Rabu, 21 Oktober 2020
Feni Trianingsih, Mahasiswa IAIN Samarinda
Generasi Z atau Generasi Milenial adalah kelompok umur yang muncul setelah Baby Boomers (lahir 1946-1964), Generasi X (lahir 1965-1976), dan Generasi Y (lahir 1977-1995).
Di Indonesia, Generasi Z adalah mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Gangguan Mental merupakan kondisi yang mempengaruhi suasana hati, pikiran dan perilaku seseorang.
Spektrum gangguan mental sangat luas seperti, tidak seimbangnya hormon, faktor genetik dan lingkunganpun dapat mempengaruhi dalam membentuk psikis seseorang.
Tak jarang diagnosis seorang psikolog dan akar kesehatan mental saling berselisihan. Gejala umum yang sering ditemukan seperti merasa sedih, cemas, dan gelisah dalam waktu yang lama, selalu menyendiri, tidak memiliki kepedulian kepada orang lain, karir, hobi dan pendidikan, serta besarnya rasa menyalahkan diri sendiri.
Pada kasus paling berat, seorang remaja sangat mudah terserang panik, melukai diri sendiri menggunakan benda tumpul maupun benda tajam, serta memunculkan rasa ingin mengakhiri hidupnya.
Faktanya gangguan mental yang terjadi pada remaja sangatlah memperihatinkan. Banyak sekali dari masyarakat yang berpikir bahwa masalah yang terjadi pada remaja hanya diliputi ketakutan yang tidak selaras (irasional) dan dapat di selesaikan dengan hanya berfikir positif.
Dari survei World Healt Organization (WHO) sebanyak 10-20% anak dan remaja di seluruh dunia mengalami gangguan secara psikis.
Separuh penyakit kejiwaan ditemukan sejak usia 14 tahun. 5-15% remaja berusia 12-18 tahun mempunyai kecenderungan untuk melakukan percobaan bunuh diri dan tersebar di seluruh penjuru dunia baik di negara maju ataupun negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di Indonesia sedikit sekali penelitian yang fokus tentang jumlah remaja yang memiliki gangguan mental. Dikarenakan gangguan mental di rasa tabu dan tersembunyi di masyarakat Indonesia.
Generasi Z atau Anak Milenial disebut juga Generasi Burnout yang rentan terhadap stress berat, emosi tak stabil, kelelahan fikis dan mental di sebabkan karena masalah finansial, penggunaan media sosial, lingkungan kerja atau beban kerja yang berat.
Salah satu kecemasan yang sering dialami generasi milenial adalah uang. Besar dari mereka mengalami kesulitan mencari pekerjaan dan memiliki kekhawatiran tentang uang.
Pada generasi milenial, mereka mengalami kesulitan untuk menabung karena gaya hidup yang tinggi, yang tidak memikirkan kebutuhan utamanya, sebagian besar dari mereka sangat mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang.
Kekhawatiran itulah yang membuat generasi milenial rentan mengalami gangguan mental. Seringkali mengalami kesulitan menentukan sebuah opsi dan merasa tidak bisa sama sekali untuk membuat sebuah pilihan.
Beberapa gangguan mental yang dialami oleh anak generasi Z atau anak milenial. Seperti, terjadinya Pelecehan dan Intimidasi di Tempat Kerja, membuat generasi milenial yang sudah bekerja memiliki gangguan metal. Isu-isu seperti itu membuat pekerjaan terbengkalai dan berujung meninggalkan pekerjaannya.
Merasa Kesepian, generasi z atau anak milenial merupakan generasi yang rentan mengalami kesepian dibandingkan generasi yang lainnya.
Tidak semua dari mereka memiliki kawan dekat untuk berbagi masalah, tidak banyak juga dari mereka memiliki dukungan sosial baik dari keluarga atau kawan yang berujung saling membandingkan berat masalah masing-masing.
Keinginan Bunuh Diri, banyaknya generasi muda kehilangan nyawa karena tekanan finansial yang banyak dari mereka melakukan bunuh diri dan kematian akibat overdosis alcohol dan narkoba.
