Seberapa Pentingkah Mempelajari Konseling Keluarga ?

Rabu, 21 Oktober 2020

Farah Rana Abidah, Mahasiswi Bimbingan Konseling Islam (Institut Agama Islam Negeri Samarinda)

Keluarga merupakan orang-orang yang berada paling dekat dengan diri kita. Orang yang bisa dibilang akan selalu ada buat kita. Keluarga merupakan bagian terkecil dari lingkungan permasyarakatan, karena keluarga hanya terdiri dari kepala keluarga, lebih jelasnya dipimpin oleh seorang ayah, yang anggotanya adalah ibu, anak-anak dan keluarga lainnya yang tinggal satu atap dengan kita.

 

Ket: Farah Rana Abidah-Mahasiswa IAIN Samarinda

Dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya keluarga ada nilai-nilai dalam suatu keluarga yang perlu kita pahami dan kita jaga.

Misalnya, nilai-nilai soal agama, nilai-nilai adat istiadat atau nilai kesopanan anak remaja terhadap orang yang lebih tua, nilai-nilai sosial, dan nilai-nilai tentang hubungan keluarga.

Contoh nilai yang bisa kita bahas di sini adalah nilai agama, saat ini terlihat jelas penurunan terhadap nilai agama, semua agama merasa bahwa umatnya kurang setia pada agama yang dipegangnya.

Nilai adat istiadat pun mengalami penurunan yang sangat merosot, dimana nilai adat istiadat itu mengandung atau mengajarkan nilai kesopanan, yang dapat dilihat pada perilaku anak-anak remaja saat ini yang perlakuannya bisa dibilang sangat meresahkan masyarakat.

Kemudian ada juga nilai sosial yang mengalami kemerosotan, seperti yang bisa kita lihat saat ini kebanyakan masyarakat bersikap individualis yaitu mementingkan dirinya sendiri dalam hal apapun.

Tidak ingin mendengarkan saran, pendapat, pikiran, tidak ingin membagikan sedikit harta nya untuk yang tidak mampu, serta tidak mau bergaul dengan kelas rendahan yang tidak sederajat dengannya, dengan begitu maka tali silaturahmi akan terputus.

Patut kita syukuri karena saat ini kita hidup di masa modern, dimana keluarga pada zaman ini mempunyai ciri utama dalam kemajuan dan perkembangan di bidang pendidikan, ekonomi, dan pergaulan.

Bisa dibilang kita ini adalah remaja modern yang tinggal di perkotaan, yang teknologi nya jauh lebih mumpuni dibanding dengan remaja pedesaan. Dengan canggihnya teknologi di perkotaan namun tidak dipungkiri bisa saja terdapat krisis keluarga pada keluarga modern yang tinggal di perkotaan.

Krisis keluarga yang penulis maksudkan di sini adalah keluarga dalam keadaan kacau, tidak terarah dan tidak teratur, orangtua bisa saja kehilangan kewibawaan nya sebagai orangtua dalam mengendalikan kehidupan anak-anaknya terutama remaja.

Krisis keluarga dapat terjadi karena adanya faktor-faktor sebagai berikut kurangnya komunikasi antar anggota keluarga, sikap egois yang saling tinggi, masalah perekonomian, masalah pendidikan, dan bisa saja karena jauh dari pemahaman mengenai agama.

Dari banyaknya permasalahan keluarga yang ada, pasti akan ada cahaya terang untuk menyelesaikannya. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan krisis keluarga, dua diantaranya dengan cara tradisional atau dengan cara yang lebih kekinian (modern).

Cara tradisional dapat dilakukan dengan cara kearifan atau dengan cara kasih sayang, kekeluargaan. Kemudian, cara yang lebih kekinian ialah cara konseling keluarga (family counselling).

Ada dua pendekatan yang bisa dilakukan seorang konselor dalam melakukan konseling keluarga ini.

Pendekatan pertama ialah melaksanakan pendekatan individual yang berupaya untuk menggali emosi, pengalaman, dan pemikiran klien.

Lalu, pendekatan kedua dengan cara pendekatan kelompok, yaitu dengan cara diskusi dalam keluarga yang akan dibimbing oleh konselor keluarga.

Disini lah seorang konselor akan berperan penting, guna konselor di sini adalah untuk membuat jalan tengah atau memberikan upaya bantuan kepada klien sebagai pembimbing yang berpengalaman dan terlatih yang dapat mengatasi masalah klien atau individu juga mampu mengembangkan potensinya serta dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang bisa saja berubah setiap waktu (S.Willis, 2004).

