Selasa 11 OKTOBER 2022
Oleh: Nur Hayati, S. Pdi
Dilansir dari Katadata.co.id Banjir yang melanda sebagian wilayah Aceh Utara sejak Selasa lalu (4/10) terus meluas. Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari mengatakan hingga Kamis sore sebanyak 18.160 warga terpaksa mengungsi.
Menurut Ahmad warga yang terdiri dari 5.104 ke dataran tinggi yang tersebar di 28 titik. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Utara, Asnawi mengatakan meluasnya banjir dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Selain curah hujan tinggi yang masih sering terjadi, kondisi tanggul daerah aliran sungai (DAS) besar juga kehilangan kemampuan menampung debit air yang meningkat. Ditambah tanggul-tanggul sungai rendah dan banyak yang jebol, diperparah lagi oleh air yang datang dari hulu Takengon dan Bener Meriah, Kamis (6/10).
Asnawi menambahkan, sejauh ini banjir telah berdampak pada 22.535 jiwa yang tinggal di 95 kampung yang berada di 12 kecamatan. BPBD memperkirakan banjir masih berpotensi meluas. Melihat juga hasil dil apangan banjir diperkirakan bisa meluas sampai 14 kecamatan. Hasil kaji cepat yang dihimpun, sebanyak 6.775 unit rumah terdampak.
Sebanyak kurang lebih 500 hektar lahan persawahan terendam. Selain itu 4 kantor pemerintahan terendam termasuk 1 gedung fasilitas kesehatan dan 1 gedung sekolah. Saat ini, BPBD Kabupaten Aceh Utara bersama tim gabungan dari unsur TNI, Polri, instansi terkait dan relawan serta masyarakat terus melakukan koordinasi untuk percepatan penanganan banjir.
Di samping itu, tim gabungan juga terus menyisir beberapa lokasi untuk evakuasi. Tidak hanya di Aceh, hujan lebat dan banjir pun terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Berakibat munculnya korban jiwa.
Sebanyak tiga orang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19, Jakarta Selatan meninggal usai tembok sekolah mereka rubuh diterjang banjir.
Banjir terjadi karena luapan air saluran penghubung Pinang Kalijati yang berada di belakang sekolah. Kejadian tersebut terjadi pada Kamis (6/10) pukul 14.50 WIB.
Dikutip dari Antara bahwa terendam banjir 80 cm, Tol BSD kembali ditutup sore sedangkan dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI, sebanyak 270 warga di Jakarta Selatan terpaksa diungsikan ke tempat aman.
Ini karena 41 rukun tetangga (RT) terendam banjir. Bapak Isnawa Adji mengatakan ada 17 ruas jalan dan 41 RT yang terendam. Sedikitnya ada 270 jiwa diungsikan ke Masjid Al Mustaghfirin, Kelurahan Kalibata, Jakarta Selatan.
BPBD telah mengerahkan personel untuk memantau banjir di setiap wilayah dan menyedot genangan bersama lurah berserta camat.
Pekerjaan dilakukan bersama Dinas SDA, Dinas Bina Marga, hingga Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan. Sedangkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Ibu Kota masih akan diguyur hujan pada Jumat (7/10).
Hujan diprediksi terjadi dengan intensitas sedang hingga tinggi. Bencana banjir hampir selalu terjadi setiap tahun, di berbagai wilayah di Indonesia.
Namun nampaknya upaya antisipasi dan mitigasi bencana belum diperhatikan secara serius dan seksama, padahal peringatan BMKG terus diberikan. Hal ini menunjukkan ketidakseriusan penguasa dalam mengurusi rakyatnya.
Khususnya dalam mitigasi bencana yang rutin terjadi. Umat membutuhkan pemimpin yang mengurus kebutuhan rakyat dengan amanah dan melindungi rakyat dari segala aspek.
Umat membutuhkan seorang pemimpin yang menjadi periayah tapi juga pemimpin yang akan menerapkan sistem yang sesuai untuk masyarakat. Pastinya sistem itu yang datang dari pencipta manusia.
Bukan sistem yang tidak pro terhadap kemaslahatan umat. Pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman dan lebih serius dalam menangani persoalan banjir. Jika kita perhatikan dengan seksama, banjir menjadi fenomena yang dianggap biasa terjadi bahkan semakin parah setiap tahunnya.
Sayangnya, meskipun banjir sudah berulang kali melanda negeri ini namun bencana ini masih belum bisa teratasi hingga kini.
Oleh karena itu, untuk bisa menemukan solusi tuntas mengatasi fenomena banjir ini, kita harus menelaah terlebih dahulu apa saja yang bisa menyebabkan banjir. Banjir bisa terjadi karena curah hujan yang tinggi dan tidak terserapnya air oleh tanah dengan baik.
