Minggu, 4 SEPTEMBER 2022
Oleh Dewi Soviariani
Ibu dan pemerhati umat
Para emak berkeluh kesah saat kenaikan harga telur membumbung tinggi, makanan lezat yang dulu harganya terjangkau itu kini menjadi mahal, akibat permainan pasar.
Dibeberapa daerah dikabarkan kenaikan harga telur kian hari kian tajam, bak teror yang menakuti, tak hanya ibu rumah tangga yang susah, para pelaku usaha kecil menengah yang usahanya berbahan baku telur merasakan ancaman yang nyata. Harga telur, naik dengan harga variatif.
Rata-rata nasional harganya Rp31.000/kg dan yang termahal di Papua, mencapai Rp54.000/kg. Menurut Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), harga telur saat ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah republik ini berdiri. (Kompas, 24/08/2022).
Kenaikan harga telur ini sendiri, menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) disebabkan oleh adanya Bantuan Sosial (Bansos). Permintaan telur ayam dari Kementerian Sosial untuk keperluan Bansos membuat demand akan telur ayam tinggi, sehingga berpengaruh pada kenaikan harga.
Berbeda dengan Zulhas, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkapkan jika kenaikan harga telur ayam disebabkan kenaikan harga pakan ternak. "Penyebab kenaikan harga telur lebih terindikasi karena harga pakan ternak yang naik, baik jagung maupun gandum," kata Bhima kepada Kompas.com, Jumat (26/8/2022).
Bhima menjelaskan bahwa harga jagung di pasar internasional telah melonjak 19 persen dibandingakan pada 2021. Namun, benarkah fakta yang terjadi demikian? Sementara itu para peternak telur tetap mengalami kerugian dan sebagian terpaksa gulung tikar.
Bukan membawa untung bagi peternak, justru malah bikin runyam perekonomian mereka. Seperti dituturkan oleh Eko Sugitno, peternak ayam petelur asal Desa Karangcengis, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah, mengungkapkan menurunnya produksi membuat persediaan telur di pasaran tak mampu memenuhi permintaan konsumen.
"Harga mahal itu terkait dengan populasi, suply and demand. Karena produksinya sedikit permintaanya banyak, otomatis harganya mahal," kata dia ketika ditemui di kandang ternaknya, Rabu 24 Agustus 2022.
Pada periode itu, para peternak rugi karena banyaknya pemodal besar yang mendadak membuka peternakan ayam petelur. Hal ini dipicu permintaan yang begitu tinggi seiring kebijakan pemerintah menggelontor bantuan sosial berupa bahan pangan.
Sayang, kebijakan bantuan sosial pangan ini tak berlanjut belakangan hari karena berbagai persoalan di lapangan. Padahal para peternak terlanjur menambah populasi ayam untuk memenuhi permintaan.
Puncaknya, terjadi over populasi. Produksi telur melimpah namun serapan minim. Para peternak akhirnya banting harga dan mengalami kerugian signifikan. Ini membuat sebagian peternak gulung tikar.
Pernyataan Mendag dan pejabat lainnya tentang kenaikan harga telur mencerminkan tiadanya empati pada kondisi rakyat dan kebutuhan mendesak rakyat terhadap telur. Dominasi pemodal besar/kapitalis local-multinasional dalam produksi pangan dari hulu hingga hilir telah berhasil mengendalikan harga pangan dasar bagi rakyat.
Lantas bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut karena berdampak besar bagi rakyat.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan bahwa kenaikan harga telur dapat membuat tingkat kemiskinan bertambah.
"Kemungkinan besar kekhawatiran soal harga telur lebih berkaitan dengan risiko bahan pangan penyumbang garis kemiskinan yang kontribusinya masuk 5 besar," kata Bhima.
Sumbangan telur ayam dalam garis kemiskinan bahkan mencapai 4,12 persen di perkotaan lebih tinggi dari mi instan dan bawang merah.
Oleh sebab itu, ketika harga telur mengalami kenaikan, maka garis kemiskinan akan lebih cepat naik. Melihat fakta ini, apa gerangan sebenarnya penyebab utama naiknya harga telur?
