Rabu, 21 Oktober 2020
LAILY NURHANIFAH, Mahasiswa IAIN Samarinda
Sekarang, masyarakat semakin dimudahkan dengan adanya layanan internet. Masyarakat bisa berkomunikasi, mendapatkan informasi terbaru, berbelanja, dan bisa mencari penyelesaian maslah yang sedang dihadapinya melalui internet.
Salah satunya yaitu mencari info kesehatan atau mengenai penyakit yang sedang dialaminya. Namun, terkadang masyarakat terlalu menelan mentah-mentah informasi yang dia dapatkan tanpa mencari kejelasan yang lebih dalam.

Hal ini bisa memperburuk pemikiran atau keadaan penderitanya. Mungkin awalnya merasa biasa saja, setelah mencari informasi melalui internet bisa menjadi beban pikiran yang baru. Kondisi seperti ini biasa disebut dengan cyberchondria.
Dilansir dari halodoc.com, cyberchondria adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang berpikiran berlebihan terhadap kondisi kesehatan mereka, sehingga mereka mencoba mencari gejala suatu penyakit lewat internet dan mendiagnosisnya sendiri. Hal ini mungkin biasa memudahkan atau membantu seseorang dalam menangani penyakitnya tanpa melalui tindakan medis.
Tapi biasanya kita tidak tahu seberapa parah penyakit yang sedang kita alami. Jika kita mendiagnosis penyakit kita sendiri, penanganan yang kita lakukan bisa saja salah.
Pikiran serta mental kita juga bisa terpengaruh karena terlalu cepat menanamkan diagnosis yang disimpulkan sendiri. Tidak hanya penyakit umum saja yang masyarakat gali informasinya lewat internet.
Masyarakat khususnya para remaja juga biasa mencari tahu dan terkadang mendiagnosis penyakit mental pada dirinya.
Biasanya lewat media sosial atau blog yang membahas mengenai masalah kesehatan mental.
Contohnya, saat seseorang sedang mengalami mood yang naik turun atau berubah-ubah, dia mencari tahu tentang kondisinya di internet.
Kemudian ia dengan mudahnya mendiagnosis bahwa dirinya sedang mengalami penyakit mental yaitu bipolar. Padahal jika merasa ada yang salah dengan kesehatan mental pada diri, lebih baik segera mengunjungi dokter ahli atau psikiater agar diagnosis lebih jelas serta mendapatkan penanganan dengan tepat.
Jika masyarakat terlalu sering melakukan cyberchondria dan mendiagnosis penyakitnya sendiri, maka kondisi ini bisa saja membuat penderita malu untuk berobat ke dokter dan takut menerima kenyataan.
Dalam diri kita kemudian timbul pemikiran atau bayangan terhadap hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi pada diri kita ketika mendiagnosis bahwa kita menderita suatu penyakit. Hal seperti ini akan menimbulkan keadaan baru yang disebut dengan hipokondria.
Dilansir dari alodokter.com hipokondria adalah masalah kesehatan mental berupa reaksi psikologis yang berlebihan terhadap suatu penyakit.
Hipokondria bisa terjadi sesekali atau terus menerus, tergantung pada tingkat keparahannya. Kondisi ini bisa terjadi pada usai berapa pun, tetapi tanda awal gejala biasanya terlihat pada usia 25-35 tahun.
Ciri-ciri seseorang mengalami hipokondria diantaranya: Adanya rasanya cemas yang berlebihan terhadap suatu penyakit.
Menghindari keramaian karena takut tertular suatu penyakit. Terlalu membesar-besarkan penyakit yang dialami padahal hanya gejala penyakit ringan.
Periksa ke banyak dokter untuk memastikan penyakitnya. Berulang kali memeriksa keadaan tubuh sendiri. Keadaan seperti ini sangat tidak nyaman untuk kita dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Karena terlalu termakan informasi internet dan terlalu cepat mendiagnosis penyakit yang sedang dirasakan. Diambil dari alodokter.com, pengobatan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan hipokondria adalah melalui cara psikoterapi dengan menggunakan terapi kognitif perilaku.
Dengan terapi ini, penderita hipokondria dapat terbantu untuk mengurangi serta mengidentifikasi rasa cemas, mengurangi perilaku menghindari keramaian, mengurangi perilaku dalam memeriksa keadaan tubuh sendiri, dan meminimalisir perasaan takut yang berlebihan saat memiliki suatu gejala penyakit.
Awalnya hanya sekedar cyberchondria, namun kemudian bisa menjadi hipokondria.
Oleh karena itu, lebih baik langsung periksakan diri ke dokter yang lebih ahli agar tidak salah dalam mendiagnosis dan memberikan penanganan.
Serta alangkah baiknya jika kita lebih berhati-hati dan lebih teliti saat kita mecari kebenaran atau mendalami suatu masalah melalui internet. Stay Safe! Stay Healthy! Stay Sane! (**)
Editor: Ahmad Yani