Curah hujan merupakan siklus alami, namun ia bisa dimodifikasi dan direkayasa dengan teknologi. Adapun tidak terserapnya air oleh tanah, hal ini diakibatkan karena sedikit bahkan tidak adanya tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut.
Selain itu, jenis tanaman yang tumbuh di tanah ikut mempengaruhi penyerapan air. Sayangnya, saat ini sebagian besar lahan yang digunakan sebagai daerah resapan justru dijadikan sebagai perumahan dan semakin banyak tanah yang tertutup semen atau aspal.
Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan turut andil menjadi penyebab banjir. Tak sedikit masyarakat yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Akibatnya, sungai menjadi penuh sesak dengan sampah dan meluap karena tidak mampu lagi menampung volume air hujan. Sungai pun yang sedianya membawa berkah dan manfaat, sering berubah menjadi malapetaka.
Buruknya sistem drainase dan umur bangunan pun menjadi penyebab terjadinya banjir. Infrastuktur yang telah melewati masa guna dan sistem konstruksi yang tidak memprediksikan percepatan volume aliran sungai yang melebihi batas normal menyebabkan air sungai meluap ketika musim penghujan dan merusak bangunan seperti saluran drainase, jembatan, serta waduk.
Semua itu terjadi karena sistem kapitalisme yang telah mempengaruhi pemikiran, baik masyarakat maupun pemerintah. Sistem kapitalisme yang meranggas jauh ke seluruh sendi-sendi kehidupan telah menumbuh suburkan prilaku konsumtif.
Meningkatnya taraf hidup masyarakat kelas menengah menaikkan tingkat konsumsi barang dan makanan. Gaya hidup masyakarat modern yang hedonis menimbulkan persoalan sampah semakin parah. Adapun pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan justru tidak berpihak pada pencegahan bencana banjir bahkan terkesan abai akan dampak yang ditimbulkan.
Kebijakan yang dibuat pemerintah lebih pada mempertimbangkan ada tidaknya pemasukan bagi kas negara bukan karena kondisi lingkungan. Padahal banjir sendiri tidak bisa dianggap remeh, sebab dampak yang ditimbulkan bisa merugikan masyarakat dan pemerintah sendiri. Bahkan bisa merenggut nyawa.
Inilah pemikiran kapitalis sekuler yang menjadikan manfaat sebagai standar perbuatan. Tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi. Sistem kapitalisme sekuler membebaskan kepemilikan, lahan-lahan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan pun malah dialihfungsikan demi keuntungan semata.
Berbeda hal nya dengan Islam. Islam sebagai agama yang sempurna serta sebagai ideologi yang di dalamnya memuat seperangkat aturan. Islam mampu memberikan solusi setiap problematika kehidupan, termasuk bagaimana mengatasi masalah banjir dan bencana lain.
Allah SWT berfirman: “Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia, Allah menghendaki supaya mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)
Mengenai ayat tersebut, sebagian manusia menafsirkan bahwa perbuatan manusia hanya terbatas pada sikap manusia yang tidak ramah terhadap alam. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa longsor, banjir, dan bencana alam lainnya disebabkan oleh sikap manusia yang tidak benar dalam mengelola lingkungan.
Padahal ada penyebab lain yang belum dipahami oleh masyarakat luas, yaitu perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia dan ketidakpatuhannya kepada Sang Pencipta seperti tidak menjadikan aturan Allah sebagai aturan hidup.
Sistem Islam memperhatikan kepentingan umat secara detail. Solusi Islam dalam upaya mengatasi banjir di antaranya dengan membangun sungai buatan dan kanal untuk mengurangi penumpukan volume air dan mengalihkan aliran air, membangun bendungan-bendungan untuk menampung tumpahan air hujan, air sungai, dan yang lainnya, membangun sumur-sumur resapan di daerah tertentu.
Memetakan daerah mana yang termasuk rawan banjir dan melarang penduduk mendirikan bangunan di daerah tersebut.
Selain itu, pembentukan badan khusus pun diperlukan untuk penanganan bencana alam, persiapan wilayah-wilayah tertentu untuk cagar alam.
Sosialisasi tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan kewajiban memelihara lingkungan, persyaratan tentang izin pendirian bangunan dan pembukaan pemukiman baru. Penyediaan daerah serapan air hujan, penggunaan tanah, dan sebagainya.
Tak hanya itu, sistem Islam pun memberikan solusi dalam menangani korban banjir. Seperti penyediaan tenda, makanan, obat-obatan dan pakaian, serta adanya keterlibatan masyarakat sekitar yang berada di dekat wilayah yang terkena bencana banjir.
Itulah berbagai solusi yang ditawarkan Islam dalam mengatasi permasalahan banjir. Hanya Islam yang memberi aturan secara sempurna dalam mengatasi berbagai problematika, termasuk banjir.
Oleh karena itu, sudah saatnya sistem Islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan agar keberkahan menaungi negeri ini. Wallahu a’lam bi ash-shawab