Ciptakan Sehat Jiwa dan Lingkungan Tanpa Gangguan Mental

Kamis 15 Agustus 2024

Oleh: Emirsa

Dinas pendidikan dan Dinkes Balikpapan mengadakan sosialisasi sekolah sehat jiwa 2024 dengan mengundang perwakilan guru BK SMK pada hari Kamis 1/8/2024. Dengan tujuan agar sekolah menjalani program sehat jiwa, mengingat kesehatan jiwa masuk sepuluh besar penyakit di Indonesia dan populasi dewasa dan muda seringkali mengalami masalah kesehatan jiwa seperti depresi penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya.

Emirsa

Dilansir dari kemdikbud.go.id, program ini dijalankan di sekolah melalui edukasi tentang kesehatan jiwa dan pengelolaan emosi, skrining, pendekatan dan metode belajar yang menyenangkan. Bersumber dari kss-uks.mardawa.id, skrinning kesehatan jiwa yang dilakukan untuk mengetahui masalah kesehatan jiwa yang dialami peserta didik.

Agar mempermudah melakukan konseling dan penanganan lanjutan dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Jiwa (SIJIWA) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan.

Gangguan Mental

Gangguan mental (mental illness) kini telah menjadi masalah serius. Di Indonesia, sekitar 49,5% remaja usia 13—18 tahun mengalami gangguan mental dan 22,2% di antaranya menderita penyakit mental berat (Alodokter, 6-1-2022).

Sementara itu, Data Balitbangkes menunjukkan bahwa 47,7% pelaku bunuh diri di Indonesia adalah kalangan muda (10—39 tahun). Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi tingginya angka remaja mengalami gangguan mental. Selain faktor biologis dan genetik, lingkungan turut berandil besar.

Tampaknya, lingkungan sosial hari ini tidak sehat bagi mental generasi muda. Masalah kesehatan jiwa tidak bisa diselesaikan dengan edukasi dan sosialisasi saja. Banyaknya kasus kesehatan jiwa diakibatkan tekanan beban hidup.

Pandangan sekuler tidak akan mampu menyelesaikan masalah gangguan mental ini. Penyebabnya adalah karena sekularisme menjadi asas kehidupan di negeri ini.

Prinsip sekularisme menempatkan agama hanya di sudut urusan privat, sedangkan kehidupan publik yang kompleks justru meniadakan agama. Akibatnya, muncullah aturan yang sekuler, yaitu aturan yang dibuat semata berdasarkan otak, tanpa ada aspek ruhiyah.

Kebahagiaan manusia, keberhasilan pembangunan, prestasi seseorang, bahkan tolok ukur pendidikan, semuanya didasarkan pada capaian materi tanpa memperhitungkan aspek kejiwaan.

Akibatnya, jiwa manusia kering dari nilai spiritual dan menjadi rapuh. Manusia mudah emosi, marah, melakukan kekerasan sebagai pelampiasan emosi, menyakiti diri sendiri, bahkan bunuh diri. Sekularisme dan kapitalisme menyebabkan hubungan antar manusia didominasi persaingan.

Baik dalam hal prestasi sekolah, pencapaian karier, kepemilikan harta, popularitas, dan lain-lain dijadikan persaingan. Selain itu, penerapan ekonomi kapitalisme menyebabkan kesulitan ekonomi terjadi secara massal. Sedangkan, media sosial deras mengharuskan budaya pamer.

Akibatnya terjadi jurang yang luas antara realitas dan tontonan yang akan menghasilkan tekanan jiwa. Lingkungan (masyarakat) juga dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan mental. Masyarakat yang berpaham materialis cenderung individualis.

Kepekaan berhadapan lingkungan sosialnya sangat rendah. Orang akan bersaing untuk bisa unggul dari dari segi materi tanpa peduli dengan kepentingan orang lain. Hubungan interpersonal semakin fungsional dan cenderung mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan seperti keramahan, perhatian, toleransi dan tenggang rasa.

Akibatnya, tekanan isolasi dan keterasingan kian kuat; orang makin mudah kesepian di tengah keramaian. Ini yang disebut lonely crowded, gejala mencolok dari masyarakat materialis di mana-mana.

