Sabtu, 7 JANUARI 2023
Oleh: Novita Mayasari, S.Si
Jargon "Beli Sekarang Bayar Nanti" atau sering di kenal Buy Now Pay Later (BNPL) seolah menjadi mantra. Khususnya dikalangan generasi milenials hari ini. Dengan adanya metode bayar gaya baru ini semakin memudahkan generasi milenial dan generasi Z dalam memenuhi keinginan-keinginannya demi meraih gaya hidup ala Barat.
Ya, walaupun tinggal di negeri mayoritas muslim, tetapi untuk kiblatnya malah condong ke Barat. Ditambah dengan mudahnya persyaratan, mengakibatkan Buy Now Pay Later semakin digandrungi dan tentu saja permintaannya semakin melonjak tinggi. Sebagaimana dilansir dari Tintahijau.com (Minggu, 11/12/2022).
Tidak seperti instrumen peminjaman lain, BNPL hanya membutuhkan identitas dan persetujuan ketentuan dari calon pengguna. Hal tersebut menyebabkan masyarakat yang baru saja mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (berusia 17 Tahun) sudah dapat mengajukan pinjaman.
Maka dari itu pengguna BNPL mayoritas berusia 17 – 35 tahun dari generasi milenial dan gen Z, sedangkan usia di atas 35 tahun perlahan juga meningkat.
Luar biasa. betapa mudahnya melakukan BNPL hanya bermodalkan KTP saja langsung mendapatkan persetujuan dari pihak merchant itu sendiri. Tidak sampai disitu, negara pun ikut berperan menyukseskan dengan memfasilitasi BNPL dengan dalih telah terdaftar di OJK, tanpa syarat harus adanya penghasilan dan iming-iming bunga rendah.
Seolah pinjaman berbunga itu hal yang biasa saja. Walhasil pengguna BNPL di dominasi generasi milenial dan gen Z.
Namun di balik kemudahan tersebut, ternyata BNPL berujung malapetaka. Utang yang mencekik tak ubahnya bagaikan rentenir gaya baru. Sebagaimana menurut Nailul Huda, seorang peneliti Institute for Development of Economic Studies (Indef), mengatakan bahwa pemahaman rendah soal risiko paylater, ditambah mitigasi risiko gagal bayar yang lemah telah memicu fitur Buy Now Pay Later (BNPL) berujung menjadi jerat utang yang melilit.(Bbc.com, Senin 12/12/2022).
BNPL Jebakan Utang Gaya Baru
Sungguh menyedihkan, sistem sekularisme dan kapitalisme telah sukses membajak potensi pemuda muslim hari ini. Mereka berhasil membuat pemuda muslim menjadi pemuda yang konsumerisme dan hedonisme. Tidak peduli dengan cara apapun demi memuaskan hasrat untuk segera memiliki barang-barang impian ala Barat.
Tentu kemudahan yang didapat untuk segera memiliki barang-barang branded tidak disia-siakan mulai dari gadget, tas, sepatu, fashion dan lain sebagainya tak luput dari incaran kawula muda hari ini demi menunjang penampilan. Bukan hanya itu hal-hal konyol dan minim manfaat pun dilakoni hanya demi konten agar viral.
Mereka tidak menyadari bahwa, di balik kemudahan tersebut sejatinya bahaya besar telah menghadang di depan mata mereka. Ada resiko gagal bayar yang lama-kelamaan utangnya di BNPL semakin hari semakin membengkak.
Jeratan utang yang mencekik dan melilit itu akan terus tumbuh dengan subur dan jika tidak sanggup membayar, ujung-ujungnya mengakibatkan stress dan mudah terkena mental illness.
Tentu saja jauh dari kata berbakti kepada orang tua, bahkan hal ini akan membuat para orang tua yang tidak tahu apa-apa pun terkena imbasnya untuk membayar utang-utang sang anak yang terlanjur menggunung itu.
Tentu hal yang demikian tidak akan terjadi di dalam Islam. Pemuda akan dijaga dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena pemuda adalah aset berharga dalam membangun peradaban.
Islam Melindungi Generasi
Di dalam Islam sistem pendidikan tentu saja berbasis aqidah islam, dimana pemuda muslim akan dibentuk kepribadiannya menjadi kepribadian Islam (Syaksiyah Islamiyah).
Pola pikir dan pola sikap pemuda pun akan selalu dihiasi dengan Islam. Setiap tindak tanduk atau aktivitas senantiasa melibatkan hukum syara'. Bukan hanya itu para pemuda pun akan dididik dengan tsaqofah Islam (ilmu-ilmu keislaman) serta dilengkapi dengan ilmu kehidupan, seperti teknologi dan sains.
Sehingga visi pendidikan Islam yaitu mencetak generasi tangguh bermental baja, menjadi pemimpin yang penuh tanggung jawab pun akan tercapai. Isnya Allah. Dalam bidang ekonomi, islam akan menerapkan praktek yang jauh dari kata riba dan judi.
Tidak seperti yang terjadi pada sistem kapitalis, dimana para pemuda dijerat untuk memilih riba sebagai gaya hidup masa kini. Islam akan menjamin pemenuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan.
Baik secara langsung terutama bagi kalangan yang kurang mampu karena catat, fakir miskin, sakit dan lain sebagainya, maupun secara tidak langsung. seperti menyiapkan lapangan pekerjaan seluas-luasnya.
Dengan begini insya Allah para pemuda dan pemudi Islam akan tumbuh menjadi insan-insan mulia, penuh dedikasi kepada Islam, bertanggung jawab, menjadi ibu pencetak generasi emas dan selalu berpikir positif atas aktivitas yang dilakukan berdasarkan standar halal dan haram.
Para pemuda tidak akan mudah tergiur dengan imin-iming semu, tidak tergiur untuk membeli sesuatu yang belum menjadi kebutuhannya, karena mereka paham, apapun yang dilakukannya niscaya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.
Sebagaimana firman Allah SWT :
وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Artinya: "Dan (Hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian".(Q.S Al-Furqon: 67).
Maka, sudah saatnya para pemuda khususnya generasi milineal maupun gen Z untuk segera mencampakkan sekularisme dan kapitalisme yang sejatinya hanyalah sistem rusak dan merusak.
Sudah saatnya pemuda bangkit, pergunakan potensi dan masa muda untuk menjadi tonggak perubahan pembela agama Allah. Agar Islam Kaffah segera terwujud di bumi Allah SWT. Wallahu'alam bishowwab