Apa sih Konseling Keluarga itu? Konseling sendiri merupakan hubungan antara dua individu atau lebih yang saling mempengaruhi biasanya di dalam nya terdiri dari seseorang yang berprofesi sebagai konselor yang bisa membantu klien, dan individu yang ingin menyelesaikan masalahnya, kemudian konseling dilakukan melalui pertemuan atau percakapan. (Thantawy, 1997).

Sedangkan keluarga adalah jajaran sosial, yang di dalam nya terdapat anggota yang terikat oleh suatu ikatan yang sangat mengikat untuk menjalani hidup bersama dan tidak saling mengurung (Hawari, 1996).

Dari dua paragraf di atas maka kita bisa simpulkan bahwa konseling keluarga merupakan proses pemberian bantuan dengan permasalahan dalam lingkup keluarga (ada ayah, ibu, anak dan termasuk anggota keluarga lainnya) dalam peranan dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga di dalam keluarga itu sendiri.

Gunanya konseling keluarga ialah agar anggota keluarga dapat membuat perencanaan dalam membenahi diri ke arah yang lebih baik dan agar dapat menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam keluarga dengan tujuan mencapai keluarga yang harmonis.

Proses dan tahapan yang dijalani seorang individu untuk melakukan konseling keluarga pun tidak lah mudah, karena dibutuhkan beberapa kali pertemuan untuk dapat memecahkan masalah si klien.

Adapun tahapan yang akan dilakukan oleh si klien seperti ini, pertama-tama klien harus datang menemui seorang ahli( konselor) secara sukarela (tanpa paksaan dari manapun atau dari siapapun), lalu si klien bisa menceritakan masalahnya kepada si konselor yang bisa dikatakan tahapan ini sebagai tahapan identifikasi klien.

Waktu untuk konseling tidak bisa hanya satu kali pertemuan saja, oleh sebab itu akan ada pertemuan lanjutan untuk konseling.

Kemudian di tahapan selanjutnya konselor akan menghadirkan salah satu anggota keluarga dan akan mengajak anggota keluarga itu untuk berdiskusi bersama klien membahas masalah keluarga mereka yang akan diselesaikan.

Didalam melaksanakan konseling juga diperlukan penggunaan teori-teori untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Ada banyak teori yang bisa digunakan di dalam melaksanakan konseling.

Ada pendekatan yang terpusat pada klien, menurut Roger klien akan mendapatkan kepercayaan dirinya yang memungkinkan ia akan dipercaya oleh anggota keluarga lainnya.

Peran konselor di sini ialah memfasilitasi komunikasi klien dengan anggota keluarga lainnya, kemudian ada juga pendekatan eksistensi yang di dalam nya menggunakan metode kognitif, behavioral, serta mengacu pada perbuatan.

Adapun teori konseling keluarga dengan pendekatan Gestalt, teori yang memberikan perhatian kepada apa yang anggota keluarga lakukan untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang telah dibuatnya.

Konselor dengan teori ini akan ikut tenggelam dalam keluarga tersebut, untuk mendengarkan suara dan melihat emosi mereka.

Selanjutnya, ada juga teori menggunakan Rational Emotive, yang akan membantu seluruh anggota keluarga melihat lebih jauh ke dalam dirinya masing-masing.

Apakah dirinya sendiri telah bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, di dalam teori ini mereka diberikan pelajaran untuk bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan.

Kemudian, apa sih pentingnya mengadakan konseling keluarga atau konseling individu mengenai keluarga ? Nah, jadi pentingnya diadakan konseling keluarga atau konseling individu adalah untuk mengurangi tingkat permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam keluarga sehingga dengan diadakannya konseling keluarga maka akan terbentuk keluarga harmonis.

Apabila terdapat suatu permasalahan keluarga yang disebabkan oleh hubungan keluarga maka diharapkan anggota keluarga mampu menyelesaikan masalah yang ada bersama-sama dan bersama-bersama mencari jalan keluar agar tidak terjadi, kesalahan yang membuat masalah yang ada semakin membesar.

Konseling keluarga sangatlah penting dan juga banyak memberikan manfaat bagi keluarga.

Penggunaan teori-teori serta beberapa pendekatan yang ada diharapkan bisa membantu permasalahan keluarga yang ada. Setidaknya mengurangi permasalahan, mulai dari yang paling sepele yaitu kesalahpahaman hingga permasalahan yang besar sekalipun. (**)

Editor: Ahmad Yani