Solusi apa yang tepat harus diberikan untuk menyelesaikan dan mengantisipasi kondisi ini agar tak berulang. Rakyat sudah cukup lelah dan menderita menghadapi carut marut polemik permasalahan ekonomi, yang kian hari kian sulit untuk dihadapi.
Menurut Menkeu Sri Mulyani, hanya dua perusahaan di Indonesia yang menguasai industri unggas dari hulu ke hilir. Perusahaan integrator itu merupakan perusahaan peternakan unggas besar terintegrasi. Mereka menguasai mulai dari produksi, pakan, daily old chick (DOC), sapronak, budi daya ayam, budi daya telur, sampai produk olahan.
Wajar saja harga bisa dikendalikan dan peternak unggas kecil dirugikan. Seperti yang dikeluhkan para peternak ayam terkait harga pakan yang tinggi. Tentu ini sangat berpengaruh terhadap harga telur.
Pasalnya, peternak ayam layer (petelur) lebih banyak membutuhkan pakan dari pada peternak ayam pedaging (potong). Walhasil, kenaikan harga pakan sangat berdampak pada peternak layer. Sementara itu, bahan baku utama pakan ternak, yaitu jagung, sebagian besarnya diimpor.
Tentu harganya bisa dikendalikan importir. Belum lagi fakta bahwa hampir seluruh produksi jagung tanah air dikuasai oleh perusahaan integrator.
Jadilah harga pakan sangat tinggi. Sudahlah harga pakan tinggi, peternak pun harus membeli DOC dan sapronak yang mahal sebab semuanya dikuasai perusahaan besar. Ongkos produksi pun mahal. Inilah yang menyebabkan harga telur naik.
Dalam Kungkungan sistem kapitalisme, ekonomi yang berbasis neoliberalisme, pemilik modal, oligarki dan korporasi menjadi penguasa di lapangan. Sehingga kendali pasar ditangan mereka dan rakyat lah yang menerima deritanya, sementara pundi pundi rupiah mereka terus bertambah.
Permasalahan ini tidak akan menemukan jalan keluar, selama tetap mengadopsi kapitalisme sebagai aturan hidup. Maka perlu untuk mengambil sistem yang benar benar membawa solusi hakiki dan terbukti memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, Islam menawarkan solusi terbaik untuk mengatasi dan mengantisipasi problematika tersebut.
Islam mewajibkan negara menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan publik dengan menata secara fair/adil aktifitas produksi hingga distribusi oleh warga negara, dan membatasi keterlibatan aktor asing.
Dalam pengaturannya Islam memiliki strategi untuk menunjang kestabilan dan ketahanan pangan mulai dari produksi, distribusi, hingga impor, semua dikelola negara. Negara harus menjaga keseimbangan suplai dan demand (penawaran dan permintaan).
Penegakan hukum ekonomi Islam dan melarang atau menghilangkan semua distorsi pasar, seperti penimbunan, permainan harga oleh pedagang besar untuk merusak pasar; juga pelaksanaan fungsi kadi hisbah yang secara aktif dan efektif memonitor transaksi di pasar.
Keterlibatan dan ketergantungan asing dicegah dan diatur dengan tidak masuk dalam organisasi organisasi ekonomi dunia yang nyatanya merupakan jeratan mematikan yang dapat menghancurkan ekonomi dalam negeri.
Seperti keterlibatan bangsa ini dalam organisasi WTO yang akhirnya menjadikan impor sebagai ketergantungan pasar. Korporasi besar pegang kendali tak akan ditemui.
Pengurusan masalah umat dengan penerapan aturan Islam mencegah praktik curang spekulasi harga pasar oleh partai besar. Hanya penerapan Islam kaffah menjadi harapan satu-satunya untuk menyelesaikan naiknya harga telur yang terus menteror masyarakat.
Bahan pangan yang mudah didapat dan murah ini tetap menjadi asupan bergizi yang bisa dinikmati rakyat, ketika ekonomi Islam menjadi aturannya.
Makna keadilan sosial yang merata akan terwujud nyata, bukan sekedar janji manis belaka. Islam dengan sistematis memberikan solusi praktis yang merupakan petunjuk arah bagi setiap problematika manusia yang membawa kebaikan dunia dan akhirat, maka ia sangat layak dan darurat untuk diperjuangkan. Allahu A'lam bishshawwab