Euforia Kemerdekaan di IKN, Minim Kepedulian

Jumat 16 Agustus 2024

Oleh: Ninis

(Aktivis Muslimah Balikpapan)

Ada yang berbeda dari peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI tahun ini. Pasalnya, kali ini upacara dilaksanakan di dua tempat yakni di Jakarta dan di Kabupaten Penajam Paser Utara Kaltim.

Ninis

Dilansir dari situs Menpan RB, Presiden Jokowi mengatakan IKN Nusantara dipilih sebagai lokasi upacara karena saat ini Indonesia sedang masa transisi menuju ibu kota baru.

Alhasil, Anggaran untuk menyelenggarakan HUT RI meroket hingga 64 % untuk tahun ini. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, pada 2024 anggaran untuk penyelenggaraan upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 RI di Ibu Kota Negara (IKN) mencapai Rp87 miliar.

(Kata data.co.id). Berkelindan, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Isa Rachmatarwata menyebut, Ia menilai angka Rp87 miliar itu lebih tinggi dibandingkan anggaran HUT RI di Jakarta tahun lalu yang tercatat Rp53 miliar. Kenaikannya terutama karena pengadaan alat-alat upacara yang baru di sana,” kata Isa saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Agustus 2024 di Jakarta, Selasa.

Isa merinci, naiknya jumlah anggaran untuk kegiatan HUT RI di IKN dikarenakan pengadaan sarana dan prasarana fisik membutuhkan akses khusus, gampling hingga persiapan jamuan untuk tamu negara.

Jamuan juga cukup besar, dibanding di Jakarta, terutama mungkin karena lokasinya belum tersedia cukup prasarana untuk jamuan ini. Terlebih, Moeldoko mengatakan untuk kemerdekaan Indonesia itu tidak ada yang mahal.

Ia menegaskan biaya mahal dalam penyelenggraan HUT ke-79 RI di IKN ini juga untuk masyarakat. Lantas, haruskan merayakan seremonial kemerdekaan dengan "mewah"? Apalagi menggunakan dana APBN yang dipungut dari pajak, disaat yang sama masih banyak rakyat belum sejahtera.

Minim Kepedulian

Miris, satu sisi pemerintah "menghamburkan uang" untuk euforia HUT RI tapi disisi lain masyarakat yang lahannya diambil untuk pembangunan IKN belum semuanya dapat ganti rugi.

Wajar masyarakat menilai pemerintah nirempati, karena menghabiskan dana yang begitu besar demi seremonial HUT RI di tengah derita rakyat. Anggaran yang sangat fantastis, tak ayal menimbulkan polemik dari akademisi hingga masyarakat awam.

Salah satu protes diutarakan oleh Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat. Beliau menyebutkan bahwa pemerintah terlalu ambisius menggelar perayaan HUT Kemerdekaan RI di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Padahal, infrastruktur di ibu kota baru belum lengkap lantaran pembangunannya belum rampung. Achmad juga menyoroti langkah Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) menyewa seribu unit mobil mewah bagi tamu acara kenegaraan tersebut.

Menurutnya, langkah itu merupakan suatu pemborosan. "Menghamburkan uang negara," kata Achmad dalam keterangannya kepada Tempo, Selasa, 6 Juli 2024.

Selain itu, Pengamat kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dardias Kurniadi juga menilai perhelatan HUT RI di IKN adalah "pertaruhan politik Presiden Jokowi demi kelanjutan proyek mercusuarnya, meskipun harus mengorbankan anggaran besar dan rasa empati ke masyarakat yang sedang kesulitan secara ekonomi". (BBC News Indonesia).

Oleh sebab itu, bermewah-mewahan dalam hal yang sifatnya hanya seremonial sangat menyakiti hati rakyat. Namun demikianlah ironi di negeri ini. Para penguasanya lebih senang menari-nari di atas penderitaan rakyatnya sendiri.

Apakah ini yang dinamakan merdeka? Selayaknya, memaknai kemerdekaan itu dengan prestasi dan hasil kerja nyata bukan sekedar seremonial yang penuh dengan pencitraan semata.

Pemimpin Amanah

Jabatan dalam Islam adalah amanah yang kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah kelak di Yaumul Hisab. Hal tersebut yang membuat pemimpin dalam Islam sangat berhati-hati menjalankan amanah dan menggunakan anggaran negara.

Sebagaimana Nabi SAW bersabda: " Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus. " (HR Al Bukhari).

Harusnya pemimpin di negeri ini tidak bisa tidur nyenyak memikirkan puluhan juta jiwa rakyatnya terhimpit kemiskinan.

Bukan malah menghambur-hamburkan uang demi seremonial tahunan, terlebih kondisi masyarakat masih banyak yang belum sejahtera.

Harusnya pemimpin di negeri ini terngiang-ngiang akan hadits qudsi dari baginda Nabi Muhammad SAW: "Tidak beriman kepada-Ku, seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan dan dia mengetahui hal itu”. (HR. Thabarani).

Teladan kepemimpinan yang amanah pernah dicontohkan dalam sistem Islam (Khilafah). Di masa Khalifah Umar bin Khattab saat itu masa paceklik, jika sebelumnya beliau makan roti, lemak dan susu.

Namun, pada masa paceklik ini beliau hanya makan minyak dan cuka. Umar pun bersumpah untuk tidak makan daging atau minyak samin sampai semua rakyatnya dapat makan dengan layak.

Akibatnya, warna kulit beliau menjadi hitam. Tubuhnya pun menjadi kurus. Banyak yang khawatir beliau akan jatuh sakit dan lemah. Kondisi ini terus berlangsung hingga 9 bulan.

Selain itu Khalifah Umar ra. selalu mengontrol kondisi rakyatnya dengan berpatroli setiap malam, memastikan tidak ada yang kelaparan. Keteladanan pemimpin seperti ini mustahil kita temui dalam sistem kapitalis yang memandang hubungan negara dan rakyat sebatas penjual dan pembeli.

Sehingga wajar bukan pelayanan tulus yang diberikan ke rakyatnya, justru menari-nari di atas penderitaan rakyat. Luar biasa keteladanan di masa kepemimpinan Islam, pemimpin menjalankan amanahnya dengan baik dan didukung sistem yang baik yakni Islam.

Berbeda dengan pemimpin dalam sistem sekuler yang selalu menyulitkan rakyatnya dengan kebijakan-kebijakannya.

Maka, cukuplah doa Nabi menjadi nasihat jika ada pemimpin yang menyulitkan rakyatnya, Nabi SAW bersabda:

«اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ»

“Ya Allah, barangsiapa mengurusi suatu urusan dari umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Barangsiapa mengurusi suatu urusan dari umatku, lalu dia bersikap lemah-lembut terhadap mereka, maka bersikaplah lemah-lembut terhadapnya.” (HR. Muslim). Wallahu A'lam