Karakteristik Kepribadian Muslim

Minggu, 12 PEBRUARI 2023

Oleh: Riska Nilmalasari

Penciptaan manusia sebagaimana yang diketahui bahwa diciptakan dalam dua tahapan, pertama menciptakan jasadnya kemudian meniupkan ruh ke dalam jasad itu.

 

Dimana manusia terdiri dari zat unsur materi dan ruh. Lalu berdasarkan kedua unsur tersebut Allah menciptakan kecendrungan dan dorongan tertentu yang kemudian menjadi pembentukan kepribadian manusia.

Dimana ruh itu Allah SWT ciptakan membimbing manusia kecendrungan fitrah kepada ibadah, yaitu kecendrungan untuk bertuhan atau menyembah tuhan.

Lalu unsur fisik atau materi dorongan untuk bertindak dan bersikap. Ini jelas tergambar dalam Q.S As-Shad : 72 “Maka apabila aku telah menyempurnakan (penciptaan jasad) nya, lalu kutiupkan ruh-ku kedalamya, maka bersujudlah kamu sekalian padanya” Maka unsur-unsur inilah yang akan membentuk manusia dalam kepriibadian muslim atau kepribadian islam yaitu dalam bahasa Arab disebut syakhsiyah Al-Muslim atau Syakhsiyah Islam.

Adapun menurut Al-Banna karakteristik kepribadian muslim sebagai berikut : Salimul Aqidah (Aqidah yang lurus) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim.

Dengan aqidah yang lurus ini maka seorang muslim akan terikat dan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah, tidak akan menyimpang dari ketentuannya.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

2. Shahihul Ibadah (Ibadah yang benar) yaitu melaksanakan setiap peribadatan haruslah mengikuti (ittiba) kepada sunnah Rasul SAW tidak boleh ditambah ataupun dikurangi.

3. Matinul Khuluq (Akhlak yang kokoh) merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluknya.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

 “Muhammad itu adalah utusan Allah Dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka” (Q.S. Al-Fath:29).

4. Mutsaqqol Fikri (wawasan yang luas) yaitu seorang muslim harus memiliki wawasan yang luas maka manusia dituntut untuk mencari/menuntut ilmu.

5. Qawiyyul jismi (jasmani yang kuat) yaitu seorang muslim yang memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat.

Seperti halnya menjalankan ibadah sholat, zakat, puasa, dan haji merupakan amalan yang dilakasanakan dengan kondisi fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad dijalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

انَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat, 49: 15)

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu) yaitu setiap manusia memiliki kecendrungan pada yang baik dan buruk.

Melaksanakan kecendrungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu yang senantiasa tunduk pada ajaran islam.

Pemikiran dan nafsu seseorang yang berkepribadian Islami akan senantiasa didasarkan pada ajaran Islam. Rasulullah SAW. bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidaklah sempurna iman kalian sehingga hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaranku.” (HR Thabrani).

7. Harishun Ala Waqtihi (disiplinkan menggunakan waktu) yaitu setiap muslim amat dituntut untuk disiplin mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif , tak ada yang sia-sia.

8. Munazhzhamun Fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan) yaitu segala urusan yang mesti dikerjakan oleh seorang muslim secara profesional.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri) yaitu kemampuan dalam mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakannya ketika seseorang memiliki kemandirian segi ekonomi.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗۗ

 "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah" (QS Ali Imran: 110).

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi yang lain) yaitu manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya.

Dari uraian diatas maka rincian karakteristik kepribadian seorang muslim yaitu keyakinan, ibadah, akhlak, wawasan, ekonomi, pengendalian nafsu, menjaga waktu, manajemen urusan, dan unsur manfaat sesama.

Dan semua karakteristik tersebut sesuai dengan nilai-nilai islam. Impilaksi terhadap pendidikan islam sangat erat kaitannya dengan gambaran dampak positif terhadap pengembangan kepribadian muslim itu sendiri yang tentu merupakan risalah (syariat) pembawa misi untuk memberikan rahmat kepada seluruh alam semesta.

Pendidikan islam hendaknya memang diadakan untuk membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan, dan paham masalah keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan umat.

Sehingga pendidikan islam adalah usaha yang dilakukan dalam mengarahkan umat manusia untuk bertaqwa dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah manusia atau anak didik menuju kepribadian yang sempurna dan utama berdasarkan ajaran islam.

Tujuan pendidikan islam juga terletak dalam setiap sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perseorangan, masyarakat maupun sebagai umat manusia secara keseluruhannya.

Pembentukan kepribadian muslim sedemikian rupa berimplikasi terhadap pendidikan islam, berikut penjelasannya : Segi konsepnya, yaitu pendidikan seharusnya memperhatikan dwi hakikat manusia, fisik dan non fisik, baik jasad, ruh, nafs, qalb, dan aql.

2. Sisi penyelegaraannya, yaitu pendidikan mesti dilakukan dengan peran seluruh unsur-unsur yang ada di sekitar peserta didik dan lembaga pendidikan itu sendiri. 3. Sisi pelaksanaan, yaitu dengan menyelenggarakan pendidikan keimanan, pendidikan ilmiah, pendidikan amaliyah, pendidikan moral, dan pendidikan sosial.

4. Sisi pendidiknya, harus mampu mengingatkan dan meneguhkan akhlakul karimah peserta didik dengan bersandarkan keimanan kepada pencipta. Pendidikan islam yang menyeluruh juga tidak hanya berpusat pada transformasi nilai atau pengawasan oleh masing-masing individu.

Akan tetapi pendidikan islam dalam pembentukan kepribadian sangat berperan oleh lingkup keluarga, masyarakat, hingga negara.

Konsep teladan juga sangat dibutuhkan terutama ketika dalam lingkungan belajar yang terdapat seorang pendidik yang seharusnya bukan hanya mendidik tapi juga mampu mengingatkan dan meneguhkan kembali perjanjian suci (syahadah) yang pernah diikrarkan manusia di hadapan Tuhannya, yaitu lewat ilmu dan adab dalam proses pembelajaran.