Minggu 12 MARET 2023
Oleh: Fitri Suryani, S.Pd
(Guru dan Penulis Asal Konawe)
Seorang perempuan di Leuwiliang, Kabupaten Bogor ditemukan tewas dengan kondisi leher menggantung di sebuah tali. Korban berinisial W (21 tahun) tersebut tewas saat membuat konten candaan gantung diri di hadapan teman-temannya via video call.
Kapolsek Leuwiliang Kompol Agus Supriyanto mengatakan bahwa saat itu sambil video call (telepon video) sama teman-temannya, korban mengatakan 'mau live, mau bikin konten', tahu-tahu kursinya yang dipakai buat pijakan di bawah itu terpeleset, jadi beneran gantung diri.
Teman-teman W yang sedang video call pun langsung mendatangi kediaman korban di Cibeber 1, Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Namun setiba di lokasi, korban yang tinggal seorang diri ini sudah tidak bernyawa (Cnnindonesia.com, 03/03/2023).
Tak jauh beda, seorang remaja tewas usai hadang truk di Bogor, Jawa Barat. Diketahui, remaja itu melakukan aksi menghadang truk untuk keperluan konten di media sosial.
Kecelakaan terjadi di sekitar exit Tol Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Sabtu (14/1/2023) sekitar pukul 16.00 WIB.
Seorang remaja berinisial M tewas akibat tertabrak truk. Saat kejadian, korban hendak memberhentikan truk yang sedang melintas. Truk saat itu hendak menuju arah Nambo (Detik.com, 17/01/2023).
Fakta tersebut jelas begitu memprihatinkan. Karena demi konten apapun rela dilakukan, walau nyawa jadi taruhan. Fenomena yang dilakukan oleh generasi masa kini seolah ingin selalu unjuk eksistensi diri.
Menunjukkan di media sosial apapun yang ia lakukan demi mendapatkan banyak komentar yang berupa pujian dan lainnya. Begitulah keadaan saat ini, eksistensi diri menjadi hal yang diutamakan.
Kemajuan media membuat hal tersebut menjadi lebih mudah. Jadilah unjuk eksistensi dengan berbagai konten, bahkan termasuk dengan cara yang membahayakan jiwa.
Hal tersebut tidak lain karena perilaku generasi saat ini begitu rendah dan hal itu muncul dari taraf berpikir yang rendah pula. Pun hal itu tidak datang tanpa sebab, karena pasti dipicu oleh berbagai aspek yang mengarahkan ke arah tersebut.
Adapun penyebab mengapa seseorang rela melalukan hal yang membahayakan diri sekadar untuk sebuah konten di media sosial, di antaranya adanya aktivitas mengikut tren kekinian.
Karena dengan adanya tren baru seseorang akan cenderung melakukan hal serupa, bahkan berusaha untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih dibandingkan tren yang ada. Selain itu, keinginan menjadi viral.
Fenomena menjadi viral saat ini dianggap mempunyai keuntungan. Seperti dengan menjadi terkenal orang bisa mendapatkan rupiah, disukai oleh banyak orang dan berbagai alasan lainnya.
Tentu fakta ini merupakan hasil dari sistem kehidupan yang diyakini masyarakat, misal terkait tujuan tertinggi/tolok ukur kebahagian, yakni dengan standar kepuasan materi atau jasadi semata.
Tak terbayang bagaimana keadaan suatu bangsa di kemudian hari, jika generasi muda saat ini memiliki kualitas diri yang minim. Padahal generasi muda merupakan salah satu komponen bangsa yang begitu penting.
Karena di pundak mereka kelak keadaan suatu bangsa akan menjadi penentu, apakah suatu bangsa akan lebih baik ataukah buruk.
Hal itu sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Musthafa Al-Ghayalini dalam Idzatu’n Nasyi’in mengatakan, “Sesungguhnya di tanganmulah (kaum muda) persoalan umat dan dalam kebangkitanmulah kehidupan (masa depan) suatu bangsa.”
Dari itu, sebagai penerus perjuangan suatu bangsa, generasi muda mestinya disiapkan sejak saat ini dengan hal-hal yang dapat mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik, baik dari sisi intelektual dan spritual.
Sehingga kedepannya mereka dapat menjadi generasi yang bermanfaat dan bertanggung jawab terhadap peradaban suatu bangsa.
Untuk itu, perlu adanya sinergi antara peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya, ditambah peran masyarakat yang senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar dan tak kalah penting peran negara dalam mengkondisikan generasi muda ke arah yang lebih baik, yang tak hanya cerdas secara intelektual, namun juga berbudi pekerti luhur.
Dengan demikian, seyogianya generasi saat ini tidak hanya mementingkan pupularitas semata, tanpa berpikir terlebih dahulu terkait keselamatan jiwa mereka.
Dari itu, penting mengarahkan generasi muda saat ini untuk lebih disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat, terlebih jika hal itu dapat membawa pada rida-Nya. Wallahu a’lam,