Kamis 9 MARET 2023
Oleh : Ummu Syafiq
Seorang perempuan di Leuwiliang, Kabupaten Bogor ditemukan tewas dengan kondisi leher menggantung di sebuah tali. Korban berinisial W (21 tahun) tersebut tewas saat membuat konten candaan gantung diri di hadapan teman-temannya via video call.
"Dari kata keterangan dari saksi, dia (korban W) itu lagi bikin konten gantung diri, gitu," kata Kapolsek Leuwiliang Kompol Agus Supriyanto, Jumat (3/3) dikutip dari Detik.
Agus mengatakan peristiwa tersebut terjadi ketika W sedang melakukan panggilan video dengan teman-temannya. Kepada teman-temannya, W sempat menyebut hendak membuat konten gantung diri, dengan kain melilit di leher.
"Saat itu sambil video call (telepon video) sama temen-temennya, korban mengatakan 'mau live nih, gue mau bikin konten ah', tahu-tahu kursinya yang dipakai buat pijakan di bawah itu terpeleset, jadi beneran gantung diri," terang Agus.
Teman-teman W yang sedang video call pun langsung mendatangi kediaman korban di Cibeber 1, Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Namun setiba di lokasi, korban yang tinggal seorang diri ini sudah tidak bernyawa. Jakarta, CNN Indonesia. Demi mengejar eksistensi, adegan berbahaya dilakoni. Berharap kontennya viral, nyawa pun dipertaruhkan.
Kejar tarif dengan membuat konten, taraf berpikir pun tergadai. Ada apa dengan generasi kita? Dalam sistem kehidupan yang serba kapitalistik, masyarakat terkadang tidak bisa berpikir jernih, terutama generasi muda.
Membuat konten pun tidak lagi mengindahkan etika dan norma. Apalagi jika kita kaitkan dengan standar halal-haram dalam Islam, sangat jauh sekali.
Hal yang semestinya tidak diceritakan malah diumbar ke mana-mana, seperti aktivitas seksual dan sebagainya.
Merendahkan Taraf Berpikir
Tidak ada akibat tanpa sebab mengapa banyak konten “sampah” dan nirfaedah yang diproduksi di media sosial? Bahkan, hal itu dikomersialisasi agar mendatangkan materi. Kehidupan sekuler kapitalisme mengajarkan agar manusia hidup sesuai kehendaknya.
Akidah sekularisme telah menggeser taraf berpikir manusia. Dari keterikatan terhadap aturan ilahiah menjadi ketundukan terhadap hawa nafsu yang diperturutkan atas nama kebebasan.
Ideologi kapitalisme telah mengalihkan tujuan hidup manusia yang semula untuk beribadah dan taat kepada aturan Allah Swt., menjadi serba materialistik.
Tujuan hidup mencari kebahagiaan materi sebanyak-banyaknya tanpa peduli standar agama sebagai pedoman hidup yang sesungguhnya.
Saat ini, pemikiran sekuler kapitalisme banyak menjangkiti generasi muda. Lahirlah budaya liberal dan gaya hidup hedonis yang hanya tahu hidup untuk bersenang-senang dan bahagia menurut definisi manusia.
Pemikirannya harus bersih dan suci dari kerusakan sistem sekuler kapitalisme. Produktivitas mereka harus berisi kebaikan dan kebermanfaatan bagi umat manusia.
Jiwa-jiwa muda mereka mestinya diberdayakan untuk membangun peradaban mulia, bukan teperdaya dengan segala hal yang melalaikan dari tujuan penciptaan manusia.
Oleh karenanya, negara harusnya tidak mengabaikan keberadaan mereka sebagai pilar kebangkitan dan pembangun peradaban cemerlang.
Peran Negara
Sayangnya, negara tidak hadir dalam melakukan peran strategisnya. Negara justru menjadi pengukuh ideologi sekuler kapitalisme yang terus-menerus membajak potensi pemuda dengan pemberdayaan ekonomi yang semu.
Negara membiarkan gaya hidup sekuler liberal membudaya dan merusak kehidupan generasi. Lantas, bagaimana pandangan Islam tentang peran strategis negara?
Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam sangat memahami bahwa generasi muda adalah aset peradaban yang wajib dibina dan dijaga. Oleh karenanya, Islam memberi perhatian khusus terhadap generasi muda, yaitu mendidik dan membina mereka menjadi generasi bertakwa, cerdas, mulia, dan berkepribadian Islam.
Begini Cara Islam Membina Generasi :
Pertama, menerapkan sistem pendidikan Islam yang akan menghasilkan anak didik berkperibadian Islam. Ditunjang pendidikan keluarga yang menanamkan akidah Islam kepada anak-anak mereka sejak usia dini.
Dengan begitu, visi misi hidup yang tercipta dalam diri mereka sesuai fitrah penciptaannya, yaitu beribadah serta taat pada aturan Allah Taala. Kita tentu ingat sosok Mush’ab bin Umair setelah tersentuh Islam.
Ia mendedikasikan hidupnya hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Ia rela kehilangan segala kemewahan demi berislam secara kafah dan menjadi duta Islam pertama dalam sejarah umat Islam. Inilah sosok pemuda panutan yang akidahnya kuat, tutur katanya bernas, dan perannya sangat besar dalam memotori perubahan masyarakat.
Kedua, menyediakan fasilitas penunjang belajar yang mumpuni agar generasi mampu mengembangkan diri di berbagai disiplin ilmu. Islam melahirkan banyak tokoh berilmu yang tidak hanya cerdas dalam ilmu dunia, tetapi juga ilmu akhirat.
Ada ilmuwan hafal Al-Qur’an, ada ulama sekaligus seorang ilmuwan. Artinya, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan dunia.
Ketiga, menyaring berbagai konten dan tayangan yang merusak pemikiran Islam. Dengan perkembangan teknologi yang canggih, kecerdasan dan keilmuan pemuda bisa digunakan untuk membuat konten dan tayangan yang edukatif, mengajak amar makruf nahi mungkar, bahkan membuat aplikasi yang memudahkan masyarakat mengenal dan memahami Islam lebih luas hingga mendunia.
Keempat, memberdayakan potensi pemuda yang energik dan fisik yang kuat dengan membentuk mereka menjadi mujahid yang siap bertempur di medan peperangan, yaitu berjihad di jalan Allah Taala.
Semua tahapan ini hanya bisa berjalan tatkala negara menerapkan Islam secara fundamental dan menyeluruh. Satu-satunya bentuk negara yang bisa merealisasikannya adalah sistem Khilafah. Wallahua'lam bishawab