 kematian akibat bunuh diri di tahun tersebut.

Faktor Pemicu

Fakta kasus bunuh diri yang kian hari semakin sering terjadi sejatinya mencerminkan terganggunya kesehatan mental warga. Terlebih kasus bunuh diri ini terjadi diberbagai usia. Sempitnya memandang dunia serta tidak kuatnya menahan ujian hidup hingga berujung pada pilihan bunuh diri bisa disebabkan oleh beberapa faktor.

Diantaranya, persoalan ekonomi dengan biaya hidup yang semakin mahal, penghasilan minim sehingga tak mencukupi memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, belum lagi biaya pendidikan, kesehatan dll. Imbasnya pun terasa ke anak-anak, yang notabene mereka adalah generasi masa depan.

Selain itu, pemahaman agama yang kurang akibat sedikitnya jam pelajaran agama. kurikulum yang hanya fokus pada materi hingga pola asuh yang salah. Sehingga generasi menjadi rapuh. Diperparah dengan lemahnya dan keimanan kepada Allah SWT.

Pandangan hidup yang cenderung materialis dan sekuleris jauh dari tuntunan agama. Namun, jika ditelisik akar permasalahan dari semua itu adalah karena penerapan sistem kehidupan yang buruk saat ini. Ditambah abainya penguasa dengan kondisi rakyatnya.

Sekulerisme yang menjadi asas dari sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini, membuat agama dipisahkan dari kehidupan. Agama cukup ada dalam diri pribadi rakyat dalam hal ibadah atau hubungan dengan pencipta saja.

Sementara dalam kehidupan, aturan agama tak boleh ikut andil. Konsekuensinya, manusia tumbuh dengan jiwa yang rapuh, kadar keimanan yang minimal, dan mudah putus asa. Pada akhirnya, membuat kesehatan mental rakyat, terutama generasi semakin memburuk.

Dengan demikian, negara dengan sistem hidup sekulernya tak mampu menjaga kesehatan mental rakyatnya. Meski telah berbagai upaya yang dilakukan melalui program-program kesehatan mental misalnya, namun hal ini tak akan mampu menjadikan generasi terbebas dari gangguan mental. Sebab, asasnya tetap pada sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan.

Tanggung Jawab Negara

Berbagai persoalan hidup yang mendera rakyat seharusnya menjadi perhatian negara. Terlebih jika persoalan itu berimbas pada kesehatan mental rakyat.

Sebab, negara dalam hal ini penguasa memiliki tangung jawab dalam mengurus rakyatnya. Ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, "Imam (khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari)

Karena itu, seorang penguasa atau pemimpin harus mengurus warganya dengan sebaik-baik pengurusan sebagaimana perintah syariat. Islam memandang manusia secara utuh dan menyeluruh.

Karena itu pembangunan manusia tidak hanya aspek fisik, namun juga mental. Dan menjadikan akidah islam sebagai asas kehidupan.

Penanaman akidah islam kepada generasi adalah hal yang sangat penting dan utama. Karena akidah inilah pondasi hidup mereka, yang akan mampu menuntun mereka memahami bahwa tujuan hidupnya hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT.

Ketika pemahaman ini telah tertancap kuat, maka tak akan terpikirkan lagi dalam benak mereka untuk bunuh diri. Sebab, mereka paham bahwa setiap kenikmatan dan ujian hidup merupakan ketetapan Allah, dan mereka sanggup melewatinya.

Dan bunuh diri adalah perbuatan yang dilarang oleh syariat Islam. Karena itu, akidah islam akan diajarkan secara menyeluruh kepada generasi.

Alhasil, kehidupan yang didasarkan pada akidah islam menghasilkan manusia yang tangguh. Sabar akan cobaan dan yakin akan hari akhirat. Inilah konsep kehidupan yang diajarkan oleh islam kepada pemeluknya.

Selain itu, negara akan menjamin kehidupan warganya, menjamin setiap laki-laki mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Tak hanya itu, negara pun akan memberikan jaminan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara gratis. Tanpa diskriminasi layanan publik. Semua diperlakukan sama, muslim maupun non muslim, kaya ataupun miskin.

Sungguh semua ini hanya akan terwujud manakala sistem hidup yang diterapkan adalah sistem berasal dari-Nya. Yaitu sistem Islam. Wallahu a'lam