Sabtu 15 Juni 2024
Yuliana S.Sos
(Pemerhati Generasi)
Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kutai Kartanegara, menggelar Grand Final Apresiasi Pemilihan Duta GenRe Kukar Tahun 2024. Ketua Panitia Diska Alya Ananta dalam laporannya menyampaikan pentingnya role model dari kalangan remaja yang akan menjadi wakil atau duta genre dari kabupaten.
Ketua TP PKK Kukar Maslianawati Edi Damansyah dalam sambutannya menyampaikan bahwa event tersebut adalah wujud nyata komitmen Pemkab Kukar dan stakeholder lainnya untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial yang tinggi.
Duta GenRe (Generasi Berencana) menjadi ajang pemilihan remaja putra dan putri untuk menjadi figur teladan serta motivator di kalangan remaja yang nantinya berperan memberikan wawasan kepada generasi muda tentang kesehatan reproduksi.
Selain itu, juga menciptakan remaja yang bebas narkoba, seks bebas, dan HIV/AIDS. Tugas utama Duta Genre adalah menanamkan terlebih dahulu pada diri masing-masing makna menjadi remaja sehat, remaja hebat, berprestasi, juga berakhlak mulia.
Dengan begitu, mereka akan menjadi teladan dan inspirasi bagi yang lain. Setidaknya ada empat program yang perlu dilakukan Duta Genre, yaitu kependudukan dan pembangunan keluarga, kesehatan reproduksi remaja, keterampilan hidup, dan perencanaan kehidupan berkeluarga.
Dari sini, tampak bahwa Duta Genre bertugas untuk mengedukasi remaja agar mengoptimalkan masa mudanya untuk berkarya demi bangsa. Berkarya di sini adalah mengutamakan pendidikan dan karier. Artinya, sangat kental demi kepentingan ekonomi.
Namun, harapan pemerintah menjadikan Duta Genre sebagai solusi permasalahan remaja hari ini rasanya tidak pas. Duta genre hanya mampu memberikan edukasi, bukan menyadarkan remaja secara totalitas.
Mereka melakukan edukasi secara masif, tetapi negara tetap membiarkan faktor penyebab rusaknya remaja sehingga tidak akan memberikan dampak yang berarti. Pemuda seharusnya dibina.
Bertumbuh menjadi agent of change berkontribusi lebih dengan cita-cita yang lebih tinggi. Bervisioner untuk sebuah perubahan bukan hanya sebagai duta konseling yang komunikatif bagi remaja lainnya.
Sayangnya, dari program ini pembentukan generasi yang berimtak tidak diprioritaskan. Sehingga role model remaja pun nampak sekuler. Belum lagi serangan pemikiran barat sangat masif untuk menjauhkan generasi umat dari pemahaman Islam.
Target mereka adalah agar Islam versi Barat atau Islam moderat yang diadopsi oleh generasi muda kaum muslim. Barat juga menginginkan remaja muslim menjadi asing dengan pegangan hidupnya yaitu Al-Qur’an dan Sunah.
Jika dikembalikan kepada ajaran Islam maka duta remaja Islam adalah agent of change yang mampu membangkitkan umat untuk perubahan. Bekal kekuatan iman dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya membuat remaja muslim berani menyampaikan Islam kafah ke tengah-tengah komunitas mereka dan masyarakat.
Mengubah kondisi yang buruk dan menyengsarakan umat menuju kehidupan yang terbaik bagi kemaslahatan umat. Pemilihan Mush’ab sebagai duta Islam bukan tanpa alasan. Ia adalah pribadi yang kukuh iman dan takwanya.
Terbukti, suatu hari di Madinah, Mush’ab sedang berdakwah di tengah suku Abdul Asyhal, tiba-tiba Usaid bin Hudhair sang kepala suku muncul dengan tombak terhunus.
Dia marah kepada Mush’ab karena mencoba menghasut orang-orang di sukunya untuk meninggalkan agama nenek moyang mereka. Menghadapi kemarahan Usaid, Mush’ab tetap tenang dan berkata, “Mengapa engkau tidak duduk dan mendengarkan terlebih dahulu? Jika nanti engkau tertarik, engkau boleh menerimanya. Namun, jika engkau tidak suka, kami akan pergi.”
Usaid bin Hudhair pun setuju, kemudian Mush’ab membacakan ayat Al-Qur’an dan menjelaskan tentang agama yang dibawa Muhammad. Setelah selesai mendengarkan, Usaid yang terpesona akhirnya memeluk Islam. Dengan masuk Islamnya Usaid kemudian diikuti oleh pemuka Madinah lainnya yaitu Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah sehingga makin banyak penduduk Madinah yang memeluk Islam.
Sebuah keniscayaan jika hari ini pun lahir remaja muslim semisal Mush’ab bin Umair ra.. Hal ini dapat terwujud dengan selalu mendampingi mereka dalam pembinaan, mendorong untuk mendakwahkan Islam kafah, serta mempersiapkan mental mereka dengan berbagai risiko yang akan ditemui seorang duta Islam kafah. Orang tua, keluarga, dan masyarakat muslim harus mempersiapkan para remajanya untuk menjadi duta Islam kafah.
Duta yang tidak menyia-nyiakan masa muda dan tidak teperdaya dengan berbagai tipuan kesenangan dunia. Remaja yang kukuh imannya, memiliki kesadaran politik Islam, berani mengemban amanah sebagai duta, dan menggunakan masa mudanya untuk menggapai rida Allah semata. Wallahualam.