Senins, 15 AGUSTUS 2022
Oleh :Hj.Padliyati Siregar ST
JAKARTA -- Aqsa Working Group mengecam keras langka Zionis Israel yang kembali membombardir Gaza. Setidaknya 13 orang syahid termasuk seorang gadis berusia lima tahun. "AWG mengutuk sekeras kerasnya atas agresi Zionis ini.
Serangan ini, sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah rezim dzalim yang tersisa yang harus dimusnahkan dari muka bumi," tulis AWG dalam keterangan tertulisnya kepada Republika.co.id, Ahad (7/8/2022).
Menurut AWG, klaim Zionis Israel bombardier Gaza sebagai upaya pencegahan, adalah alasan mengada-ada. Mereka seharusnya tidak boleh direspon dengan bombardir properti dan korban sipil dan anak-anak. Para pemimpin dunia dan seluruh komunitas internasional dituntut untuk merespons kedzaliman ini dengan nyata.
"Tidak sekedar gimmick diplomatik apalagi standar ganda, memberikan kecaman tapi terus menjalin hubungan mesra dengan Zionis. Atau mengutuk, memberi sanksi, dan memboikot Rusia atas invasi ke Ukraina tapi membiarkan kedzaliman Zionis di Palestina.
Namun atas nama nasionalisme tidak ada yang menolong mereka kecuali diri mereka sendiri. Seolah urusan Palestina adalah urusan mereka, bukan urusan kita. Indonesia juga tak luput dari slogan Nasionalisme, menggangab Palestina dan Israel bukan urusan Indonesia, melainkan urusan mereka, bangsa Arab dan Yahudi. Urusan Indonesia adalah nasib kita dan hari depan anak cucu kita.
Demikian disampaikan mantan pejabat tinggi di Indonesia sebagaimana dikutip dari Sindonews (19/5/2021) terkait maraknya pro-kontra dukung-mendukung perang Israel-Palestina, –yang bisa jadi mewakili pemikiran sebagian umat Islam di Indonesia.
Paham Nasionalisme membuat negeri negeri muslim tidak maksimal untuk memberikan bantuan kepada rakyat Palestina.Palestina butuh pengerahan militer. Meski bantuan kemanusiaan sudah dilakukan berkali-kali, penjajahan dan perampasan tanah Palestina tetap saja terjadi. Berbagai kecaman tak mempan.
Beragam kutukan tak bisa menahan bombardir Israel atas Palestina. Janganlah kita terjatuh dalam lubang yang sama. Konflik antara Gaza, Palestina dan Israel tak kunjung berakhir, serangan-serangan terus saja dilakukan oleh pasukan israel ke palestina, mulai dari pengeboman, penembakan, pemerkosaan, rumah-rumah mereka diambil dan bahkan tempat-tempat ibadah pun diserang.
Pasukan Israel akan terus melakukan penyerangan ke Palestina (Gaza) hingga tempat suci itu dikuasai atau diambil alih oleh Israel, segala cara mereka lakukan untuk merebut tanah palestina karena tanah tersebut adalah situs tersuci ketiga umat islam, orang-orang Yahudi menyebutnya sebagai Temple Mount, merujuk pada dua kuil yang dikatakan berdiri disana pada zaman kuno, komplek ini menjadi jantung konflik antara Israel dan Palestina, yang berada di Yerusalem Timur yang dicaplok Israel.
Tanah Palestina dianggap suci bagi orang-orang Yahudi bahkan merupakan situs paling suci dalam Yudaisme, maka dari itu kaum yahudi dalam hal ini Israel selalu melakukan serangan-serangan brutal untuk mengusir atau menyakiti warga Palestina.
Padahal sejatinya, tanah Palestina adalah Milik kaum Muslimin, tanah yang telah ditaklukkan oleh Sayyidina umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-ayyubi. Adapun Masjid Al Aqsa merupakan kiblat pertama umat muslim sebelum dipindahkan ke Baitullah, tetapi kini Tanah yang suci itu berusaha direbut Israel laknatullah.
Umat islam Palestina telah menangis darah dan menjerit histeris meminta pertolongan kepada dunia terlebih kepada saudara seimannya, umat islam di seluruh penjuru dunia khususnya para penguasa muslim tersebut, padahal kita ketahui bersama bahwa permasalahan Palestina adalah permasalahan akidah atau keimanan, bukan sekedar masalah kemanusiaan belaka.
Pendudukan kaum Zionis atas Palestina bukan sekadar mengakibatkan kematian ratusan ribu warganya, tetapi juga menciptakan penderitaan yang terus-menerus yang dialami jutaan warga lainnya.
Dengan demikian, masih bercokolnya kaum penjajah Zionis Israel inilah yang menjadi pangkal persoalan di tanah Palestina dan menyebabkan penderitaan kaum Muslim berkepanjangan. Palestina adalah negeri yang tak bisa dipisahkan dengan ajaran Islam.
Dalam beberapa ayat Al-Quran disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan negeri Syam, negeri yang diberkahi dan disucikan Allah SWT. Sebagaimana diketahui, Syam adalah negeri yang terdiri dari Suriah, Yordania, Libanon dan Palestina (termasuk yang diduduki Israel).
