Miris, Stunting di Kota Kaya SDAE

Jumat 14 APRIL 2023

Oleh Rosyidah Muslimah

 Indonesia dengan beragam kekayaan alam dan keberagaman tanaman pangan yang dimiliki, ternyata masih dirundung masalah gizi yang belum berujung hingga detik ini, yaitu status gizi stunting dan obesitas merupakan 2 masalah yang menjadi fokus utama diantara masalah gizi lainnya.

Rosyidah Muslimah

Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Balikpapan meluncurkan program Kader Bergerak Melawan Stunting (Karamunting), dalam rangka mendukung percepatan penurunan angka stunting. Program tersebut dilaunching langsung oleh Ketua TP PKK Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas'ud di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan, Jumat (31/3/2023).

Dalam peluncuran tersebut turut hadir perwakilan Ibu dari keluarga yang memiliki balita terdampak stunting.

"Beberapa hari ini kita lagi dihebohkan dengan kenaikan (angka) stunting di Kota Balikpapan. Untuk itu, bagaimana kita ini mencari tagline yang berhubungan dengan Kota Balikpapan tapi mengandung arti untuk penurunan angka stunting," jelas Nurlena Rahmad Mas'ud.

(Kaltim.tribunnews.com)   Stunting (kerdil) adalah kondisi anak usia 0-59 bulan, dimana tinggi seorang anak tidak sesuai dengan usianya yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu lama. Biasanya karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu pada saat hamil, kesakitan dan kurangnya asupan gizi pada bayi, tidak terlaksananya Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

Gagalnya pemberian ASI Ekslusif, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang kurang memperhatikan kualitas, kuantitas dan keamanan pangan, serta penyakit infeksi yang disebabkan oleh higien sanitasi yang buruk misalnya diare dan kecacingan dapat mengganggu penyerapan zat-zat gizi pada proses pencernaan.

  Tingginya angka stunting akan berpengaruh pada kualitas generasi dimasa yang akan datang. Padahal generasi adalah aset yang paling berharga untuk memegang kemajuan suatu bangsa dan peradaban, namun balita yang mengalami stunting menimbulkan dampak buruk jangka pendek dan jangka panjang hingga menghambat kualitas dan produktifitasnya.

Menurut WHO, balita stunting dimasa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal, misal mengurangi kapasitas untuk berpendidikan, pada usia dewasa akan berpotensi menjadi gemuk (obese) dan berpeluang menderita Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, kanker dan penyakit degeneratif lainnya. 

Melihat prevalensi stunting yang masih tinggi tadi, dan dampak yang ditimbulkan juga membahayakan generasi, maka pemerintah mencanangkan berbagai macam program untuk menurunkan pervalensi.

Misalnya pada tahun 2010, Scaling Up Nutrition (SUN) diluncurkan sebagai gerakan global dengan prinsip dasar semua penduduk berhak mendapatkan dana memperoleh akses ke makanan yang cukup dan bergizi. Dua tahun berikutnya pemerintah Indonesia bergabung dalam gerakan tersebut melalui program Intervensi Stunting.

Dengan harapan melalui program yang berasal dari WHO ini mampu menurunkan angka prevalensi. Akan tetapi pada kenyataannya penderita stunting tidak kunjung terselesaikan. 

Program – program yang dilakukan pemerintah tersebut belum sampai menuntaskan persoalan gizi stunting, pasalnya solusi yang diupayakan pemerintah hanya bersifat tambal sulam saja yang itu tidak sampai mensolusi masalah hingga akarnya.

Hal ini dibuktikan masih tingginya data angka Stunting di Indonesia setiap tahunnya hingga detik tahun 2018. Padahal Stunting itu sendiri terjadi karena kekurangan asupan dalam jangka waktu yang lama.

Sedangkan kalau kita melihat Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa kaya, tanah yang subur penghasil beragam tanaman pangan dan minyak, apabila dikonsumsi oleh rakyatnya secara merata, insya Allah rakyat tidak akan kekurangan asupan pangan dalam memenuhi hajat sehari-hari.  Balikpapan adalah sebuah kota di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.

Sebagai pusat bisnis dan Industri, Potensi kota Balikpapan ini salah satunya adalah memiliki perekonomian terbesar dari seluruh Kalimantan. Dengan PDRB mencapai Rp.79,65 Triliun pada tahun 2016. Dari sisi kependudukan kedua terbesar di Kalimantan Timur setelah Kota Samarinda dengan jumlah total penduduk sebanyak 645.727 pada tahun 2018 dan pada tahun 2019 berjumlah 655.178 jiwa.

Balikpapan merupakan gerbang utama menuju ibu kota Indonesia yang baru. Adanya keberadaan Pelabuhan Semayang dan Bandar udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (Sepinggan). Keduanya merupakan pelabuhan dan bandar udara yang paling sibuk se-kalimantan. 

Balikpapan berawal dari sebuah perkampungan nelayan yang terletak pada tepi selat makassar pada abad ke 19. Pengeboran minyak pertama pada Kota Balikpapan mulai pada abad ke 19. Pengeboran sumur minyak kota ini mulai pada tepatnya pada 10 Februari 1897 februari yang kemudian menjadi hari jadi Kota Balikpapan.

Pada tahun 1907 Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) berdiri, sebuah perusahaan minyak Belanda yang kemudian berkembang dan menjadi jalur utama masuknya investasi yang berasal dari perusahaan multinasional.

Perekonomian kota yang tumbuh sangat pesat memancing banyak sekali pendatang seperti ekspatriat. Kota Balikpapan juga menjadi salah satu kota tujuan transmigrasi pada era Soeharto. (prahu-hu.com)

Balikpapan yang kaya SDAE dan pendapatan daerahnya dari perdagangan maupun pertanian dan kelautan, tetapi warganya masih ada yang terkena stunting.

Maka dari itu kita harus mencari solusi yang tepat untuk menuntaskan permasalahan gizi yang masih terbilang tinggi ini. Tentunya solusi tidak cukup hanya mengurangi masalah saja, namun solusi yang diharapakan adalah sampai memutuskan rantai masalah hingga akar-akarnya. 

Perlu kita sadari bersama, didalam islam sudah ditetapkan kebutuhan atas pangan, papan dan sandang merupakan kebutuhan setiap rakyat.

Oleh karenanya dalam ketentuan islam, negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, sandang dan papan untuk setiap individu rakyat.

Dengan cara mengontrol pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rakyat, memastikan tidak ada satupun rakyat yang kelaparan hingga kekurangan gizi, setiap individu berhak menerima pelayanan kesehatan dan pendidikan termasuk pendidikan yang berkaitan dengan menjaga kesehatan tubuh.

Oleh karenanya, sudah saatnya islam sebagai solusi paripurna untuk melindungi dan mensejahterakan seluruh umat. Sistem ini sesuai dg fitrahnya manusia sebagai hamba Allah, penebar rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam Bisshowab.