Karena tekanan itu mereka melampiaskan dengan menggunakan narkoba. Gangguan Kecemasan, seringkali anak generasi z atau generasi milenial mengatasi suatu hal dengan kecemasan yang berlebih yang memicu munculnya gangguan pada dirinya.
Jenis kecemasannya sangat beragam seperti, serangan panik, kecemasan, hingga fobia yang dapat menghambat aktivitas sehari-hari.
ADHD Attention Deficit Hyperactivity Disorder, gangguan mental menyerang pada otak dengan gejala kurangnya perhatian, hiperaktif, serta impulsif yang menghambat kerja otak.
Meski tak jarang banyak anak yang dapat menyembunyikan saat masa sekolah, tingginya tuntutan membuat generasi z kewalahan dalam mengendalikan ADHD.
Jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera maka dapat menimbulkan gangguan dalam belajar. Gangguan Makan, Bulimia Anoreksia dan makan berlebih menjadi gangguan tersebut yang kerap menyerang anak generasi milenial.
Gangguan ini timbul dikarenakan tingkat stress yang tinggi dan cara pelampiasan dengan makan berlebih. Pada kasus Bulimia kebanyakan dari mereka memuntahkan kembali makanannya hingga mereka banyak kehilangan berat badan.
Depresi, tak hanya orang dewasa yang mengalami depresi tetapi generasi milenial juga mudah mengalami depresi dini. Jika tidak ditangani dengan segera dapat menimbulkan keinginan untuk melukai diri sendiri hingga keinginan untuk bunuh diri.
Sangat di sayangkan tingkat depresi yang dialami generasi milenial banyak yang tidak teratasi membuat angka kematian pada anak generasi milenial sangat tinggi.
Bipolar, terjadi ketika seseorang mengalami perubahan suasana hati yang sangat tidak normal. Seseorang yang mengalami bipolar memiliki energi yang sangat bersemangat serta menjadi sangat aktif dibandingkan dalam keadaan normal.
Tetapi dengan waktu yang hampir bersamaan dapat berubah menjadi depresi, merasa sangat sedih, terpuruk dan kehilangan minat untuk beraktivitas.
Ada beberapa ada beberapa cara yang dapat menurunkan resiko terjadinya gangguan mental, walaupun tidak semua gangguan mental dapat di cegah, caranya antara lain, tetap berinteraksi dan melakukan kegiatan yang disenangi. Mencoba ceritakan dan berbagi masalah yang tengah di hadapi pada keluarga ataupun teman dekat.
Selalu berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan. Melakukan olahraga rutin, makan dengan teratur, dan mengelola stress agar tetap baik.
Tidur dan bangun dengan tepat waktu setiap hari. Hindari penggunaan narkoba, mengonsumsi alcohol dan batasi minuman yang berkafein.
Mengkonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan oleh dokter dan konsumsi sesuai aturan pemakaian. Segera mungkin menghubungi dokter bila merasa mengalami gejala gangguan mental.
Ketika seorang anak yang mengalami gangguan mental dan ingin melakukan aktivitas yang berbahaya bagi dirinya bahkan ingin mengakhiri hidupnya, orang tua sangat berperan penting untuk memperhatikannya.
Orang tua dapat melakukan sebuah hubungan yang baik terhadap anak. Perlunya orang tua mengoreksi anak dan berempati agar hubungan anak dengan orang tua mejadi sangat baik, maka anak akan memilih solusi atau jalan keluar yang sangat tepat daripada untuk mengakhiri hidupnya.
Diperlukanya juga orang tua membuat sebuah zona yang sangat nyaman untuk anak agar mereka dengan nyaman untuk menceritakan atau sekedar membagi keluh kesah yang di alaminya dan memberi sebuah kepercayaan serta keyakinan yang sangat besar bahwa masalah mereka akan berakhir dengan cepat. (**)
Editor: Ahmad Yani