Oleh : Siti Rima Sarinah
Dugaan pemalsuan hasil riset yang dilakukan oleh seorang mahasiswi dari PTN terkenal di negeri, menjadi tamparan keras bagi integritas kampus dan kualitas pendidikan di negeri ini. Kasus ini mencuat dan ramai menjadi pembicaraan di sosial media.
Pasalnya, pelaku adalah mahasiswa berprestasi dan beberapa mengikuti banyak konferensi internasional untuk memaparkan karya ilmiahnya di berbagai negara. Kasus ini tentu bukan hanya mencoreng nama kampus melainkan merusak reputasi ilmuwan negeri ini di mata dunia internasional.
Sejumlah akademis banyak menyoroti kasus ini dan mengingatkan pentingnya menjaga etika, penelitian, transparansi data ilmiah, serta validasi identitas peneliti agar kejadian serupa tidak terulang.
Karena akan merusak kepercayaan dunia internasional terhadap kualitas riset dari Indonesia. Dan berdampak besar bagi nama akademisi Indonesia di tingkat global (disway.id,26/05/2026)
Rapuhnya Integritas Akademik
Tidak dimungkiri, sekularisme yang menjadi asas dari sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini semakin membuat karut marut dunia pendidikan. Kasus dugaan riset palsu membuktikan pendidikan sekularisme hanya beriorientasi untuk mengejar nilai, gelar, popularitas untuk meraih keuntungan materi.
Hilangnya nilai-nilai kejajujuran ilmiah menjadi sangat mudah digadaikan demi sebuah pengakuan semu. Kala riset dipisahkan dari ilmu dan adab keilmuan, maka ilmu hanyalah dianggap sebagai komoditas bukan sebagai amanah.
Kecanggihan teknologi yang seharusnya menjadi sarana untuk menghasilkan karya ilmiah terbaik bagi manusia, justru digunakan sebagai “jalan pintas” melakukan penyimpangan ilmu.
Sebuah kewajaran apabila hal ini terjadi, sebab sekularisme yang menihilkan peran agama dari kehidupan tidak mengenal halal haram dalam aktifitas manusia.
Sehingga manusia diberikan kebebasan tanpa aturan yang mengakibatkan ilmu kehilangan esensinya untuk mencerdaskan dan menjauhkan dari hal-hal yang menyimpang.
Karena buah dari pendidikan seharusnya menghasilkan sosok-sosok manusia yang memiliki keilmuan sebagai mercusuar kehidupan dan untuk membangun peradaban bangsa.
Dugaan kebohongan riset ini menjadi bukti rapuhnya integritas akademik dan kualitas pendidikan sekularisme di Indonesia. Terlihat banyaknya orang yang memiliki gelar tinggi di negeri ini, tidak serta merta mampu mengubah kondisi negara menjadi lebih baik bahkan semakin amburadul.
Berapa banyak kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat padahal mereka bergelar tinggi. Namun, gelar yang mereka miliki tak mampu mengarahkan untuk menjaga amanah yang diberikan kepadanya, justru mereka memanfaatkan jabatan dan kekuasaan.
Ilmu Sebagai Amanah Dari Allah
Islam sangat memuliakan ilmu dan memuliakan pula orang-orang yang berilmu dibandingkan orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Karena kemuliaan ilmu inilah, Islam mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu agar dapat mengelola alam semesta yang diamanahkan kepadanya sesuai dengan aturan yang telah dietapkan oleh sang pemilik.
Dengan mempelajari berbagai cabang keilmuan pengetahuan yang diperlukan untuk mempermudahkan kehidupan manusia. Namun, tatkala mempelajari ilmu dan telah menguasai ilmu tersebut, harus menjadikan iman sebagai pondasinya. Karena keilmuan seseorang terlihat dari pola pikir dan perilakunya.
Ilmu yang dihasilnya bukan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari manusia, melainkan semata-mata agar ilmu tersebut dapat bermanfaat bagi umat manusia dan kehidupan.
Karena ilmu adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan yang mampu menjaganya adalah orang-orang yang memiliki adab sebagai penuntut ilmu. Ia akan bersungguh-sungguh untuk memberikan karya terbaik sebagai orientasi keilmuan yang dimilikinya, agar banyak orang dapat merasakan manfaat dari keilmuan tersebut dan dapat berkontribusi bagi sejarah peradaban dunia.
Jejak Ilmuwan Muslim
Berkaca pada peran para ilmuwan di masa kejayaan Islam yang banyak memberikan karta terbaiknya dan sangat berjasa bagi peradaban dunia hingga hari ini. Para ilmuwan berlomba-lomba untuk mengukir prestasi dengan memberikan karya terbaik dari setiap bidang keilmuan yang mereka miliki.
Walaupun dengan keterbatasan teknologi di masa itu, tak menyurutkan semangat mereka. Sebut saja Al-Khawarizmi yang dikenal Bapak Aljabar yang menemukan angka 0 untuk memudahkan dalam berhitung.
Padahal ia tidak memiliki kalkulator, tidak ada internet bahkan kertas. Dengan tengah keterbatasan Al-Khawarizmi mampu menghasilkan karya Al Kitab al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah, yang berisi rumusan aljabar dan algoritma. Jejak keilmuannya 1000 tahun kemudian, NASA menggunakan logika algoritma untuk menghitung orbit satelit.
Siapa yang tidak mengenal Ibnu Sina yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran. Walaupun saat itu tidak memiliki mikroskop, rontgen, dan laboratorium yang canggih. Tetapi ia mampu mengdiagnosis dengan menggunakan nadi,urine dan observasi pasien.
Karya yang dihasilkan “Al Qanun fi At-Tibb” 14 jilid, yang berisi anatomi, farmakologi dan bedah. Buku ini menjadi buku wajib yang digunakan di universitas Eropa 600 tahun.
Metode karantina penyakit menular yang pertama ia tulis baru dipraktikkan dunia 800 tahun kemudian. Inilah potret jejak ilmuwan muslim yang telah menorehkan prestasi emas dalam ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi umat manusia hingga hari ini.
Karya dan riset ditengah keterbatasan mampu menghasilkan karya yang tak kalah hebat dengan ilmuwan di zaman sekarang. Kelebihan lainnya adalah ketinggian ilmu yang mereka miliki berbanding lurus dengan adab yang terpatri dalam sosok para ilmuwan muslim.
Berkarya semata-mata ingin mengaplikasikan amanah ilmu dan hanya menginginkan rida dari Allah, bukan pujian atau penghargaan dari manusia.