Rabu 12 Juni 2024
Oleh: Ririn Indani., SP
(Aktivis Muslimah Samarinda)
Menjadi permasalahan yang berulang, penangan stunting menjadi perhatian serius bagi semua pihak, termasuk Pemkot Bontang. Mengingat permasalah stunting akan berdampak secara langsung baik jangka pendek ataupun jangka Panjang.
Pada jangka pendek, balita yang mengalami stunting dari sisi kesehatan akan mempunyai kemampuan kognitif yang lebih rendah. Pada jangka panjang, jika angka stunting tidak ditekan, akan menghasilkan semakin banyak anak memiliki kemampuan kognitif rendah dan akhirnya akan mempengaruhi kemampuan dan persaingan dunia kerja.
Sehingga jika masalah ini dibiarkan, negara akan kehilangan generasi penerus yang dapat melanjutkan estafet pertumbuhan ekonomi negara.
Meningkatnya prevelansi stunting di Bontang yang terbilang tinggi, pada tahun 2023 mencapai 27,4% naik dari tahun 2022 lalu sekitar 21%.
Pemkot Bontang dalam menekan angka stunting menggagas pemberian makanan tambahan (PMT) yang dilakukan oleh seluruh aparatur sipil negara (ASN) setelah sebelumnya tahap analisa situasi dan perencanaan kegiatan litas sektro dilakukan.
Menilik akar dari masalah stunting adalah kemiskinan, maka seharusnya masalah stunting ini tidak dialami daerah yang kaya akan sumber daya alam, seperti Kaltim.
Melihat persoalan stunting memang kompleks dan sistematik, meskipun pemerintah telah menggelontorkan dana secara khusus, namun jika tidak menyentuh akar masalah maka akan mustahil nol zero stunting.
Sehingga pemberian makanan tambahan (PTM) yang dilakukan aparatur sipil negara (ASN) bukanlah solusi yang tepat. Faktor kemiskinan yang tersistem lahir dari sistem ekonomi kapitalisme sekuler yang diterap pada negeri ini. Kekayaan SDA yang dimiliki hanya untuk segelintir orang, sedangkan rakyat masih terjerat dalam kondisi kemiskinan.
Belum lagi, hasil pada SDAE sebagai besar dialokasikan untuk kebutuhan ekspor, bukan untuk kebutuhan masyarakat dan negara. Perlu support sistem dan peran berbagai pihak, terutama peran negara. Negara harus mengembalikan kekayaan SDAE agar stunting akibat kemiskinan tidak terjadi dan kesejahteraan dapat dirasakan.
Selain itu, sistem pendidikan yang tidak mempersiapkan bekal menjadi seorang ibu,. Sistem kesehatan mentel, tumbuh kembang anak, dan lainnya. Peran ibu dialihkan, ibu yang seharusnya bisa fokus terhadap diri, anak dan keluarga dijadikan sebagai penggerak ekonomi keluarga.
Ibu harus keluar rumah untuk bekerja dan tak sedikit menjadi tulang punggung keluarga. Penangan Stunting Dalam Islam Penangan stunting dalam islam menjadi support sistem oleh penguasa dalam sistem khilafah.
Dalam Pemerintahan Islam, pemenuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan merupakan sebuah jaminan ditambah kebutuhan lainnya.
Dan negara berkewajiban mengalokasikan anggaran untuk pemenuhan kebutuhan bagi seluruh rakyatnya, baik muslim maupun non muslim.
Negara dalam sistem Islam sistematik dan kompleks, sehingga baik sistem ekonomi, pendidikan, kesehatan, pergaulan dan lain diantaranya, akan mengkondisikan warganya jauh dari stunting.
Sistem ekonomi Islam, negara akan mengelola seluruh kekayaan yang dimilikinya untuk kemaslahatan rakyat. Dengan pengelolaan kekayaan umum (milkiyyah ‘ammah) dan kekayaan negara (milkiyyah daulah) yang benar berdasarkan Islam, sehingga menjadikan sebuah negara mampu mengentaskan kemiskinan dan meniadakan stunting dengan mekanisme yang jelas, terutama sumber daya alam akan berkolerasi dengan kesejahteraan rakyat.
Karenanya, sebelum terlambat, masyarakat paham bahwa untuk menyelesaikan masalah stunting haruslah segara kembali kepada aturan yang sesuai dengan fitrahnya, yaitu dengan menerapkan Islam sebagai sebuah aturan dalam kehidupan, Ayah bekerja dan ibu fokus memenuhi kebutuhan anaknya dan mendidik anaknya sehingga generasi sehat kuat bebas stunting. Waalhu a’lam bishawab