Selasa 27 Agustus 2024
Ummu Hawwa
Muslimah Koltim
TEMPO.CO, Medan - Satreskrim Polrestabes Medan meringkus empat perempuan yang terlibat jual dan beli bayi seharga Rp 20 juta di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Medan Ajun Komisaris Madya Yustadi mengatakan, terungkapnya kasus berawal dari informasi masyarakat bahwa ada rencana transaksi bayi yang baru dilahirkan di sebuah rumah sakit di Kecamatan Percutseituan pada 6 Agustus 2024.
Miris ketika melihat fenomena seperti ini, kerasnya kehidupan dan mahalnya biaya untuk membesarkan anak hari ini membuat ibu rela menjual anak sendiri, demi mendapatkan materi dan tentu semua yang di dapatkan tidak sebanding dengan perjuangannya selama hamil 9 bulan, dan melahirkan anaknya yang harus bertaruh nyawa.
Akar permasalahan Hilangnya rasa kemanusiaan membuat individu hari ini rela melakukan apa saja demi mendapatkan materi. Bahkan memilih jalan yang sangat tidak masuk akal seperti menjual anak sendiri, tentu ini tindakan yang tidak beralasan dan kondisi ekonomi hari ini yang sulit menjadi faktor utama, dimana harga barang-barang pokok terus mengalami peningkatan, begitu juga kebutuhan pokok seperti pendidikan, kesehatan, tranportasi, listrik dan sebagainya, yang sulit untuk di jangkau oleh rakyat.
Belum lagi pungutan terhadap rakyat yang semakin banyak jenisnya yang terus memeras rakyat. kemudian adanya trend flexing kalangan ibu-ibu menjadi faktor baru dari tindakan yang tidak manusiawi serta kurangnya support system dari keluarga, seperti suami, orang tua dan kerabatnya, sehingga menjadikan ibu berbuat nekat.
Seorang ibu hari ini memang sangat terhimpit, jika tidak kuat pondasinya maka inilah yang akan terjadi. Ibu dituntut harus multitasking, mampu melakukan segala hal seperti menjadi sekolah bagi anak-anaknya, mengurus suami dan anak-anaknya.
Bahkan tidak jarang di jumpai ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, kemudian di tambah naiknya berbagai macam bahan pokok yang menjadikan ibu harus berfikir keras agar keluarganya bisa tetap makan dengan layak.
Sehingga ketika seorang ibu sudah merasa tidak mampu menanggung semuanya maka akan muncullah rasa nekat untuk melakukan apa saja, bahkan rela menjual anak sendiri demi tuntutan ekonomi. Inilah pentingnya menjaga kewarasan dari seorang ibu.
Namun kenyataannya hari ini ibu dipaksa untuk melakukan tugas yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya dan berakibat pada hilangnya rasa kasihan dan kekhawatiran terhadap nasib anaknya.
Hari ini kita hidup dalam sistem kapitalis,dimana para penguasa hanya sibuk memperkaya diri sendiri dan lepas tanggung jawab sebagai pengurus atau pelayan rakyat, bahkan terkesan abai terhadap kesejahteraan rakyat.
Individu seperti ini di cetak oleh sistem pendidikan hari ini, dimana individunya tidak bertakwa, sehingga output yang di hasilkan adalah individu yang hanya mengejar materi semata.
Bahkan melakukan tindakan tanpa melihat halal atau haramnya suatu perbuatan. Solusi dalam Islam Islam sangat memahami peran ibu sebagai pendidik generasi dan pengatur urusan rumah tangga, sehingga memang sangat perlu untuk diperhatikan mentalnya, sebab generasi yang baik muncul dari ibu yang berkualitas yang mampu mengajarkan anaknya tentang kehidupan dan seperti apa tugas dari manusia itu sendiri, dan tentunya itu membutuhkan ilmu dan mental yang kuat, serta support system yang baik.
Fenomena ibu menjual anaknya tidak akan pernah kita jumpai jika kita berada di dalam sistem Islam, sebab tugas dari negara ialah menjadi pengurus kemaslahatan umat, negara benar-benar memperhatikan kebutuhan pokok dari setiap individu mulai dari sandang, pangan dan papan.
Negara menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk para kepala keluarga, adapun jika didapati dalam suatu keluarga tidak ada yang menjadi tulang punggung keluarga maka menjadi tugas negara untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga tersebut.
Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]
Dalam hadis tersebut sangat jelas peranan dari negara, di mana penguasa atau khalifah menjadi pelayan bagi umatnya, menjadi benteng pertama dalam melindungi umat, sebab khalifah benar-benar sadar akan tugasnya dan takut ketika melakukan kezaliman.
Dalam sistem pemerintahan Islam ibu justru didorong untuk memiliki anak, bahkan negara memberikan pelayanan gratis kepada ibu hamil ibu melahirkan dan ibu menyusui sehingga orang tua tidak lagi stres memikirkan biaya untuk pemeriksaan kehamilan, biaya kontrol kesehatan, biaya persalinan dan biaya untuk menghidupi anaknya.
Terbukti di masa Khalifah Umar Ra, beliau mengirimkan santunan kepada ibu yang baru saja melahirkan sehingga ibu lebih merasa bahagia setelah melahirkan seorang anak.
Dengan kondisi yang demikian, maka seorang ibu di dalam sistem Islam akan merasa di perhatikan baik dari suami, keluarga serta lingkungan masyarakat sehingga mampu menjaga mental maupun fisik dari seorang ibu sehingga ibu mampu mencetak generasi yang cemerlang.
Dan pada akhirnya masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang bertakwa, sebab yang menjadi standar perbuatan adalah syara', apakah perbuatan tersebut melanggar atau tidak aturan-aturan Allah.
Ketika Islam diterapkan tidak menutup kemungkinan akan dijumpai berbagai macam masalah,namun tugas negara untuk mengontrol umat agar tetap menjalankan hukum Syara' dan untuk menghentikan fenomena ibu jual anak ini adalah dengan menerapkan aturan-aturan Allah di dalam suatu negara yang mampu mengayomi dan mengurus umat, sebab sudah terbukti dimasa ketika Islam di terapkan kehidupan masyarakat itu sejahtera dan adil. Wallahu 'alam bissowab