Nasib Parapengusi Rohingya Terlunta - lunta Akibat Kebijakan yang Pragmatis

Kamis, 12 JANUARI 2023

Oleh: Daniati Aqniya

AKURAT.CO Kemungkinan tenggelamnya sebuah kapal dalam beberapa pekan terakhir, dengan 180 Muslim Rohingya berada di dalamnya, bisa membuat tahun 2022 menjadi salah satu tahun paling mematikan di laut dalam hampir satu dekade bagi etnis tersebut.

 

PBB mengungkap skenario terburuk itu, di saat para pengungsi Rohingya sedang berupaya melarikan diri dari kondisi putus asa di kamp-kamp Bangladesh.

Dalam pembaharuannya, UNHCR mengatakan telah menerima laporan yang belum dikonfirmasi, tentang insiden terpisahnya sebuah kapal dengan 180 orang pengungsi Rohingya.

Para kerabat telah kehilangan kontak dengan para korban. Mereka yang terakhir berhubungan juga menganggap semua penumpang telah mati, kata UNCR dalam Twitternya.

Ratusan pengungsi Rohingya terdampar di Aceh sungguh sangat menghawatirkan pemerintah Indonesia berencana siapkan lokasi khusus untuk para pengungsi, perwakilan UNHCR di Indonesia menekankan bahwa pengungsi juga memiliki hak asasi manusia dan selayaknya bisa saling menolong.

Tetapi untuk saat ini karena adanya sekat nasionalisme jadi tersekat - sekat dengan anggapan bahwa itu bukanlah bangsa negara kita, Indonesia sesungguhnya tidak memiliki kewajiban untuk menerima pengungsi yang masuk karena sampai saat ini belum meratifikasi Comventen Realiting to the Status of Refugees ( kamversi 1951 ) dan Protokol Rellating to the Status of Refugees ( protokol 1967).

Sehingga Indonesia tidak memiliki kewajiban untuk menerima pengungsi yang masuk, tetapi alasan kemanusiaan Indonesia menerima menampung pengungsi luar negri yang masuk ke wilayahnya.

Anehnya PBB tidak mendorong negara lain untuk membatu pengusi Rohingya para pengungsi Rohingya terkatung - katung di lautan mereka di usir dari negaranya akibat penindasan dan penolakan kewargaan.

Mereka pergi dari negaranya mengarungi Lautan untuk mencari suaka akan tetapi banyak negara yang tidak mau menerima pengungsi Rohingya.

PBB tidak memaksa dan menekan negara myanmar untuk bisa menyelesaikan persoalan konflik dalam negeri yang membuat warga muslim Rohingya diusir dari negerinya sendiri.

Inilah yang terjadi PBB lembaga dunia ini justru mereka memberikan solusi pragmatis dengan menampung pengungsi Rohingya.

Sebenarnya sikap demikian tidak menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Rohingya, justru Mereka terlunta - lunta dan terkatung - katung tidak ada kejelasan persoalan pengungsi Rohingya tidak akan selesai sampai kapanpun kalau negeri - negeri muslimin masih menggunakan sisten buat manusia.

Pengungsi Rohingya butuh sebuah sistem yang melindungi dan perisai hakiki yaitu junnah yang mampu menjaga dari perlakuan diskriminasi, penindasan, dan penganiayaan.

Mereka butuh sistem Islam yang akan membela kaum muslimin yang diusir dari tanah airnya, bagaimana dalam sistem Islam akan membela membebaskan negeri - negeri Islam dari Penjajahan dan kezaliman para penjajah.

Sebagaimana sabda nabi Muhamad SAW, "Sesungguhnya Al - Imam itu laksana perisai yang orang - orang akan berperang di belakangnya mendukung dan berlindung dari musuh dengan kekuasaannya, Jika seorang imam memerintahkan supaya takwa kepada Allah' azza wajalla dan belaku adil, maka dia mendapatkan pahala karenanya, dan jika memerintahkan selain itu maka ia akan mendapatkan siksa" ( HR Bukhari, Muslim, An - Nasa'i, Abu Dauwd, Ahmad ). Wallahu a'lam bishawab