Pandemi Menuntut Adanya Sebuah Sinergi

Selasa, 18 Agustus 2020

Oleh : Devita Deandra (Aktivis Muslimah Balikpapan)

Wacana untuk melaksanakan proses belajar tatap muka bagi siswa SD dan SMP kembali mengemuka. Khususnya bagi daerah yang dianggap sudah aman melakukan proses belajar mengajar di sekolah.

Hal tersebut dilakukan karena proses belajar daring dianggap tidak maksimal disebabkan terkendala biaya dan kuota, serta terbatasnya ilmu pengetahuan orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka.

Demikian hasil revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran baru di masa pandemi.

"Kita memperbolehkan, dan bukan memaksakan, pembelajaran tatap muka [di zona kuning] dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, Jumat (07/08/20). AntaraNews.com

Adapun pertimbangan dari kebijakan ini adalah, sebab dari banyaknya kalangan yang diresahkan akibat corona yang tak kunjung usai, khususnya para orang tua. Mereka mengeluh berat anak-anak belajar di rumah, ditambah biaya paket internet meningkat, kualitas anak juga semakin menurun.

Alhasil salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah pun yaitu, pembukaan sekolah ditengah pandemi dengan syarat protokol ketat. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, pun Ikut menanggapi terkait kebijakan ini.

Beliau Mengatakan tidak ingin coba-coba dalam memutuskan pembelajaran tatap muka di sekolah di masa pandemi COVID-19.

"Kita lebih baik memforsir untuk swab (tes usap) yang sekarang sudah terjadi dengan harapan kita punya kepastian lebih dulu daripada coba-coba risikonya terlalu besar," kata Sultan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, (Selasa Agustus 2020).

Alasannya karena ia mengaku belum mengetahui secara persis status zona risiko penularan COVID-19 di DIY saat ini. Adapun tanggapan dari beberapa kalangan juga beragam, ada yang setuju jika di mulai dari perguruan tinggi terlebih dulu, sementara anak-anak SD, PAUD, seperti itu masih belajar di rumah (daring) seperti biasa. Karena di khawatirkan anak-anak belum mampu mengikuti protokol kesehatan secara sempurna.

Memang masalah ini bukan lah menjadi kegalauan dalam satu daerah/wilayah saja namun hampir di seluruh Nusantara, tanpa terkecuali Kalimantan Timur. Alhasil para orang tua pun galau, antara daring atau bertatap muka.

Pasalnya semua sama-sama beresiko dan terkendala, Alhasil sistem pembelajaran ini di anggap tidak efektif sehingga mereka pun menuntut untuk kembali belajar tatap muka.

Padahal jelas resikonya lebih besar. Padahal seharusnya pemerintah maupun menteri pendidikan, mampu memberikan solusi yang solutif, sebab pangkal masalah adalah, Negara atau pemerintah dalam sistem Kapitalis saat ini yang berlepas tangan dalam mengurus kebutuhan rakyat terutama fasilitas pendidikan, dll. Negara kapitalis justru malah abai dalam menjaga rakyatnya dari corona.

Seharusnya tidak hanya solusi namun adanya sinergi itu pun tidak hanya sekedar kebijakan semata namun harus mendasar sehingga layak di sebut solusi. Karena sesuatu barulah di katakan solusi, ketika itu tidak menimbulkan masalah baru.

Namun begitulah sistem kapitalisme sekuler saat ini yang tak mampu di harapkan lagi. Kalaulah negeri muslim terbesar ini mau kembali kepada sistem Islam dalam mengatur segala sistem kehidupan hingga sistem bernegara maka tidaklah mungkin ketimpangan yang selalu di rasa.

Jangankan problem dalam dunia pendidikan problem dunia saja Islam punya solusi, sebab aturan di dalam Islam hadir dari pemilik dunia itu sendiri. Dalam Islam, sebuah keharusan adanya sinergi semua pihak.

Pandemi mengajarkan bagaimana seseorang dalam bersikap. Ketika anak-anak belajar di rumah, demi keselamatan jiwa mereka, seharusnya orang tua menerima dengan rasa syukur.

Memberikan yang terbaik bagi mereka, baik itu pendampingan atau pun perhatian proporsional. Bukan malah menjadikan itu beban. Di sinilah fungsi orang tua dalam hal mendidik anak. Ibu sebagai madrosatul ula (pendidik pertama) sudah seharusnya bisa mengimbangi keadaan.

Orang tua perlu mengingat kembali fungsinya dalam hal mendidik dan melatih anak-anak. Sekolah pun demikian. Guru menjadi tolok ukur keberhasilan dalam pendidikan generasi bangsa, sudah harusnya menjalankan fungsi dengan baik meskipun melakukan KBM dengan sistem PJJ.

Guru tetap memberikan semangat kepada para siswa-siswanya untuk tetap belajar, meskipun tidak bertatap muka. Tidak membebani siswa dengan memberikan tugas terlalu banyak.

Sebab, yang terpenting adalah membangun komunikasi yang baik dengan arang tua maupun siswa di rumah. Begitupun pihak pemerintah dalam hal menyikapi dunia pendidikan di era pandemi. Sarana dan prasana juga wajib diperhatikan demi menyukseskan program daring.

Penyediaan berbagai pendukung PJJ, seperti jaringan internet yang mudah diakses oleh rakyat Indonesia, baik di perkotaan maupun di perkampungan. Penyediaan kuota gratis, pengadaan Hp android, serta bantuan-bantuan lainnya yang mendukung program PJJ. Sebab, sudah menjadi kewajiban sebuah negara dalam hal memenuhi kebutuhan rakyat, termasuk dunia pendidikan.

Terlebih berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (lihat Al Baghdadi, 1996), negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan dan merupakan beban negara yang diambil dari kas Baitul maal (kas negara). Sistem pendidikan bebas biaya tersebut berdasarkan ijma’ shahabat yang memberi gaji kepada para pendidik dari baitul maal dengan jumlah tertentu.

Contoh praktisnya adalah Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan khalifah Al Muntahsir di kota Baghdad. Pada Sekolah inisetiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar. Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara.

Fasilitas sekolah disediakan, seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian Begitulah Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan mendasar bagi setiap warga negara daulah. Sinergi antara ketiga komponen, orang tua, guru dan pemerintah pun sangat penting. Islam juga telah menjadi mercusuar dalam hal pemenuhan pendidikan bagi rakyat.

Generasi yang tercipta pun tidak hanya cerdas akalnya, tetapi juga berahlakul karimah. Begitulah solusi yang Islam tawarkan dalam menyelsaikan masalah ini, Terlebih nusantara ini kaya akan potensi sumber daya alamnya, maka sangat mudah bagi negara memenuhi kebutuhan rakyatnya di masa pandemi saat ini ketika sumber daya alam tidak di serahkan kepada asing dan aseng.

Sudah saatnya negeri ini bangkit dan mengambil Islam sebagai satu-satunya sistem yang di adopsi agar menjadi solusi.

Wallahu A'lam