Jumat 10 MARET 2023
Oleh: Murni Arpani
(Aktivis Literasi, Pengamat Sosial Politik, warga Penajam Paser Utara)
Seolah sudah tradisi, harga menjelang ramadhan dan hari besar agama selalu naik. Jelang ramadan yang tinggal menghitung hari, kondisi harga komoditas pangan yang fluktuatif menimbulkan keresahan sosial bagi warga, terutama masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah.
Pasalnya, hal ini terjadi setiap tahun pada semua komoditas pangan, seperti beras, daging ayam dan sapi, telur, sayur-mayur dan buah melambung tinggi. Minyak goreng yang sempat langka pun terdampak kenaikan harga lagi jelang ramadhan tahun ini.
Negara seharusnya melakukan upaya antisipasif agar tidak ada gejolak harga dan rakyat mudah mendapatkan kebutuhannya.
Secara umum kenaikan harga sembako di bulan ramadan biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor; Pertama, ketidakseimbangan jumlah supply & demand sembako, konsumsi/permintaan sembako di bulan Ramadan biasanya meningkat tidak diiringi dengan kenaikan pasokan sembako di pasaran.
Kedua, panjangnya rantai distribusi sembako sedangkan terjadi kenaikan permintaan yang meningkat di berbagai daerah, sehingga, mengakibatkan beban ongkos distribusi menjadi lebih besar terlebih di tempat yang jauh dari produsen.
Selain itu, tidak dipungkiri masih adanya pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin meraup keuntungan lebih, pihak yang nakal ini biasanya membeli barang/produk dari petani dengan jumlah besar, kemudian ditimbun dan dijual pada saat persediaan pasar menipis dengan harga yang tinggi.
Kondisi krisis ini, sebenarnya merupakan konsekuensi diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan di seluruh dunia termasuk pemerintah Indonesia.
Namun solusi yang diberikan pemerintah bukan menghentikan kebijakan-kebijakan ekonomi kapitalistik, malah semakin mengokohkan sistem ekonomi neoliberal. Selama itu terus berlangsung, tingkat inflasi diperkirakan akan berada pada 5,0 persen.
Sistem Ekonomi Islam dan tata kelola sesuai syariah menghentikan kenaikan harga jelang hari raya Fenomena yang terus terjadi ini sejatinya menunjukkan kegagalan negara dalam menjaga stabilitas harga dan menyediakan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan rakyat.
Islam memiliki mekanisme yang ampuh yang mampu menjaga gejolak harga sehingga harga tetap stabil dan rakyat mampu mendapatkannya.
Selain itu Islam juga melarang berbagai praktek curang dan tamak seperti menimbun atau memonopoli komoditas sehingga mendapatkan keuntungan yang besar. Tanggung jawab negara sebagai pengatur urusan rakyat akan membuat rakyat hidup sejahtera dan tenang serta nyaman.
Menjelang ramadan, pasar memang membutuhkan tambahan supply (akibat naiknya jumlah permintaan sebesar 20%), tetapi yang menyebabkan inflasi adalah nilai tukar mata uang karena masih ada produk impor.
Termasuk adanya permainan harga karena gagalnya negara mengatasi penimbunan dan monopoli dan kampanye gaya hidup konsumtif.
Rusaknya tatanan ekonomi negara ini membutuhkan solusi yang fundamental. Islam yang merupakan agama sekaligus ideologi telah memberikan solusi yang sangat terang atas segala persoalan manusia termasuk dalam masalah standar mata uang.
Islam telah menetapkan bahwa mata uang yang wajib digunakan oleh negara adalah mata uang emas dan perak. Emas dan perak memiliki keunikan dan nilai yang tinggi. Mata uang emas juga tidak dapat dimanipulasi dan dicetak seenaknya oleh pemerintah sebagaimana halnya mata uang kertas.
Dengan demikian standar mata uang emas akan menghapus masalah inflasi yang selama ini ditimbulkan oleh mata uang kertas. Standar emas juga akan mengurangi masalah perdangan internasional akibat ketidakstabilan kurs mata uang.
Walhasil, mata uang emas akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih pesat dan stabil, baik di hari-hari biasa maupun menjelang ramadan dan hari raya.