Kamis 26 APRIL 2023
Oleh: Asniati, S.Pd
Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kota Balikpapan mencatat sekiranya ada 700an ibu hamil di Kota Balikpapan berisiko melahirkan anak stunting.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kota Balikpapan Alwiyati yang disapa Alwi mengatakan, untuk menekan jumlah kasus stunting, pihaknya telah mencanangkan program satu telur satu hari hari bagi ibu hamil.
Program ini juga menyasar anak-anak yang mengalami stunting. Tercatat berkisar 1.436 balita di Kota Balikpapan mengalami stunting. Stunting masih menjadi persoalan di Indonesia yang menempati urutan keempat angka stunting tertinggi di dunia dan kedua se-Asia Tenggara.
Meski prevalensi stunting di Indonesia telah mengalami penurunan dari angka 26,92% pada 2020 menjadi 24,4% pada 2021 dan turun lagi di angka 21,6% pada 2022, tetapi angka tersebut masih tinggi dibandingkan ambang batas yang ditetapkan WHO, yakni 20%.
Penyebab Stunting Stunting adalah gangguan pertumbuhan otak pada anak yang disebabkan kurangnya asupan gizi dan infeksi berulang, serta kurangnya stimulasi dari orang tua terkait pola asuh dalam perkembangan dan pertumbuhan anak yang sering disebut dengan istilah asah, asih, dan asuh.
Beberapa faktor penyebabnya dari sisi kesehatan adalah pertama, faktor genetik (keturunan)–meskipun bukan faktor dominan—karena setiap anak berpotensi tumbuh 8—10 cm setiap fase pertumbuhannya. Ini bisa terjadi jika asupan gizi dan stimulus dari orang tua terpenuhi. Kedua, asupan gizi.
Ibu hamil yang kurang atau tidak sehat bisa memengaruhi asupan gizi anak yang berefek pada pertumbuhan dan perkembangan anak. ketiga adalah sanitasi air bersih dan kebersihan lingkungan.
Penyelesaian Yang Tidak Menyelesaikan Pemerintah telah menerbitkan beberapa kebijakan untuk menekan angka stunting. Salah satunya Perpres No. 2/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
Strategi yang diterapkan adalah intervensi spesifik di bawah kendali Kementerian Kesehatan, dan intervensi sensitif yang multisektoral untuk mengatasi permasalahan sosio-ekonomi yang dapat berhubungan dengan peningkatan risiko stunting Namun faktanya, angka stunting di Indonesia masih tinggi dari standar yang telah ditetapkan WHO.
Langkah-langkah seperti pemeriksaan ibu hamil, pemberian 1 telur 1 hari, mengukur tinggi bayi dan menimbang berat badan bayi, serta pemberian makanan tambahan adalah case orientik, memandang kasus perkasus pada bayi atau keluarga yang sudah mengidap stunting. Padahal, persoalan stunting ini adalah persoalan sistemis, maka penanganannya juga harus tersistem.
Masalah utama stunting adalah teraksesnya gizi. Namun, faktanya saat ini tidak semua orang bisa mengakses gizi akibat kemiskinan. Sistem ekonomi kapitalisme neoliberal yang digunakan dinegeri kita hari ini berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan PDB negara.
Akibatnya, sistem ini fokus pada perdagangan internasional, seperti cara mengekspor dan mengimpor barang. Untuk negara yang tidak punya teknologi dan modal, maka negara tersebut membuka akses terhadap investasi asing. Terjadilah eksplorasi dan eksploitasi SDAE negara tersebut dan diangkut oleh negara yang menanam investasi.
Akhirnya, kesejahteraan hanya dirasakan oleh korporasi, sedangkan rakyat tidak bisa mendapatkannya. Padahal, kekayaan alam tersebut adalah milik rakyat.
Indonesia adalah negara yang dua pertiganya adalah laut, maka sejatinya protein hewani sangat berlimpah di negeri ini.
Namun, dengan diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme, berbagai potensi yang menjadi sumber protein hewani seperti udang dan ikan diekspor ke negara-negara maju, seperti ke Amerika, Jepang, Tiongkok dan negara-negara Eropa.
Sebaliknya, yang dikonsumsi oleh anak-anak kita adalah sisa-sisa atau yang sudah di-reject oleh negara-negara maju tadi.
Inilah yang terjadi ketika ekonomi kapitalisme neoliberal yang mengatur kita, sehingga kesejahteraan itu sulit untuk didapatkan. Islam Menyelesaikan Masalah Stunting Ketika penerapan sistem kapitalisme neoliberal telah nyata menjadi penyebab utama berbagai persoalan termasuk kasus stunting, maka sudah sepantasnya sistem ini ditinggalkan dan harus mencari alternatif sistem lain yang mempu menyolusi berbagai persolan ini.
Sebagai muslim, tentu kita meyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan meyakini bahwa jika Islam diterapkan secara kafah, pasti akan menyelesaikan berbagai masalah, termasuk persoalan stunting ini.
Ketika Islam diterapkan, maka masyarakat akan sejahtera.
Dengan penerapan Islam secara kafah, sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan otomatis akan terpenuhi karena Islam telah menjadikan kepala negara yang bertanggungjawab terhadap urusan rakyat. Kesejahteraan pun akan dinikmati oleh masyarakat, bahkan perindividu.
Mekanismenya, adalah dengan mewajibkan laki-laki bekerja, sedangkan negara yang wajib memberikan lapangan pekerjaan dengan cara mengelola kekayaan alam kita sendiri, tidak diserahkan kepada asing.
Ketika kekayaan alam dikelola oleh negara, secara otomatis akan membutuhkan tenaga ahli dan pekerja. Dengan sendirinya, pengangguran tidak akan ada lagi. Kemudian, ketika ada laki-laki yang tidak mampu, maka tanggungjawab penafkahan akan dibebankan kepada ahli warisnya.
“Namun, jika ahli warisnya tidak mampu, maka akan dibebankan lagi pada negara yang pembiayaannya diambil dari Baitulmal. Demikianlah mekanismenya. Insyallah jika Islam diterapkan, maka persoalan stunting ini akan bisa diselesaikan. Wallahu A’lam