Senin, 14 NOPEMBER 2022
Oleh: Ita Wahyuni, S. Pd. I.
(Pemerhati Masalah Sosial)
Kawasan titik nol Ibu Kota Negara (IKN) menjadi magnet baru bagi masyarakat yang ingin berkunjung. Tak heran pariwisata pun telah ditetapkan sebagai salah satu sektor prioritas yang perlu ditingkatkan.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ahmad Herwansyah mengatakan, saat ini kurva kunjungan wisatawan terus meningkat.
Dari wisatawan Nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Pada 2021, kunjungan wisatawan Kaltim mencapai 4 juta. Tahun ini, hingga Oktober kunjungan sudah berada di atas 4 juta kunjungan (Kaltim.prokal.co, 04/11/2022).
Menurutnya, saat ini kunjungan sudah jauh lebih baik, apalagi seiring ditetapkannya Kaltim menjadi ibu kota negara (IKN). Maka, kunjungan wisatawan di objek wisata naik 300 persen karena adanya IKN.
Khusus di objek wisata Titik Nol IKN Nusantara di Sepaku, Penajam Paser Utara, tercatat ada 21 ribu orang yang berwisata. Untuk itu, kedepannya Kaltim akan fokus pada ekowisata.
Benua Etam memang memfokuskan diri menjadi ekowisata, karena potensinya yang cukup besar. Ekowisata mampu menaungi berbagai sektor wisata, seperti wisata bahari, alam, karst, seni, dan budaya, serta buatan.
Branding itupun sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim 2018-2023.
Di dalam RPJMD menyebut, bahwa arah kebijakan destinasi wisata Kaltim adalah pariwisata berbasis masyarakat, berbasis kerakyatan, dan potensi daerah. Pembangunan IKN Nusantara menjadi angin segar bagi pertumbuhan industri pariwisata.
Pasalnya, dengan tingginya jumlah wisatawan nusantara maupun mancanegara yang berkunjung diyakini potensial dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, kita juga patut waspada.
Pemanfaatan potensi keindahan alam, baik yang alami maupun buatan, serta keragaman budaya yang ada juga akan memberikan dampak negatif yaitu akan membuka peluang terjadinya liberalisasi sosial budaya.
Liberalisasi sosial budaya merupakan ruh kapitalisme yang menjajah bidang pariwisata. Agenda ini telah membentuk prilaku liberal yang membuat manusianya bebas melakukan apapun yang diinginkan tanpa terikat dengan keyakinan.
Tak dimungkiri, banyaknya wisatawan lokal ataupun mancanegara yang datang ke satu daerah pasti akan membawa kebiasaan atau budaya dari daerah mereka.
Melalui interaksi penduduk lokal dengan wisatawan tersebut tanpa sadar terjadi peniruan budaya, perubahan gaya hidup, bahasa, cara berpakaian, hingga sikap toleransi masyarakat terhadap wisatawan. Karenanya, tak heran jika dalam industri pariwisata kini terjadi peniruan budaya dan kental dengan kemaksiatan, seperti: miras, seks bebas, khalwat (campur baur antara laki-laki dan perempuan) dan umbar aurat.
Sungguh hal demikian semakin menyuburkan liberalisasi yang sengaja disuntikan pada negeri-negeri muslim dan ini sangat membahayakan akidah umat.
Dari sini kita bisa melihat bahwa pariwisata dieksploitasi oleh sistem kapitalisme hanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Semata-mata untuk mendapatkan keuntungan materi walaupun harus melanggar rambu-rambu agama. Sesungguhnya Islam memiliki paradigma yang berbeda tentang pariwisata.
Obyek yang dijadikan tempat wisata bisa berupa potensi keindahan alam, yang nota bene bersifat natural dan anugerah dari Allah SWT, seperti keindahan pantai, alam pegunungan, air terjun dan sebagainya.
Bisa juga berupa peninggalan bersejarah dari peradaban Islam. Obyek wisata seperti ini bisa dipertahankan, dan dijadikan sebagai sarana dakwah dan propaganda (di’ayah).
Menjadi sarana dakwah, karena manusia, baik Muslim maupun non-Muslim, biasanya akan tunduk dan takjub ketika menyaksikan keindahan alam.
Pada titik itulah, potensi yang diberikan oleh Allah ini bisa digunakan untuk menumbuhkan keimanan pada Dzat yang menciptakannya, bagi yang belum beriman sebelumnya. Sedangkan bagi yang sudah beriman, ini bisa digunakan untuk mengokohkan keimanannya.
Menjadi sarana propaganda (di’ayah), karena dengan menyaksikan langsung peninggalan bersejarah dari peradaban Islam, siapapun yang sebelumnya tidak yakin akan keagungan dan kemuliaan Islam, umat serta peradabannya akhirnya bisa diyakinkan, dan menjadi yakin.
Demikian juga bagi umat Islam yang sebelumnya telah mempunyai keyakinan, namun belum menyaksikan langsung bukti-bukti keagungan dan kemuliaan tersebut, maka dengan menyaksikannya langsung, mereka semakin yakin.
Demikianlah pengelolaan Islam dalam sektor pariwisata. Tentu pengaturannya bukan demi kepentingan ekonomi dan bisnis. Melainkan sebagai sarana untuk menegakkan kemakrufan, mencegah kemungkaran dan kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat. Wallahu ‘alam bi ash showab.