Akar Masalah

Saat ini kita hidup dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Pemahaman ini menuntun manusia untuk membuat standar hidup yang berorientasi pada kebahagiaan duniawi semata.

Maka, wajar jika pemahaman sekuler yang membentuk cara pandang manusia hari ini. Syariat Islam tidak hadir dalam interaksi sosial. Dalam bergaul, di keluarga, masyarakat umum atau komunitas terdekat, banyak yang mengabaikan aturan Allah.

Padahal aturan-Nya pasti akan menenangkan manusia dalam kondisi apa pun. Maka, wajar jika orang tua hari ini abai terhadap hak-hak anaknya. Begitu juga sebaliknya, anak mengabaikan kewajibannya terhadap orang tuanya.

Di lingkungan sosial, mudah sekali kita dapati komentar sinis yang mengarah pada individu yang kondisinya jauh dari standar duniawi.

Tanpa disadari, berbagai toksik di kehidupan sosial berpengaruh pada kondisi psikis seseorang. Realitas ini lahir dari sistem hidup yang jauh dari aturan Sang Pencipta. Manusia hidup sesuai kehendaknya. Sistem kehidupan yang membentuk cara berpikir manusia hingga memengaruhi berbagai keputusan yang mereka jalani dalam hidup.

Rapuhnya kesehatan mental ini tidak lepas dari kondisi internal remaja, juga sistem sosial yang sedang berjalan. Sebagai seorang muslim, perlu menata internal diri juga sistem sosial.

Sisi internal ini berkaitan dengan cara menata perasaan dan pikiran dalam menyikapi masalah. Sedangkan sisi sosial berkaitan dengan lingkungan yang menjamin sehatnya atmosfer berinteraksi antara sesama manusia. Bagaimana caranya?

Menata Hati, Perbanyak Syukur

Bagi seorang muslim, imunitasnya terbentuk dari keimanan yang kukuh. Ketika seorang muslim memahami tujuan hidupnya, ia akan menyadari bahwa kelak ia akan kembali kepada Sang Pencipta. Fakta ini akan membuatnya mampu mengelola rasa dan pikirannya.

Tepat ketika Rasulullah saw. mengatakan bahwa urusan seorang muslim itu penuh dengan kebaikan. Seorang muslim akan bersyukur saat mendapat kesenangan, sebaliknya ia pun akan bersabar ketika mendapatkan ujian.

Maka, seorang muslim tidak akan mudah down ketika mendapat ujian kehidupan. Ini karena ia memahami bahwa ujian yang Allah Swt. berikan untuk menaikkan derajatnya dari sebelumnya. Ia akan mampu menimbang masalah dan lihai mencari solusi.

Dari berbagai ujian inilah seorang muslim ditempa keimanannya dalam ujian kehidupan. Sesekali kecewa dan sedih itu manusiawi, tetapi seorang muslim akan mengedepankan keimanannya dalam mengelola rasa kecewa dan sedih.

Terkadang kita harus banyak meraba hati. Adakah benih kekecewaan terhadap ketetapan Allah dan sejenisnya bersarang di sana? Rajinlah “berkaca”, sebab manusia terkadang fasih mengeja ujian tetapi gagu mengucap rasa syukur.

Di luar keterbatasan manusia, yakinlah bahwa ada Allah yang Maha Kuasa. Allah yang menetapkan seluruh hal yang akan menimpa seorang manusia. Bagi manusia, sikap yang sepantasnya adalah meyakini bahwa apa pun ketetapan Allah, itulah yang terbaik.

Jangan larut dalam kekecewaan atau bahkan protes terhadap semua ketetapan Allah Taala. Karena hal itu bukan ranah manusia. Allah tidak akan menghisab jika kita miskin, punya orang tua temperamen, bentuk tubuh kita yang tidak sesuai ekspektasi atau apa pun yang di luar kuasa manusia.

