Senin 12 Agustus 2024
Oleh: Ns. Rizqa Fadlilah, S.Kep
Sejumlah emak-emak berdaster menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Samarinda pada 24/07/2024 lalu. Aksi tersebut bertemakan ‘Stop Komersialisasi dan Liberalisasi Pendidikan Anak.'
Dalam aksi tersebut, orang tua siswa mengeluhkan tingginya harga buku dan LKS. Selain itu, mereka juga menyampaikan adanya dugaan jual beli buku sekolah, serta mempertanyakan batasan ‘sekolah gratis’ (kaltim.tribunnews.com, 25/07/24).
Nina Iskandar, koordinator aksi damai tersebut mengemukakan sejumlah tuntutan yang dibawa dalam aksi ini. Pertama, para demonstran meminta Pemprov Kaltim memperjelas ihwal program pendidikan gratis yang dicanangkan pemerintah pusat.
Menurut mereka program tersebut belum sepenuhnya terlaksana karena masih ada sekolah negeri yang berbayar dengan dalih sedekah. Kedua, demonstran menyoroti tentang program Bantuan Operasional Sekolah Nasional (Bosnas).
Mereka meminta agar dana tersebut digunakan untuk keperluan siswa, jika masih ada sisa baru digunakan untuk kebutuhan sekolah. Ketiga, demonstran meminta pejabat Gubernur Kaltim memeriksa setiap kepala sekolah di Provinsi Kaltim.
Mereka menduga para kepala sekolah tidak transparam dalam membelanjakan dana Bosnas. Mereka pun menyarankan agar melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam pemeriksaan ini (kaltimkece.id, 24/07/24).
Setelah kurang lebih satu jam menyampaikan aspirasi, 10 perwakilan demonstran diperkenankan bertemu dan berdialog dengan sejumlah pejabat Pemprov Kaltim di ruang rapat Batiwakal kantor Gubernur Kaltim. Dalam pertemuan tersebut, koordinator aksi menyampaikan alasan aksi ini tidak dilakukan di Pemkot Samarinda.
Ia menyebutkan sebelumnya sejumlah orang tua murid mengadukan masalah pendidikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda namun tidak ada perubahan yang signifikan.
Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan jual beli buku paket tidak hanya terjadi di Samarinda, namun hampir di semua kabupaten dan kota di Kalimantan Timur (kaltimkece.id, 24/07/24).
Menanggapi aksi tersebut, Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Sekretariat Provinsi Kaltim, Imanudin, memastikan semua aspirasi yang disampaikan dicatat dan akan ditindaklanjuti. Ia mengatakan hasil notulensi akan segera disampaikan kepada PJ Gubernur Kaltim, dan paling lambat tujuh hari kerja sudah ada keputusan (kaltimkece.id, 24/07/24).
Kompleksitas Persoalan Hidup
Lebih dari mahalnya harga buku paket dan LKS, sejatinya keluhan-keluhan yang dilontarkan emak-emak tersebut adalah representasi bahwa mereka sedang menghadapi kesulitan ekonomi karena tingginya biaya hidup. Kesulitan bertambah karena mahalnya biaya sekolah, padahal pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok warga.
Hal ini membuat para ibu merasa semakin terhimpit. Sebagaimana yang dialami oleh salah satu peserta aksi damai di atas, ibu Ari yang bekerja sebagai pedagang sayur. Sedangkan suaminya tidak bekerja karena kondisi kesehatannya sedang menurun.
Ia mengatakan tidak sanggup jika harus membayar buku seharga 800 rb setiap semester untuk anaknya yang saat ini duduk di kelas enam SD. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari saja sudah sulit memenuhinya (kaltimkece.id, 24/07/24).
Tentu di luar sana ada banyak ibu Ari lain, yang mengalami hal serupa. Sebelum digelarnya aksi damai oleh emak-emak berdaster ini, Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur mengatakan telah menerima sejumlah laporan mengenai masalah pendidikan.
