Senin, 15 AGUSTUS 2022
Oleh: Setiana Hasmita
Kasus bunuh diri kembali terjadi di kalangan remaja. Kasus pertama, tidak lolos ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi alasan bunuh diri.
Kasus ini terjadi pada seorang siswi di Semarang. Menurut penuturan kakaknya, sudah sejak SMP adiknya bermimpi untuk masuk ke salah satu universitas negeri di wilayah Yogyakarta. Kakaknya juga menuturkan bahwa adiknya memiliki nazar ketika hendak mengikuti ujian masuk PTN.
Nazarnya adalah ketika ia lolos, dirinya akan memberikan santunan kepada anak yatim. Ketika tidak lolos, ia bernazar ingin bunuh diri. Ketika kemudian adiknya tidak lolos PTN, adiknya pun berkata, ingin memenuhi nazarnya.
Setelah mengungkapkan keinginannya adiknya pun menghilang. Saat ditemukan adiknya telah meninggal akibat meminum semua obat dari psikiater dan overdosis alkohol. Kasus kedua, terjadi di Blitar, Jawa Timur, seorang siswi kelas 10 nekat gantung diri di depan pintu kelasnya, diduga yang menjadi penyebab adalah motif asmara.
Belum lekam dari ingatan, banyak pula kasus bunuh diri terjadi saat pembelajaran jarak jauh pada siswa. Selama pembelajaran jarang jauh, siswa tidak mendapat penjelasan langsung dari guru dan kemudian dibebankan dengan banyak tugas. Banyak siswa yang menganggap tugas yang diberikan berat dan sulit dikerjakan.
Akhirnya, banyak tugas yang berat dan sulit ini, kemudian dijadikan alasan oleh beberapa siswa untuk mengambil solusi pintas, bunuh diri. Tren kasus bunuh diri meningkat dari tahun ke tahun. Penyebabnya juga macam-macam.
Dari sekian banyak kasus, putus asa, gagal ujian, tidak mampu membayar biaya sekolah, bullying, bahkan putus cinta, menjadi faktor penyebab meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan remaja.
Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah angka kematian akibat bunuh diri di dunia mendekati 800.000 per tahun atau hampir 1 kematian setiap 40 detik. (Kumparan, 21/06/2021). Sementara di Indonesia,
terdapat peningkatan signifikan kasus bunuh diri beberapa tahun terakhir. Data Kepolisian Republik Indonesia pada 2020 melaporkan terdapat 671 kasus kematian akibat bunuh diri. Sementara data Potensi Desa (Podes) Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 menyebut telah terjadi 5.787 korban bunuh diri maupun percobaan bunuh diri. (Antara News, 08/12/2021).
Bunuh diri menjadi salah satu pengantar kematian tertinggi kedua setelah kecelakaan di kalangan remaja. Namun, angka pikiran untuk bunuh diri lebih besar daripada kasus bunuh diri itu sendiri.
Mental Stroberi, Buah Sekulerisasi Pendidikan
Pendidikan berpengaruh sangat besar terhadap pembentukan karakter pelajar. Pendidikan pula yang berperan melahirkan generasi yang dapat memajukan negara di masa depan. Namun, kini yang terjadi, pendidikan bangsa justru menunjukkan kondisi yang makin parah.
Sekulerisasi pendidikan hari ini terlihat dari pembentukan kurikulum yang hanya fokus pada pemberdayaan dan peningkatan peran generasi muda dalam aspek perekonomian. Pendidikan vokasional dan pelatihan kewirausahaan terus digenjot sedemikian rupa.
Bahkan konsep merdeka belajar hanya ditujukan untuk menciptakan generasi produktif dan punya daya saing serta kemandirian di aspek ekonomi semata. Soal moral dan agama makin lama makin termarjinalkan saja. Proyek moderasi Islam justru diarus deraskan di kalangan pelajar.
Seakan Islam dan syariatnya adalah monster yang menakutkan. Walhasil, generasi muda muslim pun menjadi rendah diri dengan identitas keislamannya, hal ini pun berhasil membuat remaja muslim semakin jauh dari agamanya.
Pendidikan sekuler bukan hanya menjauhkan generasi muda kekinian dari agamanya, pendidikan sekuler juga melahirkan generasi bermental rapuh layaknya stroberi. Sebab tumbuh dengan kemudahan yang ditawarkan teknologi.
Awalnya pemberian istilah generasi stroberi ini, digunakan untuk menyebutkan generasi muda kekinian (generasi setelah milenial). Lebih khusus, istilah ini ditujukan pada sebagian generasi muda kekinian yang “lunak” layaknya buah stroberi.
Buah yang tampak indah dan eksotis, tetapi begitu dipijak atau ditekan, ia mudah sekali hancur. Inilah gambaran sebagian generasi muda saat ini. Generasi yang mudah menyerah, kerap merasa tertekan, dan gampang sakit hati.
Kondisi kehidupan yang sulit dan tidak mendukung membuat mereka mudah insecure dan mengalami inferiority complex yang parah. Di saat yang sama, masa remaja merupakan masa dengan tingkat pengendalian emosi yang belum stabil.
Remaja kita yang tidak memiliki standar hidup yang jelas, minim pemahaman agama, ditambah gempuran lingkungan pergaulan remaja yang serba bebas, membuat remaja kita mudah melakukan tindakan amoral dan tidak sesuai nilai-nilai agama.
