Kamis, 10 NOPEMBER 2022
Oleh: Hj.Padliyati Siregar ,ST
Konser Dendang Bergoyang' yang diselenggarakan di Istora Senayan, Jakarta Pusat dihentikan pada Sabtu, 29 Oktober 2022 malam karena over kapasitas. Panitia penyelenggara konser pun tengah diperiksa pihak kepolisian.
Saat ini masih diinterogasi, artinya masih dalam penyelidikan. Panitia dibawa ke Polres Jakarta Pusat. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Komarudin saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (30/10/2022).
Selain memeriksa panitia penyelenggara, Komarudin juga menyebut pihaknya tengah mendalami indikasi minuman keras (miras) di konser 'Berdendang Bergoyang' tersebut. Kasus masih di dalami, informasi yang didapat memang banyak sekali yang duduk di luar sambil minum.
Tapi belum diketahui itu miras atau tidak, ada indikasi.Untuk diketahui, jajaran Polres Metro Jakarta Pusat terpaksa menghentikan konser 'Berdendang Bergoyang' di Istora Senayan pada Sabtu, 29 Oktober 2022 malam. Konser tersebut dihentikan sekitar pukul 22.10 WIB karena penonton yang membludak.
Namun ini sungguh sangat di sayangkan, aparat pemerintah baru mempermasalahkan dan menghentikan acara ketika sudah nampak nyata adanya kekacauan.
Seharusnya aparat sudah bisa melakukan mitigasi acara, apalagi diketahui adanya penjualan tiket over kapasitas. Tambah lagi acara disertai dengan kemaksiatan (adanya minuman keras).
Sungguh sangat ironis, pemberian ijin untuk acara yang tak membawa manfaat terhadap pembentukan karakter generasi sebagai pilar peradaban cemerlang, menunjukkan pemerintah benar-benar tidak memiliki perhatian terhadap pembangunan manusia khusunya generasi muda.
Apalagi bila dibandingkan dengan pelarangan acara hijrah fest surabaya beberapa waktu yang lalu,banyak pihak yang ingin menghentikan acara tersebut, padahal banyak manfaat dan ilmu yang akan di berikan untuk meningkatkan keimanan dan tsaqofah para generasi muda.
Padahal kondisi para pemuda saat ini sangat lah mengkwatirkan dengan segudang persoalan yang belum bisa di selesaikan ,mulai dari persoalan HIV/AIDS dan bunuh diri, ragam kasus klitih, narkoba, pembunuhan, penyimpangan orientasi seksual, prostitusi daring, kecanduan gim daring, dan jutaan kasus lainnya, seharusnya membuat negara berpikir serius untuk memberikan solusi mendasar dan menyeluruh bagi problem generasi.
Kapitalisme Mengabaikan Nilai Ruhiah
Karakter dasar kapitalisme adalah rusak dan merusak. Daya rusak kapitalisme sekuler bersifat massal, bukan saja membunuh generasi dalam arti fisik, tetapi juga membunuh masa depan generasi. Sistem ini telah menjungkirbalikkan struktur bentukan manusia dan memorak-porandakan struktur sosial masyarakat.
Remaja berakal sehat haris sudah memahami bahwa minum miras dan ikhtilat adalah perbuatan haram. Namun, pada saat pikiran dipenuhi fantasi kenikmatan dunia akibat banyak mengakses berbagai media Barat, terutama media sosial, para remaja tidak berdaya menahan untuk ikut gaya hidup Barat dalam dirinya.
Akalnya sangat lemah dalam mengontrol perbuatannya untuk meninggalkan keharaman sekalipun tahu perbuatan itu terlarang. Pemahaman liberal dan HAM yang lahir dari sekularisme telah merusak pola pikir dan pola sikap yang membentuk kepribadian remaja ini.
Sekularisme kapitalisme hanya mengenalkan konsep bahwa kebahagiaan hidup adalah tercapainya kepuasan bersifat materi. Walhasil, generasi hanya mengejar kesenangan syahwat dunia dan meraih nilai materi (finansial) dalam hidup. Generasi tidak mengenal nilai maknawi tentang kehormatan dan kemuliaan seorang manusia.
Generasi juga gagal paham tentang nilai ruhiah bahwa ada perhitungan dosa dan pahala saat Hari Akhir kelak.
Islam Mengarahkan Potensi Kepemimpinan Pemuda
Pemuda merupakan fase untuk memberi dan mencurahkan segenap tenaga dan kemampuan untuk memikul segala beban. Oleh karena itu, pemikul panji-panji dakwah dan risalah sejak terbitnya fajrul Islam adalah para pemuda.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada (QS. al.Kahfi 13)
Islam memandang pemuda muslim sebagai orang yang memikul tugas berat dan kewajiban besar terhadap diri, agama, dan umatnya.
Suatu kewajiban yang akan menyingkap eksistensinya dan mengoptimalkan potensi dirinya. Syekh Al-Qaradhawi dalam Wajibu Syababul Muslimul Yaum (1988) menguraikan, ada empat amanah sebagai prioritas pemuda muslim bagi masa depan Islam, yakni (1) memahami Islam secara integral, (2) mengamalkan Islam, (3) mengajak orang lain berislam (berdakwah), dan (4) memiliki soliditas dan solidaritas.
Tuntutan Islam ini menjadi tanggung jawab negara Islam untuk mengoptimalkan potensi pemuda melalui pembangunan. Landasan pembangunan generasi akan bertumpu pada ideologi Islam, termasuk landasan dalam sistem pendidikan.
Output pendidikan Islam akan menghasilkan generasi berkepribadian Islam serta menguasai ilmu dan teknologi yang berguna bagi kehidupan.
Kehidupan Islam akan melahirkan generasi hebat serta mampu tampil menjadi pemimpin peradaban mulia.
Mereka tidak akan menyia-nyiakan masa mudanya dengan hanyut dalam kesenangan dunia yang semu. Rasulullah saw. telah memperingatkan, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, yaitu masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, keadaan kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum saat sibukmu, dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR Al-Baihaqi)
Dari rahim peradaban Islam lahirlah profil pemuda hebat. Sebut saja kisah Usamah bin Zaid pada usianya yang baru menginjak 18 tahun. Beliau diperintahkan oleh Rasulullah saw. menjadi pemimpin pasukan kaum muslim dalam penaklukan Syam.
Tentu kita juga tidak lupa kisah heroik sang penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih yang diangkat menjadi Sultan pada usianya yang masih belia.
Begitu pula kisah Zaid bin Tsabit, pada usianya yang baru 13 tahun sudah mampu berjihad dengan gagah berani. Beliau juga diperintahkan untuk mengumpulkan Al-Quran pada usia 21 tahun.
Itulah sebagian potret pemuda Islam yang telah berhasil menjadi teladan kepemimpinan bagi umat manusia hingga saat ini.