MAKASSAR – Suasana penuh antusiasme mewarnai ruang kelas SLB-A Yapti Makassar saat puluhan siswa tunanetra mengikuti kegiatan Equipped for Change.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PEDULI (Pengembangan Dukungan dan Resiliensi Diri) yang digagas oleh mahasiswa Universitas Hasanuddin melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-PM). Program PEDULI sendiri hadir sebagai inisiatif untuk memberikan edukasi perlindungan diri bagi siswa tunanetra melalui pendekatan komunikasi inklusif, media ramah disabilitas, serta metode pembelajaran yang menyenangkan.
Tujuannya tidak hanya membekali mereka dengan pemahaman tentang pelecehan seksual, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian, serta kemampuan untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya.
Program ini dibimbing oleh ibu Dr. Indra Fajarwati Ibnu, SKM., M.Kes, dan dilaksanakan oleh lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Tim ini terdiri dari:
● Andi Magfirah (Epidemiologi)
● Nasywa Salsabila Nasaruddin (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
● Desinta Rahmawati (Epidemiologi)
● SQA Dinda Chairunnisa (Epidemiologi)
● Indri Sri Handayani (Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku)
Kegiatan ini dilaksanakan pada pukul 13.30 hingga 15.00 WITA, dengan tujuan untuk membantu siswa tunanetra mengenali dan mencegah pelecehan seksual. Pertemuan dimulai dengan pemberian materi yang menggambarkan situasi sehari-hari yang dapat ditemukan di sekitar mereka.
Setelah mendengarkan kisah, siswa diminta untuk menilai apakah situasi tersebut termasuk pelecehan seksual atau bukan.
Materi ini diharapkan dapat memudahkan siswa dalam memahami situasi nyata yang sering terjadi. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan perlombaan cerdas cermat melalui cerita audio interaktif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa dalam membedakan situasi yang termasuk pelecehan seksual dan yang tidak.
Perlombaan ini juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi, sambil mendorong mereka untuk berpikir kritis mengenai hal-hal yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup, panitia memberikan penghargaan kepada peserta yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan ini. Hal ini membuat suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan partisipatif.
"Kami ingin siswa belajar melalui pengalaman yang menyenangkan, sehingga pesan penting ini bisa mereka ingat lebih lama," ujar salah satu fasilitator, menekankan pentingnya pendekatan yang menyenangkan dalam pembelajaran.
Salah satu guru SLB-A Yapti Makassar, Ibu Aisyah., menyampaikan kesannya terhadap kegiatan ini:
"Program PEDULI ini benar-benar bermanfaat. Siswa kami jadi lebih berani berbicara dan mampu membedakan situasi mana yang aman dan mana yang tidak. Sebagai guru, saya merasa terbantu karena edukasi seperti ini jarang mereka dapatkan dengan cara yang ramah dan menyenangkan,” ungkapnya.
Beliau juga menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan semacam ini memperkuat dukungan sekolah terhadap isu perlindungan anak disabilitas.
Untuk mengukur keberhasilan, tim PKM memberikan kuis verbal sederhana dan menilai lembar observasi. Setelah mengikuti sesi, 85% peserta berhasil mengidentifikasi situasi yang melibatkan pelecehan seksual dengan benar.
Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki pemahaman yang baik tentang cara mengenali dan merespons situasi berisiko dengan cara yang tepat dan aman.
Program PEDULI melalui Equipped for Change berhasil menciptakan suasana belajar yang interaktif, edukatif, dan menyenangkan.
Lebih dari sekadar edukasi, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memberdayakan siswa tunanetra agar lebih siap melindungi diri serta berperan sebagai agen perubahan dalam pencegahan pelecehan seksual.
Penulis: Desinta Rahmawati