Allah SWT berfirman:
وَنَجَّيۡنٰهُ وَلُوۡطًا اِلَى الۡاَرۡضِ الَّتِىۡ بٰرَكۡنَا فِيۡهَا لِلۡعٰلَمِيۡنَ
Kami menyelamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam (TQS al-Anbiya’ [21]: 71). Ibnu Katsir berkata, “Allah memberitahukan tentang Ibrahim yang diselamatkan dari api buatan kaumnya dan membebaskan dia dari mereka dengan berhijrah ke Negeri Syam, tanah yang disucikan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/310).
Bangsa Yahudi bukanlah penduduk asli Palestina. Kaum Zionis Yahudi mengarang propaganda Palestina sebagai tanah air mereka. Lalu mereka mencari legitimasi bahwa agresi militer mereka adalah bentuk membela diri dari serangan orang-orang Palestina.
Pendudukan kaum Zionis atas tanah Palestina bermula ketika Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour pada tahun 1917.
Deklarasi yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Inggris kala itu, Arthur Balfour, merupakan restu Inggris kepada kaum Yahudi di Eropa untuk bermukim di wilayah Palestina.
Secara resmi Pemerintah Britania Raya mendukung rencana Zionis mendirikan tanah air di Palestina. Semua dilakukan lewat lobi para pengusaha kaya Yahudi di Inggris Penyelesaian Krisis Palestina Butuh Kepemimpinan Berorientasi Hukum Islam Mengutip apa yang di sampaikan oleh Ustazah Iffah acara menyelesaikan krisis Palestina adalah dengan menghapus eksistensi pendudukan Israel di tanah Palestina.
Mereka menggunakan kekuatan fisik, kekuatan militer, kekuatan lobi internasional yang di-backup negara adidaya maka penyelesaiannya tidak mungkin dengan menyerahkannya kepada kemampuan kaum muslimin Palestina kemudian kita sokong dana dan senjata.
“Tetapi memang membutuhkan kepemimpinan yang benar-benar berorientasi pada hukum-hukum Islam,” tegasnya.
“Kepemimpinan Islam ini tentu diharapkan muncul dari dunia Islam, muncul dari keinginan seluruh kaum muslimin untuk menerapkan seluruh syariat pada aspek politik dan pemerintahan. Dan kaum muslimin memiliki seorang pemimpin dan mengambil Islam sebagai konstitusi dan perundang-undangannya,” imbuhnya.
Ia menggambarkan saat Islam ditegakkan maka, menurut istilah para fuqaha, kita mengenalnya sebagai sistem pemerintahan Islam. Sistem ini terbukti mampu menghalangi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin untuk menganeksasi wilayah.
Menghalangi mereka mencaplok sebuah wilayah apalagi sampai menduduki secara brutal seperti apa yang dilakukan Israel. Bahkan dalam kondisi sangat lemah, kepemimpinan Islam dalam Khilafah masih menunjukkan kekuatannya untuk tidak menyerahkan tanah Palestina meskipun hanya sejengkal kepada zionis Israel.
Untuk itu, menurutnya, pertemuan pemimpin kaum muslimin saat ini tidak cukup hanya dengan formalitas dan konsolidasi di atas kertas. Harus dipertanyakan oleh publik, karena yang dibutuhkan bukan sekadar diplomasi tapi harus muncul kesamaan persepsi terhadap rekomendasi Islam yang termaktub dalam fikih siyasah.
Jadi pemimpin-pemimpin tersebut sangat layak bertemu dan membahas bahwa sudah terlalu banyak pelanggaran hukum syariat dan pengingkaran terhadap hukum-hukum Allah yang terjadi saat ini. Di dalam pemberlakuan sistem politik sekuler, dalam kebijakan-kebijakan yang tidak merujuk pada syariat.
“Dan ini harus diakhiri. Mengakhirinya adalah dengan sebuah spirit ingin mendapatkan solusi hakiki yaitu yang berasal dari Islam. Dan tidak bisa terwujud kalau tidak kembali kepada Islam secara sempurna kecuali dalam sistem kepemimpinan Islam,” urainya.
Salah satu jalan menapaki terwujudnya kepemimpinan Islam, lanjutnya, adalah dengan kesadaran pemimpin-pemimpin kaum muslimin.
Dimulai dengan kesadaran kaum muslimin bahwa yang dikehendaki bukanlah solusi abal-abal atas krisis Palestina, tetapi solusi Islam yang mesti dipahami kaum muslimin yaitu diusirnya Israel dari bumi Palestina.
“Sehingga bisa dikembalikan hak tanah kaum muslimin ini kepada pemilik sahnya yaitu kaum muslimin,” ucapnya.
Ia menambahkan jika membutuhkan kekuatan militer, maka seharusnya dikerahkan. Adalah kewajiban bagi setiap yang mengemban amanah kepemimpinan untuk bisa menolong agama Allah.
Menolong apa yang diperintahkan Allah dengan menggunakan potensi yang dimiliki, yaitu kekuatan umat, kekuatan politik, dan kekuatan militer untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah.
“Kalau harus mengirim militer, seluruh pemimpin kaum muslimin harusnya menyadari itu. Kalau hitung-hitungan teori saja memang membenarkan, apalagi di dalam syariat juga diperintahkan untuk itu.
Maka ada dua manfaat yaitu menunjukkan solidaritas kepada yang tertindas di Palestina, dan sudah pasti mendapatkan pahala dan rida Allah. Selanjutnya Allah akan berikan kemenangan kepada siapa saja yang menolong agama-Nya,” pungkasnya.
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ
Bukankah Allah SWT telah berfirman: “Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian” (TQS al-Baqarah [2]: 191). Wallahu A’lam Bishawab