Jumat, 10 JUNI 2022
Oleh : Mutiara Aini
Masa remaja merupakan masa diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikisnya. Mereka mengalami proses penyesuaian terhadap lingkungan maupun diri sendiri.
Bahkan sangat rentan dengan keadaan lingkungan dan pergaulan. Pada masa inilah mereka sangat membutuhkan peran orang tua untuk dibimbing dan dibina supaya mereka memiliki berkepribadian yang mulia, sehingga para remaja tidak mudah terbawa arus sekularisasi dan liberalisasi yang tengah gencar menyasar generasi.
Saat ini perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi telah membawa arus perubahan. Seperti dalam bidang pendidikan, perdagangan hingga pemerintahanya.
Tak dapat dipungkiri, di era globalisasi ini, seiring perkembangannya teknologi yang berbasis digital application, sistem interaksi sosial di masyarakat perlahan mulai tergerus. Bahkan para remaja telah terkontaminasi dengan perkembangan zaman dan teknologi.
Perkembangan teknologi inipun ada yang berdampak positif dan ada pula yang menjadikan remaja menuju ke hal-hal negatif, sehingga tak jarang menyebabkan seorang remaja mengalami penurunan motivasi.
Tak hanya itu, faktor lingkungan pun sangat memengaruhi pembentukan kepribadian generasi. Rumah dan sekolah merupakan lingkungan tempat generasi menjalani kehidupan sosial mereka. Jika kedua lingkungan ini tidak mendukung, maka akan menyebabkan berbagai pengaruh negatif pada perkembangan anak-anak. Sejatinya, pendidikan adalah pilar peradaban.
Jika ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah sistem pendidikannya. Untuk kesekian kalinya, potret buram sistem pendidikan sekuler kembali tersaji. Konflik sosial remaja seperti tawuran terus berulang. Ada apa dengan sistem pendidikan di negeri ini?
Berulang kali ganti kurikulum dan ganti menteri pula, namun output generasi tidak kunjung mengalami perubahan berarti. Kurikulum yang diterapkan di tengah sistem sekuler saat ini, hanya akan melahirkan generasi yang abai terhadap aturan-aturan agama.
Selain itu, generasi cenderung pragmatis, mementingkan hedonisme, liberal, generasi yang rapuh dikarenakan terkikisnya akidah di tengah gempuran budaya asing dan aseng, serta lemah kala menghadapi ujian hidup.
Jika kenakalan remaja, ataupun tawuran sudah terjadi berkali-kali, fenomena tersebut bukan lagi kebetulan atau kesalahan individu, melainkan kesalahan sistemis yang harus ketemu akar permasalahannya.
Sehingga tidak muncul permasalahan lain yang akan menambah daftar panjang buramnya pendidikan di negeri ini. Generasi tidak mengalami kemerosotan moral, kehilangan jati diri, dan berkepribadian yang labil.
Pengaruh Sistem
Saat ini, sistem kehidupan sekuler telah mengikis identitas dan jati diri remaja sebagai hamba Allah.
Mereka memandang kehidupan seolah sebagai tempat untuk bersenang-senang. Bahkan akidah sekuler ini telah menjauhkan remaja dari aturan agama. Menjadikan mereka terombang-ambing dan terbawa arus.
Sehingga lahirlah remaja yang tak berakhlak, gemar bermaksiat, dan berperangai buruk. Akidah sekuler pun telah menghilangkan peran mereka sebagai pemuda. Meraka hanya tahu tentang eksistensi diri untuk meraih kepuasan materi. Namun jiwanya teracuni oleh pemikiran sekuler, batinnya kosong dari nilai Islam.
Maka tak heran banyak remaja yang frustrasi, gampang gundah, emosi tidak stabil, nirempati, hingga merasa insecure. Bahkan banyak remaja yang mengalami depresi hingga berakhir bunuh diri, naudzubillah.
Islam sebagai agama yang paripurna telah memberikan solusi agar keluarga memiliki pola asuh yang baik dengan mengikuti pendidikan ala Rasulullah saw.. Sehingga mewujudkan lingkungan yang baik, erat kaitannya dengan sistem kehidupan yang berlaku di dalam masyarakat.
Menjadikan akidah Islam sebagai sudut pandang bagi remaja dalam memandang berbagai problematika kehidupan. Begitu juga persoalan adab dan keterikatan dengan berbagai aturan Islam yang merupakan hal sangat penting bagi tujuan hidup remaja muslim.
Karena anak remaja adalah aset sekaligus investasi kedua orang tuanya. Mereka juga aset berharga bagi umat dan generasi Islam selanjutnya.
Islam Solusi Hakiki
Sistem Islam menaruh perhatian yang sangat besar pada kehidupan remaja. Hal ini dapat dilihat dari hasil pendidikan pada masa kejayaan Islam. Kala itu banyak prestasi membanggakan yang diukir oleh para pemudanya, seperti Abdurrahman an-Nashir dari Kekhalifahan Bani Umayyah yang menjadi pemimpin pada usia 22 tahun.
Di bidang militer dan pemerintahan, sosok Muhammad al-Fatih, Umar bin Abdul al-Aziz, dan Salahuddin al-Ayyubi menjadi perhatian dunia karena keistimewaan mereka pada usia muda Pendidikan berbasis sistem Islam memadukan tiga peran sentral yang berpengaruh pada proses perkembangan generasi, yaitu keluarga, masyarakat, dan yang paling penting adalah negara.
Negara wajib menyediakan layanan pendidikan, mulai dari kurikulum berbasis akidah Islam hingga sarana yang memadai. Negara wajib melakukan kontrol sosial dengan melakukan pengawasan atas penyelenggaraan sistem Islam secara menyeluruh.
Inilah solusi hakiki yang dinanti untuk menyelesaikan segala problematika kehidupan remaja masa kini. Kedatangannya sudah pasti melalui kabar baik dari Rasululullah. Sebagai remaja Muslim kita tinggal pilih, mau menjadi ‘penonton’ semata, atau ikut serta mewujudkannya melalui dakwah Islam kafah?
Sejatinya, para pemuda dalam sistem kehidupan Islam merupakan aset negara pengisi peradaban, bukan sampah peradaban akibat efek buruk sistem kapitalisme pada mereka. Wallahu àlam bisshowwab