Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas, Realistis Atau Utopi?

Minggu 7 Juli 2024

Oleh: Ummu Hawwa

Muslimah Koltim

Di kutip dari Liputan6.com Hari Keluarga Nasional (Harganas) diperingati setiap tanggal 29 Juni, dan pada tahun 2024, peringatan ini memasuki tahun ke-31.

Harganas merupakan momen penting untuk mengingatkan kita akan peran keluarga dalam menciptakan generasi emas.

Peringatan Harganas ke-31 Tahun 2024 bertema "Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas“ dikatakan untuk mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara. 

Buah dari sistem sekularisme Faktanya hari ini fungsi keluarga tidak bisa terwujud dengan baik, yang nampak hanyalah berbagai problem serius pada keluarga, seperti tingginya kemiskinan, stunting, KDRT, terjerat pinjol, juga perceraian dan lain sebagainya.

Semua akibat banyak kebijakan negara yang mengakibatkan masalah pada keluarga, sehingga seringnya hilang keharmonisan dalam keluarga. Seorang kepala keluarga hanya di fokuskan dalam mencari nafkah, sehingga tidak memperhatikan untuk mendidik istri dan anak di rumah.

Yang terpenting baginya hanya bagaimana supaya bisa memenuhi kebutuhan keluarga dalam ini sandang, pangan dan papan. Padahal salah satu penting dari seorang kepala keluarga adalah mendidik keluarganya sehingga menjadi keluarga yang berkualitas.

Bahkan para pemimpin keluarga terkadang melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi tugasnya, kadang di tempuh dengan cara yang tidak berkah, sehingga hasilnya pun berdampak ke keluarga yang tidak harmonis.

Kemudian peran seorang ibu kini terkikis sedikit demi sedikit, dengan berbagai pemahaman yang menyesatkan, yang menganggap bahwa perempuan yang hanya tinggal di rumah menjadi seorang ibu itu adalah kuno, dimana seolah-olah peran seorang itu tidak lebih baik dari menjadi wanita yang mempunyai karir yang gemilang, padahal ibu menjadi tonggak peradaban, dimana ketika menginginkan bangsa yang baik dan berkualitas maka ibunya yang harus baik terlebih dahulu.

Namun hari ini, karena banyaknya problem dari keluarga yang menjadi tanggung jawab ibu terkadang membuat para ibu menjadi stress dan ada yang sampai mengakhiri hidupnya, bahkan pernah ada kasus ibu membunuh anaknya sendiri, ini adalah dampak dari kompleks suatu masalah yang tidak menemui solusi.

Anak-anak pun kehilangan kasih sayang dari keluarga, dimana ayah di sibukkan mencari materi, dan ibu yang hampir tidak lagi menjadi guru pertama bagi anak-anaknya, sehingga tidak jarang kita jumpai orang tua berpisah atau cerai dan anak-anak yang menjadi korban, bahkan ada yang broken home, dimana anak-anak merasa tidak di perhatikan, merasa tidak harapkan, dan mirisnya anak mudah terbawa arus akibat kurangnya kontrol dari keluarga.

Dan tentu ini menjadi tujuan utama dari kaum pembenci Islam yakni kafir penjajah, mereka menyerang pemikiran-pemikiran kaum muslim dengan pemahaman yang menyesatkan, di kemas seolah-olah itu baik, padahal justru menjerumuskan. Inilah buah dari sistem sekularisme dimana memisahkan antara agama dengan kehidupan, agama tidak lagi di jadikan aturan hidup, sehingga manusia bebas sebebas-bebasnya melakukan apapun yang mereka kehendaki, tanpa berpikir apakah yang mereka lakukan itu benar dalam kacamata agama.

Sehingga sulit menghasilkan keluarga yang berkualitas dalam sistem sekularisme Islam menjaga keluarga Memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia merupakan impian setiap orang, gimana keluarga menjadi rumah ternyaman, dan aman bagi anak-anak untuk berlindung dari kerasnya tantangan dari luar.

Dan tentu ini menjadi tujuan dalam Islam, Islam menjaga keluarga dari terpecah bela apalagi berpisah, walaupun di dalam Islam di bolehkan bercerai tapi itu di benci oleh Allah.

Islam menjadikan tiap individu beriman dan bertakwa kepada Allah, sehingga setiap individu menjalankan syariat Islam, yang artinya mereka bertingkah laku sesuai dengan Islam, sehingga setiap anggota keluarga akan menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

Dalam Islam keluarga memiliki peran politis dan strategis, dimana keluarga sebagai tempat pertama anak-anak mendapatkan pengetahuan, serta keluarga menjadi contoh pertama dalam beradab sebagai seorang muslim,dan sebagian hamba.

Keluarga juga menjadi tempat untuk membangun keharmonisan, sehingga keluarga menjadi rukun dan damai. Islam memiliki gambaran keluarga ideal yang berorientasi pada akhirat tanpa melupakan dunia.

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada Meraka dan mengerjakan apa yang di perintahkan." QS at-Tahrim ayat 6.

Begitu jelas perintah di dalam Islam bagaimana seharusnya menjaga keluarga, sebab akan ada azab yang begitu pedih ketika lalai terhadap tanggung jawab keluarga.disamping itu Islam juga memiliki metode yang bervisi ro'in dan junnah yang membangun kebijakan untuk menyiapkan keluarga Tangguh dan melahirkan generasi cemerlang pembangun peradaban mulia.

Pada zaman Islam di terapkan telah lahir para ulama-ulama yang begitu berpengaruh dalam penyebaran Islam, seperti imam Syafi'i yang didik oleh ibu yang luar biasa, meskipun seorang janda tapi beliau mampu menghantarkan anaknya menjadi seorang ulama yang masyhur, yang punya peranan penting dalam peradaban Islam, tentu ini seharusnya menjadi contoh dalam mendidik anak sehingga melahirkan generasi emas.

Dan tentu semuanya itu hanya bisa di jalankan ketika aturan Islam di terapkan dalam semua lini kehidupan, menjadikan Islam sebagai poros kehidupan dan ini bisa di rasakan ketika kita berada dalam sistem Islam yang di jalankan oleh Daulah Islamiyah. Wallahu 'alam bissowab (*)