Banjir Makin Parah, Saatnya Muhasabah

Rabu, 12 OKTOBER 2022

Oleh: Izzah Saifanah

Banjir yang melanda sebagian wilayah Aceh Utara sejak Selasa (4/10) terus meluas. Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari mengatakan hingga Kamis sore sebanyak 18.160 warga terpaksa mengungsi. (Kumparan.com, 6/10)

IZZAH SAEFANAH

Para ahli menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan terjadinya bencana banjir, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, rusaknya hutan yang mengakibatkan hilangnya wilayah resapan air, pembangunan daerah pemukiman, hingga curah hujan yang tinggi.

Meski sudah dilanda banjir berulang kali, Indonesia belum mampu mengatasi banjir hingga kini. Berbagai upaya telah dilakukan seperti membuat bendungan dan kanal baru namun hal ini hanya bersifat merespon dampak banjir bukan menyelesaikan masalah banjir.

Banjir bisa terjadi karena curah hujan yang tinggi dan tidak terserapnya air oleh tanah.

Curah hujan merupakan siklus alami yang terjadi, untuk memodifikasinya, ia pun bisa direkayasa dengan teknologi. Sedangkan tidak terserapnya air oleh tanah merupakan akibat dari tidak adanya tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut.

Jenis tanaman yang ada pun mempengaruhi penyerapan air pada tanah tersebut. Faktanya, sebagian besar lahan daerah resapan ditutupi oleh aspal dan dialih fungsikan menjadi perumahan dan sebagainya. Hal ini tentu dipengaruhi oleh pemikiran yang hadir di tengah umat.

Berbagai keputusan diambil dan dibuat kebijakan yang berdasarkan pada materi, ada atau tidak keuntungan bagi pemerintah bukan lagi pada dampak yang ditimbulkannya bagi lingkungan.

Inilah azas manfaat yang terwujud akibat penerapan sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme membebaskan kepemilikan, lahan-lahan yang seharusnya berfungsi menjadi daerah resapan pun diubah demi keuntungan materi pengusaha dan penguasa.

Dalam Islam, bencana adalah sebuah ujian dari Allah. Maka seyogyanya kita bermuhasabah dan memperbaiki segala sesuatu yang menyalahi syariat, baik dari sisi individu, masyarakat hingga negara.

Seorang penguasa dalam Islam akan senantiasa bertanggungjawab terhadap amanahnya. Penguasa akan memastikan semua proyek pembangunan hanya untuk kepentingan dan kebaikan umat.

Mereka paham bahwa amanat yang mereka emban akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Saat terjadi bencana, penguasa terus berikhtiar menanggulangi dampak yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi.

Meminimalisir terjadinya kerusakan yang menyebabkan hilangnya nyawa, kerugian materil dan non materil lain sebagainya. Penguasa dalam Islam akan menjaga maqashid syari’ah agar tercipta kemaslahatan bagi umat.

Saatnya kita meninggalkan sistem kapitalisme yang datang dari manusia dan beralih kepada penerapan Islam yang kafah dalam seluruh kehidupan.