Tidak mengherankan, mudah bagi kita menemukan remaja berkarakter emosional. Mudah marah, mudah mengeluarkan sumpah serapah, berkata-kata kotor ke teman sebaya, bahkan tidak segan melakukan tindakan kriminal, tanpa rasa takut.
Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka bangga saat mampu melakukan kriminalitas. Selain kriminalitas, narkoba, tawuran, seks bebas, kekerasan seksual, dan bullying juga sudah lekat dalam keseharian remaja kita.
Pendidikan sekuler yang sejak awal menihilkan peran agama membentuk generasi muda yang kehilangan visi hidup dan tidak lagi meyakini Sang Pencipta dengan seperangkat aturan-Nya dapat menyelamatkan manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sehingga generasi muda kekinian menjadi generasi cuek dan pragmatis yang minus tanggung jawab, baik terhadap masa depan dirinya, keluarga, masyarakat, negara, apalagi agama.
Maunya serba mudah dan instan. Tidak mengherankan, generasi muda saat ini sering mengalami penyakit “overthinking” (terlalu banyak waktu untuk memikirkan suatu hal dengan cara yang merugikan) serta mengalami “quarter life crisis” (merasa tidak memiliki arah hidup, khawatir, dan bingung).
Quarter life crisis yang terjadi pada generasi muda salah satunya adalah mudah cemas dengan berbagai harapan yang tidak bisa dicapai sebab hidupnya tidak biasa berjuang dan tidak bisa susah. Ketika menghadapi kondisi sulit, mereka mudah menyerah, tidak berani berjuang, berupaya untuk terus menghindari masalah, sehingga sulit bagi mereka menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan.
Dengan mudah mereka mengatakan butuh “healing” atau yang paling ekstrem adalah bunuh diri. Belum lagi, pandangan hidup sekuler juga membuat masyarakat dan pemerintah melihat segala kondisi, termasuk masalah pemuda hanya dari kaca mata materi.
Besarnya bonus demografi yang luar biasa hanya dihitung sebagai potensi menggerakkan ekonomi bangsa, yang masih lesu akibat wabah dan krisis yang melanda dunia. Dalam pemerintahan sekuler kapitalisme, posisi penguasa memang hanya sebatas regulator.
Penguasa dan negara tidak berfungsi mengurus dan menjaga umat sebagaimana diajarkan Islam. Mereka hanya hadir demi melegitimasi kerakusan para pemilik modal.
Ketika ada masalah bunuh diri seperti saat ini, pemerintah hanya berfokus menyelesaikan masalah cabang, seperti menggenjot UMKM atau meningkatkan pengembangan ekonomi kreatif, sehingga anak muda tidak hanya berfokus untuk masuk universitas, atau agar penghasilan orang tua bertambah sehingga dapat membiayai uang kuliah yang mahal jika anaknya tidak lulus di PTN.
Bukan mencari penyelesaian masalah pada akarnya. Sehingga pendidikan bisa dinikmati setiap kalangan, dan bagaimana pendidikan dapat dimaksimalkan dalam membentuk pemuda yang berkepribadian Islami; yaitu pemuda yang berkepribadian tangguh, cerdas, dan memiliki budi luhur yang tinggi, yang di kemudian hari dapat memajukan dan mengharumkan nama bangsa. Pertanyaannya, akankah kondisi ini terus dibiarkan?
Pemuda dalam Pendidikan Islam
Pendidikan sekuler saat ini hanya melihat keberhasilan prestasi siswa didik dari nilai di atas kertas. Prestasi demi prestasi memang didapatkan, tetapi jauh dari pembentukan kepribadian dan akhlak terpuji.
Berharap lahirnya generasi terbaik pun sekadar harapan yang jauh dari kenyataan. Islam memberikan perhatian besar kepada generasi, bahkan sejak dini.
Pada masa Islam berjaya, keluarga kaum muslim menjadi madrasah pertama bagi putra-putrinya. Sejak sebelum lahir dan saat balita, orang tua mereka telah membiasakan putra-putrinya yang masih kecil untuk menghafal Al-Qur’an dengan cara memperdengarkan bacaannya.
Negara juga menjamin akses pendidikan pada semua warga negara secara cuma-cuma, tetapi tetap berkualitas, hingga akhirnya menghasilkan masyarakat yang kokoh serta sejahtera. Hal ini bukan cerita dongeng melainkan telah terbukti pada masa kegemilangan Islam selama lebih dari 13 abad lamanya.
Output sistem pendidikan Islam melahirkan para pakar dalam keilmuan sekaligus menjadi ulama dengan karya yang mendunia. Diantaranya, Imam Syafi’i, di usianya yang menginjak 14 tahun telah dijadikan sebagai rujukan dalam memberikan fatwa agama. Karya-karyanya yang luar biasa, telah menjadikannya sebagai ulama besar yang akan selalu dikenang hingga akhir jaman.
Muadz bin Jabal, salah seorang sahabat Rasul yang terpercaya, Rasulullah saw pernah memujinya: “Muadz bin Jabal adalah orang yang paling tahu tentang halal dan haram di kalangan umatku."
Beliau ketika dinobatkan menjadi hakim agung negara, usianya masih 18 tahun. Demikianlah, profil generasi yang bangga dengan identitas Islam.
Dengan dorongan iman, Mereka senantiasa berlomba-lomba dalam ketaatan dan kebaikan. Oleh karena itu, penting untuk mengembalikan posisi pemuda sebagai tonggak peradaban Islam. Wallahu a’lam bisshowab.