Kapitalisme Produksi Anak Durhaka

Sabtu, 6 NOPEMBER 2021

Emirza, M.Pd

(Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial)

Dalam wawancara dengan tvOne (31/10/2021), seorang ibu bernama Trimah (65) yang dititipkan ke panti jompo Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, mengatakan alasan anaknya menitipkannya ke panti jompo karena mereka tidak mampu membiayai orang tua. Ia berharap hati anak-anaknya suatu saat terbuka untuk merawatnya. (viva.co.id, 31/10/2021).

EMIRZA

Postingan akun bernama Cek Rozz Jannah tentang seorang ibu yang dibuang oleh anaknya sendiri viral di Facebook. Diposting pada Minggu 20 Oktober 2019, unggahan itu sudah dibagikan hingga 5 ribu kali. Kejadian memilukan ini terjadi di Malaysia.

Cek Rozz Jannah bercerita bahwa ibu-ibu yang fotonya ia unggah diminta oleh sang putri membeli barang di sebuah toko. Namun putrinya itu tak lagi datang untuk menjemput ibunya lagi. (Tribunnews.com, 21/10/2021).

Fenomena anak menelantarkan dan menitipkan orang tua di panti  jompo masih terus ada. Sedih rasanya bagi orang tua karena tidak lagi mendapat kasih sayang anak-anaknya. Kisah pilu lansia yang “terbuang” seolah tidak berujung. Selalu terjadi dalam sistem kapitalisme. Inikah salah satu hasil dari penerapan sistem kapitalisme?

Kapitalisme Matikan Fitrah Anak

 Kerasnya tekanan hidup menjadi pembenaran bagi anggota keluarga mengalihkan pengurusan orang tua pada panti jompo. Tidak hanya sampai di situ, penelantaran pun sering terjadi, “membuang” orang tua di pinggiran jalan atau membiarkan mereka mengemis demi mendapatkan recehan untuk keberlangsungan hidup.

Sistem kapitalisme tidak henti memproduksi kemiskinan massal. Pemimpin dalam sistem ini pun telah menunjukkan pada publik tidak bisa me-ri’ayah rakyat, melepaskan tanggung jawab memenuhi kebutuhan rakyat.

Sistem ini juga yang telah mematikan fitrah manusia untuk memuliakan orang tua. Anak tidak lagi menjadi penyejuk mata bagi orang tua, berubah menjadi sosok yang tidak berbelas kasih. Pemicunya karena materi, ketidakadilan ekonomi, dan lemahnya penanaman nilai agama menjadikan hilangnya fitrah sebagai manusia.

Luar biasa sistem kapitalisme menghancurkan hubungan orang tua dan anak. Kapitalisme sumber utama malapetaka dalam keluarga. Sistem ini menghilangkan pemahaman tentang kewajiban dan hak antara nggota keluarga karena nilai-nilai Islam telah ditinggalkan dalam ranah keluarga.

Sistem ini juga mematikan fitrah anak memuliakan dan menghormati orang tua. Anak durhaka pun terus lahir dari sistem ini, apalagi sistem ini menjamin setiap orang bebas berbuat, bebas berpendapat, dan negara melindungi kebebasan ini. Pendidikan sekuler berkontribusi menghasilkan orang yang cakap ilmu, tetapi bobrok perilaku.

Sebab, pendidikan sekuler mengedukasi nilai-nilai liberal pada generasi. Nilai HAM menjadikan setiap anggota keluarga individualis, tidak mau mendengar nasihat sesama termasuk orang tua.

Seharusnya, negara tampil terdepan menyelesaikan berbagai konflik di ranah keluarga. Seperti kisah lansia yang telantar dan terbuang dari keluarganya atau sikap anak yang abai terhadap pengurusan pada orang tuanya sehingga tidak akan ada lagi kisah pilu lansia yang menderita di akhir hidupnya.

