Sabtu 25 MARET 2023
Oleh : Marwah Fidriyanti
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan, terjadi kenaikan sangat signifikan atas temuan kasus tuberkulosis (TBC) pada anak di Indonesia. Kenaikan itu bahkan melebihi 200 persen, demikian dilansir dari CNN.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Kemenkes Imran Pambudi menilai, kenaikan ini terjadi lantaran banyak orang tua yang tidak menyadari gejala TBC atau tidak segera mengobati penyakitnya, sehingga berimbas penularan pada kelompok rentan seperti anak-anak.
"Kasus TBC anak mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dari 2021 ada 42.187, kemudian 2022 ketemu 100.726, jadi ini naik lebih dari 200 persen," kata Imran dalam acara daring 'Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2023', Jumat (17/3).
Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh World Health Organization, dalam publikasinya berjudul Global Tuberculosis Report, di tahun 2022 Indonesia kini naik ke peringkat kedua, sebagai negara dengan jumlah beban kasus TBC terbanyak di Dunia setelah India. Sebelumnya Indonesia masih menempati peringkat ketiga.
“Jadi pada kamis 27 Oktober lalu, WHO baru saja mempublikasikan report yang bertajuk Global TBC Report, nah di sini negara kita Indonesia naik peringkat, jadi urutan nomor 2 di dunia setelah India dengan jumlah beban kasus TBC terbanyak di Dunia,” pungkasnya.
Ia juga menambahkan bahwa estimasi kasus TBC di Indonesia meningkat sebanyak 145 ribu kasus dalam satu tahun ini. “Negara kita yang sebelumnya jumlah kasus TBC hanya sebesar 824 ribu, naik menjadi 969 ribu, dan jumlah kematian yang naik menjadi 144 ribu,” tambahnya.
Selain itu, melalui seminar tersebut pakar lain juga menambahkan bahwa jumlah kematian yang disebabkan oleh TBC di Indonesia, setara dengan tiga orang setiap satu menitnya.
“Dari jumlah 144 ribu tadi kalau kita bagi, dalam satu jamnya ada sekitar 16 orang di Indonesia yang meninggal, karena kasus TBC, atau setara dengan 3 orang di tiap satu menitnya,” tukas Ketua Organisasi Profesi Indonesia untuk penanggulangan TBC, (KOPI TB) dr. Erlina Burhan.
Dengan jumlah kasus yang terus bertambah tersebut, Erlina mengungkapkan diperlukan gaya baru, atau Inovasi baru dalam upaya penanggulangan TBC, mulai dari obat vaksin, hinga alat diagnostik baru.
“Kalau jumlahnya yang bertambah terus, kita harus akui cara lama sudah tidak lagi bisa digunakan, kita perlu cara-cara baru dalam penaggulangan penyakit ini, seperti obat baru, vaksin baru, regimen baru, hingga alat diagnostik baru, yang mudah digunakan dan efisien,”tambahnya.
Penyakit TBC sendiri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman micobacterium tuberculosis dan dapat menjangkiti semua orang tanpa tebang pilih. Indonesia dengan jumlah penduduk yg sangat padat di dunia, mengakibatkan minimnya pemerintah utk memperhatikan ekonomi kehidupan rakyatnya, yg semakin sulit.
Akibat sistem yg digunakan saat ini. Dokter Anak Indonesia (DAI), Rina Triasih menyatakan, bahwa kasus penyakit TBC berkaitan dengan kondisi kemiskinan di suatu wilayah. Keadaan sosial ekonomi seseorang, dapat memengaruhi kualitas kesehatannya.
Kualitas kesehatan kalangan atas biasanya lebih baik, daripada yang berasal dari kalangan bawah atau miskin. Angka notifikasi kasus atau case notification rate (CNR), di Indonesia pada tahun 2017, mencapai 161 per 100.000 penduduk, sedangkan untuk notifikasi kasus tuberkulosis dengan HIV, pada tahun 2017 mencapai 1,85%.
Berdasarkan tingginya kasus di Indonesia, kejadian tuberkulosis bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Kejadian tuberkulosis dapat disebabkan oleh faktor riwayat TB di dalam keluarga. Apabila salah satu anggota keluarga terpapar penyakit TB, maka kemungkinan anggota keluarga lainnya akan tertular.
