Kamis, 10 NOPEMBER 2022
Oleh: Yuliana, S.Sos
Pariwisata telah ditetapkan sebagai salah satu sektor prioritas yang perlu ditingkatkan. Sayangnya, akibat pandemi sektor itu sempat lumpuh. Seiring terus bangkitnya sektor pariwisata, tahun depan diprediksikan kunjungan wisatawan akan lebih dari 4 juta orang ke Kaltim.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ahmad Herwansyah mengatakan, saat ini kurva kunjungan wisatawan terus meningkat. Apalagi seiring ditetapkannya Kaltim menjadi ibu kota negara (IKN).
Jika melihat data Dinas Pariwisata Kaltim tahun 2018. Maka, kunjungan wisatawan di objek wisata naik 300 persen karena adanya IKN. Khusus di objek wisata Titik Nol IKN Nusantara di Sepaku, Penajam Paser Utara, tercatat ada 21 ribu orang yang berwisata.
Kaltim akan fokus pada ekowisata yang akan mampu menaungi berbagai sektor wisata. Destinasi wisata Kaltim adalah pariwisata berbasis masyarakat, kerakyatan dan potensi daerah.
Tidak dapat dipungkiri apabila pariwisata telah menyumbang devisa bagi Negara ini. Dengan adanya perwakilan pemasaran pariwisata Indonesia di beberapa negara di luar negeri, pemasaran pariwisata Indonesia boleh dibilang cukup terbantu, dimana terlihat adanya peningkatan kedatangan turis mancanegara ke Indonesia.
Hanya saja dalam pengembangan sektor ini pemerintah selalu melibatkan swasta baik dari pribumi ataupun asing untuk bersama-sama mengelolanya.
Dan seperti pada sektor lainnya, jika swasta sudah masuk dan ikut bersama mengelola maka bisa dipastikan akan mencari keuntungan semata.
Di sisi lain pariwisata juga memberikan dampak buruk terhadap negara itu sendiri, terlebih kepada masyarakatnya, adanya pertukaran budaya bagi masyarakat yang hidup di sekitar obyek wisata terjadi cepat ataupun lambat.
Apalagi dalam sistem kapitalisme, pengawasan negara kepada sektor pariwisata lebih kepada bagaimana mampu menghasilkan pemasukan yang besar serta menghidupkan sektor industri di sekitar obyek wisata.
Tanpa di sadari budaya asing akan mudah terserap, termasuk gaya hidup liberalisme, percampuran agama serta budaya permisif.
Kemaksiatan pun merajalela dan terkadang karena demi mencukupi dan memenuhi kebiasaan turis manca negara, miras pun bisa jadi legal, gaya hidup bebas pun menjadi pemandangan biasa saja.
Inilah sistem kapitalisme dalam memandang pariwisata hanya sarana untuk mencari materi lepas dari aturan agama. Dan hal ini sangat jauh berbeda dengan Islam.
Dalam sistem pemerintahan islam, yang berlandaskan kepada Al-qur’an dan As sunah, dakwah menyebarkan Islam adalah tujuannya, maka dalam hal ini Khilafah tidak akan membiarkan terbukanya pintu kemaksiatan di dalam negara, termasuk dari sektor pariwisata ini.
Obyek wisatanya pun semua menjadi sarana untuk menanamkan pemahaman islam bagi setiap pengunjung. Islam juga memandang berwisata merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membangun keakraban keluarga dengan tetap berlandaskan hukum syara.
Dalam sistem Islam, sektor pariwisata ini meskipun bisa menjadi sumber devisa tetapi tidak akan dijadikan sebagai sumber perekonomian Negara Khilafah. Hal ini karena Negara Khilafah mempunyai sumber perekonomian yang bersifat tetap, yaitu pertanian,perdagangan, industri dan jasa.
Di samping itu Negara Khilafah mempunyai sumber pemasukan yang lain, yaitu dari fa’i,kharaj, jizyah, ghanimah, zakat, khumus, rikaz dan dharibah. Dan harus dipahami bahwa sektor pariwisata ini sebagai sarana dakwah dan tidak akan di eksploitasi untuk kepentingan ekonomi dan bisnis.
Dengan demikian jelas bahwa Negara Khilafah berperan penuh dalam semua sektor agar tetap terjaga kemurnian aqidah Islam, menahan serangan yang dapat merusak aqidah dan pemikiran kaum muslim.
Tidak akan menggadaikan aqidah demi kepentingan ekonomi. Inilah Islam, mempunyai produk hukum yang paripurna dimana akan menghantarkan keberkahan dan kerahmatan dalam kehidupan manusia.