Negara juga bertanggung jawab mengubah pendidikan sekuler dengan pendidikan berbasis Islam. Output dari pendidikan Islam, generasi berkepribadian islami yang utuh, cakap ilmu, dan berakhlak mulia. Jika negara telah melakukan semua kebijakan tersebut, publik tidak akan lagi menemukan disharmoni orang tua dan anak.

Tidak akan ada orang tua yang merasa “terbuang” oleh anak-anaknya. Orang tua akan merasa tenang dan mendapat curahan cinta sepanjang hidupnya. Hal ini akan terwujud hanya dalam sistem Islam yang menebar rahmat bagi seluruh alam.

Islam Mendidik Anak

 Cara mendidik serta perlakuan orang tua kepada anaknya akan memberi kesan kuat dalam membentuk karakter atau kepribadian anak ketika dewasa.

Didikan yang buruk dari orang tua tentu akan memperburuk kepribadian anak saat dewasa. Dalam hal ini, Islam memiliki konsep utuh dalam mendidik generasi. Dalam Islam, akan terbentuk generasi yang menghormati orang tua, menyayangi orang yang lebih muda, serta menghargai sesama manusia.

Seorang anak wajib melakukan birul walidain dan memuliakan orang tuanya. Kewajiban tersebut Allah posisikan setelah beribadah dan menauhidkan-Nya. Dosa besar bagi siapa pun yang memperlakukan orang tuanya dengan buruk. Rasulullah saw. bersabda, “Dosa besar yaitu menyekutukan Allah dan durhaka pada orang tua.” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).

Adapun perilaku buruk orang tua pada anaknya, Allah segerakan balasannya di dunia. Hadis Rasul SAW., “Ada dua pintu petaka yang disegerakan akibatnya di dunia, yaitu orang yang zalim dan durhaka kepada orang tua.” (HR Al-Hakim).

Firman Allah SWT, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah!’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Isra: 23—24).

Khilafah Penjamin Kesejahteraan Rakyat Negara berfungsi sebagai pe-riayah rakyat. Segala pemenuhan kebutuhan rakyat semestinya menjadi tanggung jawab negara. Negara memiliki andil besar mencari jalan keluar dari kesulitan ekonomi yang menimpa jutaan rakyat Indonesia.

Dalam Khilafah, negara menjamin kesejahteraan rakyat melalui beberapa mekanisme. Pertama, Khilafah menetapkan bahwa setiap muslim lelaki (khususnya kepala rumah tangga) bertanggung jawab bekerja guna menafkahi keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.

Hal ini didukung lapangan pekerjaan memadai yang negara sediakan. Kedua, Khilafah mendorong masyarakat saling tolong-menolong jika terjadi kekurangan atau kemiskinan yang menimpa individu masyarakat. Maksudnya, keluarga dan tetangga turut membantu mereka yang dalam kondisi kekurangan dengan berbagai macam aturan Islam, seperti zakat, sedekah, dan lainnya.

Ketiga, Khilafah menerapkan sistem ekonomi Islam dan mengatur berbagai kepemilikan demi kemakmuran rakyat, baik kepemilikan individu, umum, dan negara.

Negara juga menjamin kehidupan setiap individu masyarakat agar benar-benar mendapatkan sandang, pangan, dan papan. Jika kesejahteraan rakyat telah terjamin, kita tidak akan menemukan lansia yang terbuang atau telantar karena faktor ekonomi. Keberhasilan Khilafah dalam mendidik generasi pun telah teruji.

Tidak akan lagi kita temukan pula anak durhaka yang tidak beradab pada orang tua. Khilafah akan melahirkan insan yang memahami tanggung jawab merawat orang tua.

Karena mereka memahami dengan baik, bahwa orang tua ialah pintu tengah surga yang paling indah. Seperti Rasul SAW. sampaikan, “Orang tua merupakan pintu surga yang paling pertengahan, jika engkau mampu, jagalah pintu tersebut.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban). Wallahualam. (**)