Eksploitasi Anak Tak Berujung, Tanggung Jawab Siapa?

Sabtu 1 APRIL 2023

Oleh: Ummu Rahmi, S.pd

Beberapa pekan lalu, dugaan terjadinya eksploitasi terhadap anak dengan modus menjual tisu kembali terjadi disalah satu mini market jalan MT Haryono di Balikpapan. Seperti pantauan awak media eksploitasi anak dilakukan oleh orang tua mereka, setelah mendapatkan uang langsung diambil orang tua mereka.

Anak –anak tersebut dibawa oleh ibu mereka dibeberapa titik, dengan kendaraan bermotor yang terlihat motor baru. Danru satgas penertiban PMKS (peyandang masalah kesejahteraan social).

Satpol PP Kota Balikpapan, Baswanto menyebutkan bahwa pihaknya rutin melakukan razia anak jalanan, dan penjual tisu atau lainnya. Baswanto menambahkan setelah mereka yang diamankan, lalu dikirimkan ke Dinsos untuk selajutnya dilakukan pembinaan terhadap orang tua dan anak yang menjadi korban.

1. Selain itu, dijelaskan oleh Dra Alwiati Kepala DP3AKB

“DP3AKB bersama Satpol PP Kota Balikpapan mendata ada 50 anak kurang lebih dieksploitasi (oleh orang tua) yakni menjual tisu dan lainnya."

Adapun tindakan yang dilakukan dinas terkait diantaranya melakukan razia, menasehati dan memberikan pengarahan pada orang tua dan anak menjadi korban, hingga pihak DP3AKB meminta Satpol PP bersikap tegas.

Jika mereka menjadi pedagang kaki lima dan anjal di Kota Balikpapan dan bukan warga asli Balikpapan maka, kita pulangkan mereka kedaerahannya.

2 Ketika keluarga yang merupakan institusi terkecil dimasyarakat yang seharusnya menjadi tepat paling aman dan nyaman bagi anak, namun justru sebaliknya anak-anak mendapatkan perlakuan kurang baik.

Bukan karena keluarga tak mampu namun, tingginya biaya hidup ala kapitalis telah membangun bangunan keluarga yang rapuh menghadapi kebutuhan hidup.

Karenya perlu disadari, bahwa kenaikan harga bahan pokok dan gaya hidup konsumtif yang dibangun oleh kebijakan kapitalis saat ini, telah menjerumuskan keluarga masyarakat dalam kemiskinan teramat sulit yang pada akhirnya mengorbankan para ibu dan anak-anak sebagai penghasil cuan.

Dan semakin menyengsarakan ketika masyarakat kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak karena mininya lapang kerja.

Jika pun mendapatkan pekerjaan, namun kembali penghasilan tak sebanding dengan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi ditengah masyarakat.

Selain itu, maraknya pandangan gaya hidup mewah nan konsumtif telah mendorong masyarakat berubah tujuan hidup, mengejar keuntungan materi bukan dalam rangka ketakwaan namun demi kesenangan dunia semata.

Maka, maraknya kasus eksploitasi anak yang masih terus berulang tak berujung, membuktikan bahwa keberadaan sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini tidak mampu memberikan jaminan kesejahteraan dan perlindungan bagi masyarakat.

Sistem kapitalisme telah menciptakan jurang kesenjangan social antara si kaya dan si miskin serta menyebarkan kemiskinan ditengah masyarakat yang lemah, para ibu dan anak-anak.

Kapitalisme dengan prinsip dasarnya-sekulerisme, pragmatisme, hedonisme dan liberalisme telah merusak pemikiran masyarakat menjadi egois dan eksploitatif.

Karena sistem kapitalisme yang diterapkan telah membentuk pola pemikiran masyarakat, ketika melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas-aktivitas kehidupan yang dijalani akan selalu menghitung “harga” dan “keuntungan” yang didapatkan meskipun bertentangan dengan nilai spiritual, moral dan kemanusiaan.

Begitupun dengan problem kemiskinan akut yang terus mengorbankan rakyat. Negara dengan sumber daya alam berlimpah namun rakyat masih terjajah oleh para kapital asing ataupun aseng yang merampok sumber daya alam demi keuntungan dan kekayaannya.

Inilah harga mahal hidup ditengah kehidupan moderen yang berlandaskan kapitalisme di sebuah kota yang katanya menjadi gerbang Ibu Kota Negara.

Namun sangat miris, para ibu dan anak-anak rentan dengan, eksploitasi, bahkan korban kejahatan seksual dan kekerasan untuk mereguk sejumlah cuan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya?

