Pengaruh Ucapan Orangtua Terhadap Kesehatan Mental Anak

Kamis, 22 Oktober 2020

KHAIRUL HUDA SIMAMORA 

Mahasiswa IAIN Samarinda

Orangtua dan anak adalah dua manusia yang memiliki ikatan emosional paling kuat dalam sebuah hubungan. Karena itulah, pola asuh orangtua sangat menentukan menjadi seperti apa seorang anak kelak.

Bagaimana dan seperti apa seorang anak tumbuh dan berkembang tergantung bagaimana dan seperti apa orangtua menjaga kesehatan mental anaknya sejak dini di dalam lingkungan keluarga.

KHAIRUL HUDA SIMAMORA

Walaupun lingkungan luar rumah tidak kalah pengaruhnya, namun karakter yang dibentuk di lingkungan keluarga bersama orangtuannya akan mempengaruhi hubungannya dengan lingkungan di luar rumah nantinya.

Untuk membangun karakter yang baik maka yang harus diperhatikan adalah kesehatan mental anak itu sendiri. Tanggungjawab orangtua terhadap perkembangan kesehatan mental anaknya bahkan dimulai ketika seorang anak berada di dalam kandungan Ibunya, Tapi seringkali hal ini dianggap tidak terlalu penting dan dilupakan oleh sebagian orangtua.

Padahal membangun hubungan yang baik antara orangtua dan anak sejak awal akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bahkan terhadap kesehatan mental seorang anak, mulai dari pola pikirnya (kemampuan berpikir jernih), bagaimana mengendalikan emosi, perilaku baik ataupun buruk, perlakuan terhadap orang lain maupun dirinya sendiri, bagaimana caranya bersosialisasi dengan anak seusianya, juga bagaimana membangun kepercayaan diri anak tersebut dan lain sebagainya.

Untuk membangun Karakter positif tentu saja seorang anak harus memiliki kesehatan mental yang baik.

Kesehatan mental seorang anak dibangun di dalam keluarga melalui beberapa kebiasaan kebiasaan yang dilakukan secara berulang ulang oleh orangtua ataupun anggota keluarga yang juga nantinya akan menentukan perilaku seorang anak, seperti suasana yang nyaman di rumah, hukuman hukuman yang diberikan kepada anak ketika melakukan suatu kesalahan, keteladanan orangtua, juga gaya komunikasi orangtua dengan anak ataupun dengan anggota keluarga lainnya.

Oleh sebab itulah, lingkungan keluarga bertanggungjawab penuh dalam pembentukan masa depan anak. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Sumber Daya Manusia pun sangat dipengaruhi oleh pendidikan dasar yang diterimanya sejak dalam lingkungan keluarga. Anak anak yang diasuh dengan pendidikan yang baik, diharapkan akan menjadi anak yang memiliki kualitas hidup yang baik.

Salah satu hal penting dalam menjaga dan membentuk kesehatan mental anak adalah gaya komunikasi orangtua dengan anak. Seperti yang kita ketahui bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan untuk dipercaya, dihargai, dan diperhatikan, walaupun dari kita banyak tidak menyadari hal itu.

Ucapan orangtua tentu sangat mempengaruhi perkembangan kesehatan mental anak. Baik ucapan positif maupun negatif. Tetapi tidak selamanya ucapan yang positif akan menghasilkan hal positif juga, tergantung sudut pandang anak ketika itu, tetapi bagaimanapun orangtua adalah panutan yang akan ditiru kebiasaannya.

Oleh sebab itu, orangtua harus selalu berkomunikasi dengan kata kata yang positif, karena keluarga menjadi lingkaran sosial yang pertama yang anak kenal.

Orangtua akan jadi teman dan jadi orang pertama yang akan selalu dipercayai oleh seorang anak. Jadi, apapun yang dikatakan orangtuanya pasti dianggapnya benar dan akan dibawa sampai dewasa bahkan mempengaruhi kebiasaan anak.

