Merah Putih di Jalanan, Gelisah di Balik Kegembiraan

Oleh: Syarif Syamsul

Malam telah larut. Sebagian kota mulai mematikan lampu, aktivitas perlahan surut, dan jalan-jalan Balikpapan semestinya memasuki kesunyian.

Namun malam itu justru pecah oleh suara klakson, deru sepeda motor, teriakan kegembiraan, dan kibaran Merah Putih di tangan anak-anak muda.

Wajah-wajah mereka memancarkan kebahagiaan yang begitu jujur, seolah untuk sesaat seluruh beban kehidupan ditinggalkan di tepi jalan. Indonesia baru saja menaklukkan Thailand dalam sebuah pertandingan dramatis.

Kemenangan itu menghidupkan jalanan dan menggerakkan anak-anak muda turun ke jalan merayakan kebanggaan terhadap tanah air.

Mungkin sebagian dari mereka masih duduk di bangku SMP, sebagian lainnya SMA. Mereka belum tentu memahami rumitnya kebijakan fiskal, politik anggaran, tata kelola pemerintahan, atau berbagai persoalan ekonomi yang sedang dihadapi bangsa ini.

Mereka mungkin belum pernah berada di ruang rapat untuk membicarakan nasib rakyat. Tetapi ada satu hal yang mereka pahami dengan sangat sederhana: Indonesia menang, dan mereka bahagia.

Saya kebetulan sedang menikmati kopi di sebuah Kafe, bersama beberapa teman, dari tempat kami duduk, iring-iringan kendaraan itu melintas. Bendera Merah Putih berkibar di antara kerumunan anak muda.

Kami menyaksikannya dengan senyum. Namun semakin lama memandang pemandangan tersebut, ada sesuatu yang justru mengusik pikiran saya. Kegembiraan itu membawa pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah di lapangan.

Mengapa kebahagiaan rakyat begitu mudah meledak ketika Indonesia menang di lapangan, tetapi begitu sulit dijaga dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk meredam kegembiraan.

Justru sebaliknya, euforia tersebut memperlihatkan bahwa rasa memiliki terhadap Indonesia masih hidup. Anak-anak muda itu tidak sedang mengikuti upacara, tidak sedang mendengarkan pidato kenegaraan, dan tidak pula sedang membaca dokumen kebijakan.

Mereka hanya melihat sebelas pemain mengenakan lambang Garuda, lalu kemenangan di lapangan terasa seperti kemenangan mereka sendiri.

Di situlah nasionalisme menunjukkan wajahnya yang paling sederhana sekaligus paling tulus. Namun nasionalisme rakyat semestinya tidak dibiarkan berjalan sendirian. Jika rakyat diminta mencintai Indonesia, negara juga harus menghadirkan alasan bagi rakyat untuk percaya kepada masa depan Indonesia.

Jika Merah Putih berkibar di tangan mereka, maka kehidupan di bawah naungannya harus memberikan rasa aman, adil, dan layak. Sebab cinta kepada tanah air tidak cukup dipelihara dengan slogan. Ia membutuhkan pengalaman konkret.

Seorang ibu akan merasa negara hadir ketika kebutuhan rumah tangganya dapat dipenuhi tanpa kecemasan yang terus menghantuinya. Seorang ayah akan merasakan kemerdekaan ketika ia bekerja dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

Anak-anak muda akan memandang masa depan dengan optimisme ketika pendidikan memberi mereka kesempatan dan dunia kerja membuka ruang bagi kemampuan mereka.

Karena itu, di sinilah kebijakan pemerintah semestinya diuji: bukan semata-mata dari bagusnya konsep di atas kertas, tetapi dari bagaimana kebijakan tersebut menyentuh kehidupan manusia.

Masyarakat Balikpapan dan daerah lain masih berhadapan dengan persoalan yang sangat konkret. Antrean BBM, air PDAM yang tidak selalu mengalir, listrik yang mengalami pemadaman, hingga tekanan biaya hidup yang membuat keluarga harus semakin cermat mengatur pengeluaran bukanlah sekadar statistik keluhan.

Di baliknya ada manusia. Ada pekerja yang kehilangan waktu. Ada pelaku usaha yang aktivitasnya terganggu. Ada anak yang belajar dalam ketidaknyamanan. Ada keluarga yang harus menunda kebutuhan lain karena satu kebutuhan dasar saja belum terpenuhi.

Di sinilah pemerintah tidak boleh terjebak dalam kenyamanan angka dan laporan. Pertumbuhan ekonomi penting. Investasi penting. Infrastruktur penting. Anggaran negara penting.

Namun seluruh istilah besar itu kehilangan makna apabila tidak berujung pada kehidupan rakyat yang lebih baik. Sebuah grafik boleh menunjukkan pertumbuhan. Sebuah laporan boleh menyebut keberhasilan.

Sebuah konferensi pers boleh menyampaikan capaian. Tetapi rakyat memiliki alat ukur yang jauh lebih sederhana: apakah hidup kami menjadi lebih mudah, lebih aman, dan lebih layak?

Pertanyaan itu bukan bentuk pembangkangan. Bukan pula tanda bahwa rakyat tidak bersyukur. Justru pertanyaan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap negara. Sebab anggaran bukan sekadar angka yang tersusun dalam dokumen pemerintahan.

Anggaran berubah menjadi air yang mengalir dari keran, listrik yang menyala ketika dibutuhkan, jalan yang aman dilalui, BBM yang tersedia ketika kendaraan harus bergerak, sekolah yang memberi harapan, layanan kesehatan yang dapat dijangkau, serta pekerjaan yang memungkinkan sebuah keluarga berdiri dengan martabatnya sendiri. Karena itu, suara rakyat seharusnya tidak hanya terdengar ketika pemilu tiba.

Ia harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan setiap hari. Pemerintah perlu belajar melihat persoalan dari sudut pandang warga, bukan hanya dari balik meja birokrasi.

Sebab kebijakan yang terlihat kecil dari ruang pemerintahan dapat menjadi persoalan besar di ruang keluarga. Sebaliknya, keputusan yang tepat dapat mengembalikan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sekadar uang: ketenangan hidup.

Pemandangan anak-anak muda yang memenuhi jalan dengan Merah Putih seharusnya juga menjadi pengingat bahwa nasionalisme belum mati.

Mereka tidak turun karena diperintah. Tidak ada yang memberi mereka honor untuk berteriak. Tidak ada kewajiban administratif yang memaksa mereka mengibarkan bendera.

Mereka melakukannya karena mereka merasa memiliki Indonesia. Dan justru karena itulah negara harus berhati-hati agar rasa memiliki tersebut tidak berubah menjadi rasa kecewa. Di balik sorak-sorai ada kepercayaan. Di balik kibaran Merah Putih terdapat harapan.

Di balik kegembiraan itu tersimpan generasi yang kelak akan menerima estafet bangsa ini. Maka kemenangan Timnas Indonesia malam itu seharusnya tidak berhenti sebagai pesta sesaat. Ia layak menjadi cermin bagi mereka yang memegang kewenangan.