Penularan TB di dalam keluarga, terjadi dikarenakan seringnya berkontak langsung dengan penderita TB yang tinggal dalam satu rumah. Selain itu, faktor perilaku penderita TB pun dapat mempengaruhi terjadinya kejadian TB.
Perilaku penderita TB yang sering membuang dahak sembarangan, bisa mengakibatkan orang yang disekitarnya tertular karena bakteri TB, terdapat di dalam dahak penderita.
Penderita TB yang tidak menerapkan etika batuk, dan PHBS di tempat tinggalnya dapat memberikan kesempatan bakteri TB dengan mudah menulari orang lain. Faktor lainnya yang dapat mengakibatkan seseorang terpapar penyakit TB adalah perilaku merokok.
Jika seseorang memiliki kebiasaan merokok maka orang tersebut lebih rentan tertular oleh bakteri TB. Kondisi lingkungan rumah bisa menjadi faktor lain dalam kejadian TB. Rumah yang tidak memiliki pencahayaan yang baik, dan kurang dimasuki cahaya matahari, merupakan faktor yang bisa
membuat bakteri TB bertahan di lingkungan rumah, sehingga kejadian TB semakin meningkat. Selain itu, rumah yang tidak memiliki jendela yang memadai, pun bisa membuat bakteri TB semakin bertahan lama di dalam rumah.
Faktor kondisi lingkungan rumah ini bisa semakin membahayakan, apabila berada di perumahan yang kumuh dan padat.
Meski pemerintah sudah melakukan berbagai upaya mencegah dan meminimalkan penularan TBC, jika persoalan kemiskinan belum terurai secara tuntas, kasus TBC bisa jadi terus meningkat.
Sekali pun negara menggandeng ormas, LSM, bahkan WHO untuk mencegah dan mengatasi TBC, jika pengaturan urusan rakyat masih menerapkan kapitalisme, hidup sehat dan sejahtera hanya angan-angan belaka.
Lingkungan dan sanitasi bersih, gizi baik, terpenuhinya kebutuhan dasar, kesadaran literasi, pengetahuan, serta edukasi di masyarakat, tidak akan tercapai selama rakyat masih susah dan sulit mengaksesnya, apalagi rakyat miskin.
Oleh karenanya, biang masalah kemiskinan inilah yang mesti diselesaikan secara tuntas, barulah masalah penyakit menular semacam TBC dapat dicegah.
Solusi Islam
Bagi setiap masalah, Islam punya solusinya, Dalam menangani masalah TBC, Islam akan berfokus pada penyelesaian masalah pokoknya terlebih dahulu, yaitu penerapan sistem kapitalisme yang memiskinkan masyarakat secara terstruktur dan sistematis, dalam paket kebijakan pemerintah pro kapitalis.
Dalam hal ini, peran negara sangat penting selaku pe-riayah urusan rakyat. Pertama, negara memenuhi kebutuhan dasar rakyat, yakni sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan secara layak.
Negara membuka lapangan kerja seluas-luasnya agar kepala keluarga dapat menafkahi dan memenuhi kebutuhan keluarganya, Bagi pengangguran, negara akan memberi bantuan untuk membuka usaha atau pembekalan keterampilan untuk bekerja.
Negara juga akan memberi layanan pendidikan dan kesehatan secara gratis, bagi seluruh warga negara. Dengan berbagai kemudahan tersebut, tidak sulit bagi warga menciptakan sanitasi dan lingkungan bersih, serta gizi yang cukup untuk keluarganya.
Kedua, negara mengelola SDA dan memberikan hasil pengelolaan itu bagi masyarakat. Hasil pengelolaan SDA juga dapat digunakan untuk membangun sarana dan layanan kesehatan, yang dapat diakses masyarakat dengan murah dan mudah.
Jika ditemukan kasus penyakit menular, negara akan memberikan pengobatan hingga sembuh bagi pasien. Negara juga akan melakukan deteksi dini agar penyakit tersebut tidak menyebar ke daerah lainnya.
Demikianlah, dengan penerapan sistem politik dan ekonomi Islam secara kaffah, negara dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, dengan pola hidup sehat beserta nutrisi yang cukup. Wallahu a'lam bishawab.