Jumat 10 MARET 2023
Oleh: Ayu Enggarina Permata, S.Pd
Pemerhati Ibu dan Generasi
Ketua Dewan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri, menjadi sorotan kembali setelah pidatonya memicu kontroversi di media sosial (medsos).
Pidato Megawati itu terucap saat ia menjadi pemateri dalam Seminar Nasional Pancasila dalam Tindakan: 'Gerakan Semesta Berencana Mencegah Stunting, Kekerasan Seksual pada Anak dan Perempuan, Kekerasan dalam Rumah Tangga, serta Mengantisipasi Bencana' di Jakarta Selatan pada Kamis (16/2/2023).
Acara tersebut dihadiri Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, beberapa menteri, dan Kepala BPIP Yudian Wahyudi.
Salah satu pidato Megawati yang kontroversial adalah ketika membahas masalah anak stunting. Dia mengaitkannya dengan aktivitas keagamaan kaum ibu yang waktunya tersita untuk pengajian sehingga lupa mengurus anak.
Alhasil, ia sampai berpesan agar kaum ibu bisa membagi waktu agar waktunya tidak habis untuk pengajian dengan melupakan asupan gizi anak. (REPUBLIKA.CO.ID, 19/2/2023)
Pernyataan Ketua Dewan BPIP ini pun ditanggapi oleh Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Demokrat, Andi Nurpati.
Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu mengatakan bahwa pengajian tidak dilakukan setiap hari. Andi Nurpati menuturkan, pengajian itu terkadang dilakukan seminggu sekali atau sebulan sekali.
Dia menambahkan, di dalam pengajian juga terkadang banyak membahas tentang kesehatan.
"Sangat tidak pantas menyoal ibu-ibu pengajian, kenapa enggak menyoal ibu-ibu yang dugem (dunia gemerlap, red) ke diskotik? Ibu-ibu yang bekerja full day?" kata Andi Nurpati. (SINDOnews, 19/2/2023).
Sebenarnya pernyataan ini mewakili kebanyakan masyarakat sekarang yang memang hidup dengan landasan pemikiran sekulerisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan.
Seolah hidup ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama kecuali sebatas spiritualitas ibadah, dan agama sama sekali tidak punya kewenangan mengurus kehidupan dunia. Padahal, seluruh kehidupan di dunia ini sejatinya akan dipertanggungjawabkan di hari akhir kelak, tentu dengan standar benar-salah, baik-buruk dikembalikan kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Menghadiri pengajian dianggap melalaikan anak adalah tuduhan tak berdasar sama sekali. Bahkan tidak ada satu jurnal pun yang dapat membuktikan keterkaitan antara rutinnya ibu yang hadir pengajian dengan tingkat stunting anak atau apapun terkait pelalaian terhadap hak anak.
Ini adalah bentuk gagal paham terhadap aktifitas tholabul 'ilmi terkhusus ilmu agama yang hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim termasuk didalamnya para muslimah yang sudah menjadi ibu.
Pengajian yang ada saat ini, dengan beragam konsentrasi pembahasan justru menjadi salah satu tempat alternatif untuk memahami berbagai hukum Allah secara kaffah yang dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan, mulai dari bangun tidur hingga membangun negara, masuk kamar mandi hingga masuk pemerintahan, apalagi dalam hal mendidik anak.
Semua tema tadi dikaji di dalam pengajian-pengajian yang ada selama ini, dalam rangka memenuhi seruan Allah menegakkan aturanNya, meraih keridhoanNya agar selamat dari siksa di Hari Akhir kelak.
Kajian dalam Perspektif Islam
Hukum menuntut ilmu di dalam islam dibagi menjadi dua, Fardhu 'Ain atas ilmu agama (wajib atas tiap muslim), dan Fardhu Kifayah atas ilmu pengetahuan (jika telah ada yang menguasai, maka gugurlah kewajiban ini).
Saat ini menuntut ilmu yang sifatnya wajib 'ain, justru tidak didapatkan di bangku sekolah yang memiliki kurikulum sekuler.
Bahkan, ilmu agama, seperti ilmu hadits, adab, tsaqofah bahkan sejarah islam, dianggap tidak sepenting ilmu pengetahuan yang lain seperti matematika, fisika, kimia.
Sehingga waktu 2 jam per minggu dianggap cukup untuk memenuhi ilmu agama. Lebih miris lagi, ada wacana untuk menghapus mata pelajaran agama dari kurikulum pendidikan.
Padahal agama yang selama ini mengajarkan adab dan budi pekerti yang luhur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam negara yang menerapkan sistem Islam, mengkaji Islam secara kaffah ialah bagian dari program pembinaan pembentukan kepribadian setiap individu.
Hal ini tercermin dalam aplikasinya yang mengintegrasikan ilmu agama dalam kurikulum pendidikan dan kebijakan negara lainnya.
Misalnya, untuk menjaga generasi dari stunting negara memiliki peran yang besar untuk mengedukasi warganya. Baik mengingatkan kepada warganya, terutama pada ranah pendidikan untuk senantiasa hidup sehat, makan makanan thoyyib dan halal. Hal ini karena ada petunjuk bahwa Allah lebih menyukai muslim yang kuat dibanding yang lemah.
Dan dalam aturannya kepada produsen makanan ada tuntutan untuk menghasilkan bahan makanan yang halal dan thoyyib serta memiliki nutrisi yang berkualitas sehingga tidak beredar makanan yang tidak layak makan. Karena tuntutan hidup sehat juga diajarkan di dalam islam.
Terintegrasi ilmu agama ini bertujuan untuk menghasilkan individu yang memiliki benteng iman dan taqwa yang tinggi, mulia dalam taraf berpikirnya, serta kuat kesadaran politiknya.
Dan ini juga menjadi bekal bagi para muslim dan juga muslimah, khususnya para ibu untuk mendidik anaknya menjadi muslim yang berkepribadian Islam calon pemimpin masa depan, bukan seperti yang dituduhkan. Wallahu'alam