Misalnya, seorang anak yang rajin sekali cuci tangan, ternyata kebiasaan tersebut bermula ketika dulunya anak tersebut sering sariawan, dan kata ibunya, penyebabnya adalah bakteri yang bisa jadi tangan anaknya yang kurang bersih.

Jika saat itu yang diucapkan orangtuanya kata kata negatif seperti memarahi, menghina atau dengan kekerasan verbal lainnya maka secara tidak langsung akan muncul labeling, kata mama saya anaknya begini-begini, misalnya.

Hal itu pasti tertanam dalam diri anak, yang pada akhirnya bisa jadi anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri atau penakut atau bahkan tidak punya empati.

Ucapan negatif juga bisa memunculkan trauma pada anak. Misalnya, anak mengajukan pendapat kepada orangtua, atau ingin membeli sesuatu yang dibutuhkan, tetapi malah memarahi anak tersebut, dengan demikian anak akan takut bahkan tidak mau lagi untuk mengajukan pendapat.

Ketika orangtua memberikan hukuman atau pelajaran kepada seorang diharuskan untuk lebih berhati hati, diupayakan untuk menghindari hukuman yang mengarah pada kekerasan fisik maupun verbal seperti membentak atau memarahi dengan kata kata kasar atau bahkan cacian atau makian, karena ucapan negatif orangtua akan membekas dan bisa mengganggu psikologi anak.

Seorang anak yang memiliki orangtua yang cenderung tempramen akan lebih sering mendapatkan kekerasan verbal sehingga memiliki resiko yang lebih besar terkena depresi, kegelisahan dan bahkan bisa mengakhiri hidupnya.

Walaupun kita ketahui bahwa, tidak ada pola asuh yang sempurna, pasti ada cacatnya, tapi setidaknya mendekati sempurna. Anak anak yang tumbuh dari pola didikan yang baik cenderung aman dalam hal kesehatan mental.

Tapi tidak bisa dipungkiri ketika seorang anak memiliki lingkungan baru di luar rumah, bisa jadi kesehatan mentalnya dipengaruhi oleh lingkungan barunya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Departemen Psikologi Kepribadian dan, Sosial Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Suryanto dkk, dalam judul Jurnal “Deteksi Dini Masalah Psikologi Anak Jalanan Pada Orangtua Asuh Di Rumah Singgah” menemukan bahwa “orangtua asuh mengalami hambatan terkait dengan orangtua kandung, dimana ada gap yang tidak bisa dihindari antara perlakuan terhadap anak di rumah singgah dengan perlakuan di rumah sendiri.

Di rumahnya anak kerap kali mendapatkan tindakan kekerasan dari orangtua sehingga sulit bagi orangtua asuh untuk mengendalikannya.

Dalam penelitian tersebut juga menemukan masalah utama dari anak anak selalu didasarkan pada kehidupan emosional. Bentuk permasalahan yang diungkapkan orangtua asuh meliputi anak yang mudah marah, mudah tersinggung, kurang terbuka, membentak teman dan pendamping, memukul teman, bicara dengan emosi yang memuncak dan bahkan ada beberapa kasus dimana beberapa anak asuh ingin mengakhiri hidupnya.

Hal tersebut menunjukan bahwa anak asuh lebih banyak diliputi oleh afeksi negative seperti kecemasana, kemarahan, perasaan bersalah, dan kesedihan. Sementara itu, faktor penyebab yang membuat anak asuh bermasalah menurut orangtua asuh selain factor kemiskinan dalam keluarganya juga kurangnya kasih sayang orangtua dan perilaku kekerasan yang diterima anak dari orangtua kandung.

Selanjutnya dijelaskan bahwa anak anak yang memperlihatkan perilaku kekerasan dan destruktif, adalah anak anak yang kurang ditanamkan perasaan secure dalam relasi dan interaksinya bersama keluarga (Suryanto, dkk, Departemen Psikologi Kepribadian dan Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, 2016). (**)

Editor: Ahmad Yani