Dan adapun berbagai tindakan yang dilakukan ternyata tidak hanya dilakukan oleh dinas terkait, namun butuh peran level keluarga, masyarakat dan negara.

Karena sejatinya anak adalah harapan masa depan bangsa, pewaris estafet perjuangan dan kepemimpinan bangsa.

Oleh sebab itu, negara memiliki peran yang sangat vital, dimana tugas utama negara adalah melayani dan mengurusi kebutuhan rakyat, melindungi kaum lemah dan mencegah terjadinya kedzaliman termasuk untuk mencegah eskploitasi ibu dan anak yang terus bermunculan dengan beragam modus. Sebagaimana sabda Nabi saw: “Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai.” (HR.Muslim)

Maka, negara bertanggung jawab penuh terhadap ibu, anak-anak dan generasi. Selayaknya perisai, seorang pemimpin representasi sebuah negara akan melindungi dan menjaga akal, jiwa, kehormatan dan harta rakyatnya.

Negara wajib hadir memberikan solusi tuntas atas persoalan kemiskinan yang menyengsarakan rakyat dan berujung pada eksploitasi anak. Negara wajib memiliki perhatian sangat besar terhadap pemenuhan kebutuhan hidup rakyatnya yang ditentukan berdasarkan terpenuhinya kebutuhan dasar masing-masing individu, kepala perkepala.

Mulai dari sandang, pangan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Semuanya dijamin oleh negara. Negara tidak setengah-setengah dalam memberikan perhatian dan tanggung jawabnya terhadap rakyatnya.

Adapaun cara yang dapat dilakukan oleh negara mensejahterakan rakyatnya dengan mewajibkan tiap individu khususnya pria dewasa yang mampu bekerja untuk bekerja. Yang dengan demikian, dia bisa memenuhi kebutuhannya, kebutuhan istri dan anaknya, serta kebutuhan orang tuanya. Setelah itu, sanak kerabatnya.

Jika tidak ada yang menjamin kebutuhannya, anak, istri, orang tuanya, maka orang terdekat berkewajiban untuk menjaminnya. Jika tidak ada, maka negara-lah yang wajib menjamin kebutuhan mereka.

Negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan kepada rakyatnya, jika dia termasuk orang yang wajib bekerja, laki-laki, baligh, berakal dan mampu bekerja. Tidak kalah pentingnya, bagi laki-laki, baligh, berakal dan mampu bekerja, tetapi tidak bekerja atau bekerja dengan bermalas-malassan, maka negara akan memberikan sanksi, dalam bentuk ta’zir.

Begitu pula, jika setiap individu yang berkewajiban menanggung keluarganya, tetapi tidak melakukan tanggung jawab tersebut dengan baik dan benar, maka negara pun akan memberikan sanksi.

Begitu juga, ketika ada orang kaya yang berkewajiban untuk membantu tetangganya, tetapi abai terhadap kewajiban tersebut, maka negara bisa memberikan peringatan kepada mereka.

Termasuk, ketika negara sendirilah yang lalai dalam mengurus kebutuhan rakyatnya, maka para pemangku negara harus diingatkan. Selain itu, negara juga harus memiliki politik ekonomi yang menghindarkan masyarakat dari kesenjangan ekonomi yang menghantarkan pada eksploitasi para Ibu dan anak-anak sebagai pencari nafkah.

Peran negara ini hanya dapat terealisasi dengan mengganti sistem kapitalisme biang kerusakan dengan sistem islam. Dengan penerapan sistem islam negara akan terus menjaga suasana ketakwaan masyarakat.

Negara dalam islam membina warga negaranya dengan ketakwaan sehingga menjadi dasar pelaksanaan hukum-hukum islam. Karenanya individu bertakwa tidak akan melakukan eksploitasi terhadap ibu dan anak-anak.

Dengan ketakwaan tersebut pun masyarakat akan selalu mengontrol ataupun saling menasehati agar individu tidak melakukan eksploitasi ibu dan anak.

Satu-satunya sistem yang mampu mewujudkannya adalah khilafah yang menerapkan sistem hukum islam secara kaffah. Negara khilafah dalam islam akan melindungi anak, mengkondisikan anak sehingga menjadi anak-anak sholih/sholihah dan cemerlang.

Wallahu’alam Sumber berita https://balikpapan.prokal.co/read/news/251169-dugaan-eksploitasi-anak-berkedok-jual-tisu.html https://balikpapan.prokal.co/read/news/251174-jika-eksploitasi-anak-dp3akb-bakal-pulangkan-ortunya-ke-daerah-asal.html