Harga Naik, Tradisi Berulang Menjelang Ramadhan

Rabu 15 MARET 2023

Zahrah

(Aktivis Dakwah Kampus)

Ramadhan kini tinggal menghitung hari. Beberapa persiapan sudah dilakukan oleh kaum muslimin termasuk menyediakan bahan makanan yang akan disantap baik saat sahur maupun berbuka.

Di Indonesia sendiri banyak sekali tradisi yang dilakukan dalam menyambut bulan ramadhan. Tradisi kenaikan harga komoditas bahan makanan pokok juga terus berulang hingga saat ini.

Setiap tahunnya menjelang ramadhan harga komoditas makanan pokok pasti naik. Kenaikan harga ini merupakan tradisi berulang setiap tahunnya di Indonesia.

Dilansir dari katadata.co.id (03/03/2023) harga sejumlah komoditas bahan pangan kembali naik menjelang ramadhan seperti cabai, minyak goreng, gula pasir kualitas premium, dan daging ayam ras segar.

Kenaikan tersebut terjadi 20 hari jelang bulan puasa. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, rata-rata harga cabai merah besar secara nasional dari Rp 36.250 per kilogram naik mencapai Rp 42.200 per kilogram.

Sementara rata-rata harga cabai rawit hijau juga naik yang mencapai Rp 48.700 per kilogram dibandingkan dengan bulan februari hanya mencapai Rp 42.600 per kilogram.

Sedangkan cabai rawih merah naik hingga mencapai Rp 65.950 per kilogram pada jum'at (3/2). Selain cabai, harga minyak goreng dan daging ayam segar juga mengalami kenaikan.

Harga minyak goreng bermerek dari Rp 20.100 per kilogram kini naik mencapai Rp 21.750 per kilogram. Adapun harga ayam segar naik tipis dari Rp 15.850 per kilogram menjadi Rp 15.900 per kilogram.

Kenaikan harga ini sudah sering terjadi setiap kali menjelang ramadhan setiap tahunnya.

Tradisi tahunan menjelang bulan ramadhan. Berbeda dengan hari biasanya, pada bulan ramadhan masyarakat lebih banyak membeli kebutuhan pokok sebagai persediaan di rumah ketika puasa nanti.

Sehingga kenaikan ini akan membuat masyarakat semakin tertekan dengan mahalnya kebutuhan pangan, disisi lain pendapatan berkurang dan mahalnya biaya hidup lainnya.

Tradisi kenaikan harga dalam sistem kapitalis sekuler merupakan hal yang lumrah terjadi. Sebab, dalam pandangan kapitalisme semakin banyak permintaan, maka harga pun akan naik. Selain itu, terdapat mafia yang menimbun barang dan menaikkan harga menjelang ramadhan.

Menjamurnya para mafia ini sudah biasa terjadi dalam sistem sekuler kapitalis hari ini. Kapaitalisme sekuler telah menghasilkan orang-orang yang hanya memikirkan keuntungan materi sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan kondisi orang lain. Hilangnya fungsi negara sebagai periayah juga menjadi tabiat sistem ini.

Negara hanya berperan sebagai regulator dan fasilitator dalam mengurusi kebutuhan pangan rakyatnya. Negara tidak mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Akibatnya rakyat harus merasakan tekanan hidup yang lebih tinggi menjelang ramadhan.

Fenomena ini, menunjukkan bahwa negara telah gagal dalam menjamin kebutuhan rakyat. Negara gagal dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan yang cukup untuk kebutuhan masyarakat.

Bertolakbelakang dengan fenomena diatas, negara dalam islam yakni khilafah akan menjamin ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga di pasaran. Sebab, khilafah menjalankan fungsinya sebagai periayah urusan rakyat.

Khilafah wajib memenuhi segala kebutuhan pokok rakyatnya dengan harga murah, termasuk kebutuhan bahan pangan menjelang ramadhan.

Khilafah akan melakukan segala upaya untuk memenuhi pangan rakyatnya. Khilafah akan mendorong berbagai inovasi dalam bidang pertanian guna memenuhi pangan rakyat secara mandiri tanpa bergantung dengan negara lain.

Selain itu, negara juga akan menjaga stabilitas harga pasar dengan senantiasa mengawasi kondisi pasar. Jika terdapat mafia yang curang maka negara akan menjatuhkan sanksi yang tegas bagi para pelaku.

Dengan mekanisme yang seperti itu maka tradisi kenaikan harga menjelang ramadhan tidak akan terjadi dalam negara khilafah. Wallahu a'lam bi showwab