Selasa, 7 PEBRUARI 2023
Oleh: Nurlinda
Setiap tahun kaum muslim di seluruh dunia akan bertemu dengan momentum istimewa menjelang bulan ramadhan, yaitu peristiwa Isra Mi'raj.
Kaum Muslim terbiasa menyambut dengan suka cita karena mengenang Nabi Muhammad saw. Namun kali ini, di bulan Rajab tahun ini, kaum muslim kembali teraduk emosinya.
Ya, pembakaran Al Qur’an kembali terjadi. Kali ini terjadi di Stockholm, Swedia. Politikus sayap kanan membakar Al Qur’an di dekat kedubes Turki pada 21 Januari 2023. Mirisnya, tindakan pembakaran itu dijaga ketat oleh polisi.
Ini menunjukkan otoritas Swedia telah memberikan izin sebelum aksi dijalankan. Ini kali kedua Rasmus Paludan melakukan aksi ini, setelah pembakaran pertama di bulan Agustus 2020.
Kementerian luar negeri Turki merespon pembakaran ini dengan mendesak pihak Swedia untuk mengambil tindakan kepada para pelaku pembakaran Al Qur’an dan mengundang semua negara untuk mengambil langkah nyata melawan Islamofobia.
Negara muslim lainnya juga ikut bereaksi keras atas pembakaran Al Qur’an.
Kementerian luar negeri Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, Mesir mengecam keras tindakan pembakaran tersebut. Allah SWT berfirman,
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّـهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena hasad yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.
Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS : Al Baqarah : 109)
Peristiwa pembakaran Al Qur’an adalah bagian dari hasad mereka terhadap Islam dan umatnya. Rasa dengki ini semakin terpupuk dan menyebar luas di sistem kehidupan sekuler yang saat ini diterapkan di seluruh dunia.
Paradigma bahwa manusia harus mengatur dirinya sendiri tanpa pandangan dari Sang Pencipta melahirkan ide kebebasan yang mendorong dan menjaga manusia untuk bebas (HAM) melakukan sesuatu sesuai pendapat mereka.
Selama kebebasan dijamin, kebencian akan terus diekspresikan tanpa harus takut dengan apa pun.
Tidak ada benar dan salah sebab kebenaran sesuatu yang relatif tergantung sudut pandang setiap orang. Walhasil, penistaan pada Islam akan selalu terulang.
Penghinaan ini tidak akan muncul apabila penjaga kehormatan kaum muslim dan Islam hadir, yaitu negara dan pemimpin yang memerintah berdasarkan asas Islam.
Rasulullah saw bersabda,.“Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) adalah perisai, orang-orang berperang dibelakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wajalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, maka ia harus bertanggung jawab atasnya” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai dan Ahmad)
Dan Konsep pembelaan secara tegas hanya dapat direalisasikan saat pemimpin muslim mengambil Islam sebagai acuan dalam mengatur.
Selain itu, dalam sistem Islam, tidak ada dalih atas nama kebebasan, mereka diperbolehkan untuk saling menghina, menista orang lain bahkan agama.
Ini disebabkan dalam Islam, setiap manusia terutama muslim yang hidup dalam negara Islam harus terikat dengan hukum syariat saat melakukan sesuatu.
Sebagaimana sejarah yang telah membuktikan, bahwa sejak peradaban Islam tegak di Madinah dan Rasulullah SAW diangkat menjadi pemimpin daulah Islam hingga masa kekhilafahan yang berakhir di tahun 1924 pelecehan terhadap Islam tidak pernah berhasil direalisasikan.
Sebab negara selalu berupaya menggagalkan pelecehan. Sebagaimana pertunjukan teater yang direncanakan Prancis dan Inggris untuk menghina Rasulullah SAW digagalkan oleh Khalifah Abdul Hamid II. Khalifah mengancam akan mengobarkan jihad jika pertunjukan itu terjadi.
Mereka gentar dan membatalkan pentas tersebut. Inilah secuil gambaran Islam mampu memberikan efek jera bagi para penista agama. Wallahu a’lam