Program “Jagai Anakta” Apakah Solusi Tuntas?

Rabu, 15 PEBRUARI 2023

Oleh : Riska Nilmalasari

(Aktivis Muslimah)

Munculnya kembali program “Jagai Anakta” tahun 2023 Karena kasus penculikan dan sekaligus pembunuhan yang menewaskan seorang anak dimana pelakunya juga anak-anak Wali Kota Makassar Danny Pomanto turut prihatin terkait peristiwa penculikan sekaligus pembunuhan anak di Kota Makassar.

Atas insiden tersebut, ia menginstruksi semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para Kepala Sekolah (Kepsek) hingga lingkungan keluarga untuk memperketat pengawasan terhadap anak.

Danny meminta agar seluruh elemen terkait ikut membantu pihak kepolisian dalam menuntaskan peristiwa ini. (makassar.tribunnews.com,10/10/2023)

Padahal sejak 2017 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindung-an Anak (PP-PA) meluncurkan program tersebut.

Jagai Anakta merupakan program komprehensif dalam penanganan anak-anak bermasalah, termasuk anak-anak terlantar, dari pencegahan hingga rehabilitasi melalui pendampingan.

"Kami akan kampanyekan program Jagai Anakta secara masif sebab ini menyangkut masa depan bangsa dan kita semua," ujar Wali Kota Makassar Danny Pomanto dalam pelucuran program tersebut. (mediaindonesia.com, 25/04/2017)

Kasus ini tentu menjadi bahan pengingat bahwa program yang di gagas tersebut dari tahun 2017-hingga saat ini bukanlah sesuatu yang bisa memberikan solusi bagi permasalahan.

Menyoroti kasus yang terjadi dengan motif pelaku yang juga anak dibawah umur yaitu ingin mendapatkan uang semakin menyadarkan bahwa sistem kapitalisme hari ini sangat miris terkhusus dunia anak-anak.

Masalah yang melingkupi kehidupan anak-anak seakan tak ada ujungnya. Mulai dari masalah kesehatan, pendidikan hingga pergaulan.

Angka statistik anak yang menderita gizi buruk, korban pelecehan seksual, narkoba, putus seolah dan hamil di luar nikah tak jua melandai.

Bahkan cenderung meningkat khususnya di masa pandemi. Padahal berbagai macam program telah digelontorkan oleh pemerintah untuk mengatasi berbagai masalah anak tersebut.

Masalah anak tak jauh berbeda dengan masalah yang menimpa masyarakat secara umum.

Tidak bisa jika diselesaikan secara parsial. karena masalah ini adalah masalah sistemik yang harus diselesaikan hingga ke akarnya. Salah satu hal yang mendasari munculnya berbagai masalah di atas adalah masalah ekonomi.

Tingginya biaya hidup menyebabkan banyak orang tua baik ayah maupun ibu yang harus terjun langsung mencari nafkah. Bahkan mengajak anak-anaknya untuk ikut serta hingga banyak diantaranya yang memilih untuk putus sekolah.

Belum lagi para sebagian orang tua yang masih lupa menyadari peranannya dalam keluarga dalam pengawasan anak yang disibukkan dengan pencarian materi.

Sehingga kebanyakan sibuk dan tidak memperhatikan tumbuh dan berkembang seorang anak yang tentu hal ini dipengaruhi dengan orientasi sistem kapitalisme.

Teknologi canggi dijadikan satu-satunya sumber informasi dan ladang pergaulan yang tidak mampu memfilter apa saja yang dikonsumsi para anak.

Masyarakat sebagai kontrol sosial pun tak lagi memperlihatkan kepekaannya dalam memberikan perlindungan kepada anak. Individualisme telah mengakar kuat mencabut rasa peduli kepada sesama.

Bahkan tatanan masyarakat yang buruk turut mengambil andil dalam kerusakan generasi saat ini.

Dalam dunia Pendidikan pun Kurikulum yang diusung pun lebih mengedepankan nilai materi semata tanpa adanya unsur pendidikan agama yang mumpuni, walaupun hal ini selalu ditekankan tapi tidak berefek sama sekali.

Pengawasan terhadap akses informasi juga sangat lemah sehingga anak-anak dengan mudah mendapatkan konten-konten yang merusak seperti dark web yang menawarkan penghasilan, pornografi dan pornoaksi.

Walaupun sempat dilansir pemblokiran berbagai web yang diduga berbahaya tetap saja masih banyak situs-situs berbahaya yang belum ditangani.

Dari segi Sistem sanksi terhadap pelaku kejahatan terhadap anak pun tak mampu membuat jera para pelaku. Sehingga anak kehilangan pelindung atau benteng yang akan menjaga mereka dari berbagai macam kerusakan dan tindak kriminalitas.

Maka seharusnya untuk mensukseskan program “Jagai Anakta," tak cukup hanya dengan mengkampanyekan kepada khalayak dengan harapan akan semakin banyak pihak yang sadar akan pentingnya program ini. Tapi untuk menjaga kehidupan seorang anak, butuh tiga pilar yang berfungsi sebagai support system yaitu keluarga, masyarakat dan negara. Maka pandangan ini harus diubah yaitu dengan Islam.Islam adalah agama, rahmat bagi seluruh alam. Sesuai dengan firman Allah Swt., “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al- Anbiya’[21]: 107).

Islam mengatur peran masing-masing pihak. Keluarga sebagai sekolah utama harus menjalankan perannya dengan baik. Orangtua harus mengembalikan fungsi utamanya sebagai pendidik, khususnya kaum ibu.

Bukan malah disibukkan dengan aktifitas mencari nafkah yang bukan menjadi kewajiban atasnya atau sekadar memenuhi kebutuhan gaya hidupnya. Masyarakat pun demikian. Kontrol sosial harus kembali berjalan.

Menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi tumbuh kembang anak. Serta bekerjasama dalam mengontrol pergaulan anak-anak di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Ditunjang pula oleh negara sebagai perisai utama yang harus menciptakan rasa aman dan memberikan ketentraman bagi setiap warganya termasuk anak-anak.

Membangun sistem pendidikan dengan kurikulum terbaik. Sehingga anak-anak tidak hanya hebat dalam sains dan teknologi tapi juga handal dalam agamanya.

Serta membangun sistem sanksi yang kuat sehingga tidak ada celah bagi pelaku kejahatan untuk menjadikan anak sebagai mangsa utama.

Juga negara harus bisa menjamin tersedianya kebutuhan mendasar bagi setiap individu rakyatnya baik kebutuhan pokok, kesehatan maupun pendidikan.

Serta memudahkan akses agar setiap kepala rumah tangga mampu mendapatkan pekerjaan sehingga para ibu kembali ke rumahnya dan menjadi pendidik terbaik bagi anak-anaknya.

Menyadari sistem negara ini sekularisme-kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan materi sebagai tujuan utamanya, niscaya “Jagai Anakta” hanya akan menjadi slogan semata.

Sebab dalam sistem ini peran tiga pilar yang menjaga anak-anak tidak mampu untuk menjalankan fungsinya dengan baik sebagaimana seharusnya.

Islam mengajarkan bahwa menjaga anak harus dengan tuntunan syariah. Tak cukup hanya menjadi tanggung jawab orangtua dan sekolah semata. Tapi dengan menjadikan tiga pilar di atas sebagai benteng paling kokoh yang saling bersinergi satu dengan lainnya.

”Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sumgguh-sungguh melampui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”(QS Al-Maidah[5]: 32).

Maka, ‘Jagai Anakta’ dengan apa? Yaitu Islam dan sudah saatnya kita mengambilnya.Wallahu’alam bishowab.