Sebaliknya yang akan Allah hisab adalah cara kita menyikapi itu semua, bersabar atau justru menyerah. Pilihan kita itu yang akan Allah mintai pertanggungjawaban. Jadi, yakinlah bahwa setiap ketetapan Allah Swt. adalah yang terbaik.

Islam Menjaga Kesehatan Jiwa

Realitas rapuhnya jiwa manusia dalam sistem sekuler tidak akan terjadi dalam sistem Islam. Seorang muslim akan memiliki ar-ruh yaitu kesadaran akan hubungannya dengan Allah swt. dalam seluruh kehidupannya. Setiap aturan Islam akan dilaksanakan berdasarkan kesadaran sebagai hamba-Nya.

Ketika melakukan apa pun, muslim selalu terhubung dengan Al-Khalik, yaitu akan menggantungkan hidupnya pada Allah Taala. Sikap ini menjadikan muslim memiliki jiwa yang kuat. Berbagai masalah akan diyakini sebagai qada Allah swt.

yang pasti akan ada solusinya. Bangunan kehidupan Islam dibangun atas dasar akidah Islam maka makna kebahagiaan, ukuran keberhasilan, kemuliaan seseorang, dan sebagainya akan diukur berdasarkan rida Allah Taala.

Setiap muslim berlomba untuk meraih rida Allah swt. dengan taat pada syariat-Nya. Perlombaan ini justru menyehatkan jiwa, karena menjadikan manusia dekat dengan Sang Pencipta. Penerapan aturan Islam efektif menyelesaikan berbagai masalah manusia.

Maka akan terwujud kesejahteraan sehingga mencegah terjadinya stres. Penerapan sistem Islam akan melindungi manusia dari gangguan mental. Kebahagiaan juga akan terwujud secara komunal. Selain menata internal dan kembali menelaah makna kehidupan, Islam juga harus dipahami sebagai agama sekaligus sistem kehidupan.

Aturan-aturan dalam sistem tata sosial dan bernegara berperan besar dalam menjaga kesehatan mental. ibaratnya, negara berperan menciptakan antivirus dan menangkal virus yang bisa merusak imunitas mental seseorang.

Negara, dalam hal ini penguasa, berperan mengedukasi masyarakat dan memastikan sistem sosial berlangsung dengan baik. Negara akan memastikan kebutuhan masyarakat tercukupi agar tidak ada yang stres akibat memikirkan sulitnya memenuhi kebutuhan dasar.

Negara juga berperan menciptakan kondisi sosial yang sehat dan jauh dari lingkungan toksik. Contohnya dengan memperhatikan aspek interaksi sosial secara rinci.

Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (Sahih Bukhari).

Dalam hadis tersebut jelas bahwa seorang muslim harus berupaya menjaga lisannya agar tidak berbohong, melukai perasaan saudaranya, berkata sia-sia, dan sejenisnya.

Di sisi lain, ia harus menjaga hak saudaranya dengan tidak mengambil milik orang lain tanpa izin. Islam juga mengajarkan adab dalam interaksi sosial. Islam menganjurkan kepada umatnya untuk husnuzan dan menjauhi prasangka.

Jadi, sistem sosial dalam Islam jauh dari lingkungan toksik. Ini karena syariat Islam mengajarkan manusia untuk menjauhi pikiran dan tindakan yang berpotensi mengganggu sesama. Di sisi lain, negara berperan mengontrol sirkulasi informasi yang sehat.

Tidak ada media yang menyuguhkan hal-hal privat yang akhirnya membuat manusia menghabiskan waktu untuk menyimak kehidupan seseorang. Untuk mewujudkan keharmonisan keluarga, negara akan memastikan pentingnya ilmu yang harus dipahami setiap orang, baik dalam posisinya sebagai anak atau pun orang tua.

Keluarga berperan banget mewujudkan generasi yang sehat. Oleh karenanya, ilmu yang sesuai tuntunan syariat merupakan perkara penting dalam menjalankan kehidupan.

Maka, dengan sistem Islam, Negara Islam mampu memberikan solusi persoalan mental. Akan terbangun ketakwaan individu, masyarakat dan negara untuk melaksanakan Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Wallahualam. (**)