Salah satunya adalah mahalnya biaya buku yang harus ditanggung siswa, padahal tidak sedikit orang tua siswa yang mengalami kesulitan ekonomi. Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, memaparkan, sedikitnya 11 sekolah tingkat dasar dan pertama di Samarinda yang memperjual-belikan buku (kaltimkece.id, 24/07/24).
Dalam sistem kapitalisme komersialisasi pendidikan merupakan hal yang wajar terjadi. Inilah konsekuensi hidup dalam sistem sekuler kapitalisme yang menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan dari setiap perbuatan tanpa mempertimbangkan aturan agama.
Maka semua sektor kehidupan akan dijadikan lahan tambang keuntungan, tak terkecuali pendidikan. Kondisi tersebut tentu semakin mempersulit masyarakat, terutama orang tua siswa. Di sisi lain generasi yang tercetak dalam sistem pendidikan kapitalisme pun tidak tercover akidah Islam.
Akibat pemangkasan pendidikan agama di sekolah sebagai buntut dari sekularisasi dan liberalisasi pendidikan. Alih-alih mencetak generasi yang berakhlak, sistem pendidikan ala kapitalisme justru melahirkan kepribadian sekuler yang memandang pendidikan hanya untuk mengejar nilai tinggi. Dengan harapan kelak akan menjadi jembatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Sehingga tidak jarang ada yang melakukan tindakan melanggar aturan seperti jual beli jawaban soal, gratifikasi, hingga suap. Sedangkan mereka yang tidak mendapat pekerjaan pun akhirnya rela melakukan pekerjaan haram demi mendapat cuan untuk memenuhi kebutuhan.
Begitu suramnya wajah sistem pendidikan yang kita saksikan sekarang ini. Padahal sejatinya pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh negara. Bukan diserahkan pada sekolah ataupun orang tua.
Islam Menjamin Pendidikan
Berbeda dengan Islam, dalam sistem Islam pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi negara secara gratis dan berkualitas. Untuk mewujudkan itu tentu harus didukung dengan penerapan sistem ekonomi Islam.
Dimana diatur didalamnya bahwa Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah jumlahnya adalah harta kepemilikan umum. Sehingga pengelolaannya merupakan kewajiban negara, dan hasilnya sepenuhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, salah satunya untuk menyediakan pendidikan terbaik dan gratis untuk semua rakyatnya tanpa terkecuali.
Baik miskin atau kaya, muslim ataupun non muslim. Tujuan pendidikan pun jelas, yaitu untuk mencetak generasi yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam, dan ilmu-ilmu kehidupan (IPTEK dan keterampilan).
Sehingga output pendidikan tidak hanya kuat secara iman tapi juga memiliki bekal untuk kehidupan. Para ilmuan dan intelektual yang tercetak pun mempunyai semangat tinggi untuk mengembangkan ilmunya dengan tujuan memberikan kemudahan untuk hidup dan ibadah.
Bukan sekedar memperoleh keuntungan pribadi sebagaimana kebanyakan intelektual yang ada saat ini. Maka tidak heran pada masa kejayaan Islam, saat semua aspek kehidupan diatur dengan aturan Islam, banyak terlahir ulama sekaligus intelektual hebat yang penemuannya menjadi dasar pengembangan ilmu modern saat ini.
Seperti Al-Khawarizmi, yang telah dikenal berkat temuan hebatnya, yaitu algoritma yang berperan penting sebagai pembuka gerbang teknologi terutama bidang komputer.
Al-Khawarizmi juga berhasil menemukan konsep aljabar, memperkenalkan angka nol, sistem notasi desimal, membuat tabel perhitungan astronomi untuk mengukur jarak dan kedalaman bumi, menemukan model pembuatan peta dunia, menemukan konsep alat penunjuk waktu dengan bayangan sinar matahari, dll. Sungguh hebat bukan?
Namun hal demikian hanya bisa terjadi jika aturan Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali sistem pendidikan dan ekonomi. Wallahu a’lam....................