Senin 13 MARET 2023
Oleh : Risnawati
(Pegiat Opini Muslimah Sultra)
Sungguh miris, Akhir-akhir menyaksikan fenomena generasi muda kecanduan media sosial demi sebuah eksistensi diri mulai dari kecanduan selfi, game online, sampai membuat berbagai konten di youtube, aplikasi tiktok dan sejenisnya, hingga sampai membahayakan jiwa bahkan menghilangkan nyawa.
Seperti dilansir dalam laman Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang perempuan di Leuwiliang, Kabupaten Bogor ditemukan tewas dengan kondisi leher menggantung di sebuah tali. Korban berinisial W (21 tahun) tersebut tewas saat membuat konten candaan gantung diri di hadapan teman-temannya via video call.
"Dari kata keterangan dari saksi, dia (korban W) itu lagi bikin konten gantung diri, gitu," kata Kapolsek Leuwiliang Kompol Agus Supriyanto, Jumat (3/3) dikutip dari Detik.
Saat ini eksistensi diri menjadi hal yang diprioritaskan oleh generasi muda. Kemajuan media membuat hal tersebut menjadi lebih mudah.
Jadilah unjuk eksistensi dengan berbagai konten, bahkan termasuk dengan cara yang membahayakan jiwa atau berlagak kaya Telusuri Akar Masalah Sangat disayangkan menyaksikan pemberitaan seperti ini, ada banyak faktor yang bisa menjadi penyebab perilaku generasi yang semakin tak terkendali. Salah satunya adalah gaung kebebasan tingkah lau atau berekspresi yang diserukan oleh paham kapitali sekular.
Dimana kebebasan tingkah laku ini sangat diupayakan oleh Barat untuk dapat masuk dalam karakter generasi muda muslim melalui berbagai media sosial. Begitu bebasnya mengungkapkan ekspresi generasi muda, sampai-sampai tidak terkendali.
Karena, sejatinya, perilaku ini adalah perilaku rendah, yang muncul dari taraf berpikir yang rendah pula. Budaya ini menunjukkan ada yang salah dalam kehidupan ini. Dan ini tentulah hasil dari sistem kehidupan yang diyakini masyarakat dalam seluruh aspeknya.
Sistem hari ini gagal menunjukkan kemuliaan manusia melalui ketinggian taraf berpikirnya. Negara gagal melahirkan sosok individu berilmu tinggi.
Selain itu, kondisi saat ini pihak keluarga kurang menjalankan perannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi generasi. Begitu pula dengan masyarakat menjadi abai dengan kondisi dan masalah yang terjadi. Inilah akar persoalan yang selama ini membelit generasi muda muslim.
Adanya kebebasan perilaku akibat penerapan sistem demokrasi yang berasaskan sekuler. Kebebasan yang tanpa memandang agama tersebut menciptakan gaya hidup generasi muda yang bablas. Besarnya potensi generasi yang mampu mengguncang dunia kini telah ‘mati’ karena demokrasi yang menjauhkan generasi dari Syariat Allah. Butuh Penerapan Islam Kaffah Islam datang tak hanya untuk memperbaiki akhlak manusia.
Akan tetapi islam datang untuk membawa rahmat bagi semesta alam. Islam adalah sebuah sistem kehidupan. Sistem kehidupan yang memilik aturan lengkap dari mulai bangun tidur hingga bangun negara. Al quran yang diturunkan sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi oleh generasi muda Islam, justru jauh dan asing dari kehidupannya.
Al quran hanya diambil oleh sebagian kecil pada aspek membacanya saja sementara ketentuan dan hukum-hukumnya ditinggalkan. Untuk itu, dibutuhkan peran keluarga dalam membimbing generasi sebagai tempat pertama setiap manusia memahami visi hidupnya.
Karena saat ini keluarga muslim sudah mengalami disfungsi dan disorientasi, hingga berujung pada hancurnya institusi keluarga dan rusaknya generasi.
Tentu ini sebuah bahaya besar bagi kaum muslimin, karena bermula pada ketika hukum-hukum Islam dalam keluarga tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan keluarga muslim.
Nilai-nilai Islam di tengah keluarga pun sedikit demi sedikit menjadi luntur. Di sisi lain derasnya arus globalisasi turut menggerus nilai-nilai Islam dalam keluarga.
Adapun Negara adalah pihak yang berperan besar melindungi generasi, berwenang menerapkan berbagai kebijakan mulai dari politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya dan sebagainya. Namun, saat ini Negara kita tengah menerapkan sistem pendidikan sekular materialistik.
Agama ditempatkan sekedar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek. Walhasil, tidak heran jika mereka mudah melakukan hal-hal yang tak seharusnya.
Akibat dari sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler.
Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.
Ya, tentu saja kita harus mencari akar dan menuntaskan masalah ini dengan solusi yang solutif bukan solusi tambal sulam yang tak pernah ada ujung penyelesaiannya.
Untuk itu, menjadi kewajiban kita bersama untuk mengembalikan identitas hakiki sebagai generasi muda, terlebih lagi kita sebagai seorang muslim.
Agar kita menjadi generasi muda yang tidak mudah terombang-ambing dengan arus budaya barat dan pemikiran yang merusak jiwa raga.
Dengan demikian, sebagai generasi muslim harus jelas jati dirinya. Kita sebagai apa dan harus bersikap bagaimana. Sehingga tujuan hidup dan cita-cita itu menjadi terang dan gamblang.
Sebagai generasi muda muslim, tentu tidak akan lepas dari visi dasar kita sebagai hamba Allah SWT, yaitu beribadah kepada Allah serta tunduk dan taat kepada Allah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS. Ar-ra’du: 11).
Jadi, jika ingin menyelamatkan generasi muslim, maka butuh solusi fundamental untuk menuntaskan problematika hingga akarnya, yakni mengganti sistem sekuler - demokrasi yang menjauhkan manusia dari agama dengan sistem yang membuat manusia senantiasa tunduk pada agama. Sistem itu adalah sistem Islam, yang diterapkan melalui Khilafah ‘alaa minhaji an-Nubuwwah. Wallahu a’lam.