Selasa, 20 Oktober 2020
Jihaan Nabilah, Mahasiswa IAIN Samarinda Jurusan Bimbingan Konseling Islam
Pada saat ini, dunia telah digemparkan dengan adanya sebuah virus mematikan dan mampu menyerang siapa saja. Virus Corona menjadi ancaman untuk semua orang dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, tak terkecuali dalam bidang pendidikan.
Belajar di rumah adalah keputusan dari pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19, dikarenakan perintah menjaga jarak kepada semua orang termasuk guru dan teman-teman yang ada disekolah, tentu hal tersebut akan membatasi ruang gerak manusia untuk bersosial dan beraktivitas diluar rumah.

Maka manteri pendidikan memberi kebijakan agar semua sekolah serta kegiatan belajar mengajar yang bersifat mengumpulkan orang banyak harus dihindari, hal tersebut mengakibatkan seluruh sekolah dialihkan untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar di rumah masing-masing menggunakan sistem virtual.
Para guru berupaya untuk memberikan pengajaran kepada siswa melalui sistem jaringan dengan memanfaatkan beberapa alat komunikasi modern.
Dalam menerapkan school from home, orang tua sangat berperan penting dalam proses pembelajaran anak selama sistem daring saat ini. Jadi dengan adanya belajar di rumah, orang tua lah yang menjadi pendidik sebagai pengganti guru.
Seluruh kegiatan belajar siswa dilaksanakan di rumah, para guru akan memberi tugas kepada para siswa kemudian orang tua lah yang akan mendampingi dan membimbing proses pembelajaran tersebut kepada anak.
Peranan orang tua dalam mendidik anak berada pada urutan pertama. Oleh karena itu, orang tua lah yang mengetahui perkembangan, kepribadian dan karakter anak.
Pembelajaran jarak jauh atau school froom home tentu memberikan dampak tersendiri terhadap kegiatan belajar mengajar.
Tidak hanya itu, school from home ternyata juga menimbulkan dampak psikologis bagi para orang tua dan anak. Pada kondisi yang terjadi saat ini, para guru justru memberi banyak tugas kepada siswa nya tanpa memberikan materi terlebih dahulu.
Orang tua juga sangat keberatan dengan hal tersebut, yang mengakibatkan mental dan psikis anak akan menurun karena dituntut untuk belajar 24 jam tanpa henti.
Hal tersebut akan menimbulkan rasa jenuh. Pada umumnya anak terbiasa belajar di sekolah, mereka akan bosan dengan sistem pembelajaran daring. Rasa bosan pada anak inilah yang nantinya akan mengakibatkan tindak kekerasan apabila orang tua salah mendampingi proses belajar anak di rumah.
Kemampuan kecerdasan anak akan menurun apabila terjadi tindak kekerasan. Jika anak mulai merasa bosan mereka akan memberontak, disinilah awal mulanya anak yang memberontak akan dimarahi atau dibentak.
Dalam proses kegiatan pembelajaran, setiap orang tua memiliki cara yang berbeda-beda dalam menanggapi pelaksanaan sistem belajar online.
Proses belajar dari rumah ternyata mampu memberi respon yang berbeda-beda.
Terkadang, karena terkendala akses jaringan dan terbatasnya kuota yang digunakan, kemudian kurang konsentrasi terhadap apa yang sedang dikerjakan yang juga menjadikan anak bosan belajar di rumah.
Sebagaimana orang tua harus berusaha agar mereka bisa survive selama belajar di rumah.
Ketika menjalankan aktivitas school from home diperlukan kreativitas yang tinggi dari orang tua.
Sehingga, anak tidak terbebani dan merasa nyaman. Sebenarnya dampak tersebut tergantung karakter anak, adapun anak yang senang dengan gadget dan media sosial justru akan biasa-biasa saja, yang cukup berat yaitu peran orang tua, khususnya ibu karena tugasnya akan bertambah.
Ketika proses school from home berlangsung ibu harus bisa mengajari minimal mengawasi pada jam yang sudah ditentukan pihak sekolah.
Ketika saya melihat lingkungan sekitar, banyak orang tua merasa stres khususnya ibu karena tugas nya bertambah. Membagi waktu antara mengurus rumah dan mengajari anak bukanlah suatu tugas yang mudah, apalagi bagi para ibu yang ikut membantu perekonomian keluarga tugas nya akan menjadi dua kali lipat lebih ekstra.
Oleh karena itu frekuensi komunikasi guru terhadap anak harus lebih terjaga. Nah, disinilah sangat dibutuhkan optimalisasi peran guru BK. Guru BK berperan menjadi sahabat anak selama normal baru ini. Dulu, guru BK hanya mengurus siswa di sekolah, pada saat seperti ini tentu fungsinya sekarang berbeda.
Tetapi justru yang saya lihat sampai sekarang fungsi ini belum terlaksanakan.
Perlu kita ingat kembali bahwa orang tua adalah guru pertama dan rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Oleh karena itu, menciptakan mental anak juga menjadi tanggung jawab orang tua.
Ciptakan suasana tenang, nyaman tanpa adanya tekanan kepada anak selama belajar di rumah. Memperkuat mental anak sangat diperlukan saat ini, hal ini dapat dimulai dari orang tua terlebih dahulu.
Orang tua harus selalu senantiasa gembira, dari segi emosi cerdas, memberi makan dan minum yang sehat bagi anak, istirahat cukup, beribadah rukun dan aktif.
Para orang tua diharapkan untuk tetap mendampingi anak selama belajar dari rumah atau school from home, rumah yang penuh kasih sayang dan perhatian akan selalu tetap optimal.
Menurut saya pribadi menjadi sahabat untuk anak adalah kunci utama, dengan hal itu anak-anak dapat bergembira dan berprestasi.
Dengan demikian dampaknya adalah anak-anak yang belajar dengan gembira, prestasi akademiknya akan meningkat anak pun senantiasa belajar dengan materi yang diberikan. Maka dari pada itu, jadilah sahabat terbaik bagi anak.
Pada masa sekarang ini semua instansi pendidikan harus bisa memetik hikmah di masa pandemi Covid 19.
Kurikulum saat ini bisa disebut kurikulum darurat karena situasinya darurat, jadi jangan sampai siswa dituntut untuk mengejar target kurikulum yang normal. (**)
Editor: Ahmad Yani
#satgascovid19 #ingatpesanibu #ingatpesanibuwajibpakaimasker #ingatpesanibuwajibjagajarak #ingatpesanibuwajibcucitangan #wajibpakaimasker #wajibjagajarak #wajibjagajarakhindarikerumunan #wajibcucitangan #wajibcucitangandengansabun